Batam

Sekolah Favorit Terbentuk dari Siswa Berprestasi

Kepsek SMAN 5, Bahtiar. (Posmetro.co/jho)

BATAM, POSMETRO.CO: Tiap ajaran baru, pasti ada kendala di dunia pendidikan. Hal ini karena Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu membeludak hingga melebihi kuota di tingkat SD, SMP dan SMA.

Faktor lainnya adalah, calon siswa memaksakan diri untuk melanjutkan pendidik di sekolah favorit. Padahal siswa tersebut sudah ditolak dan sudah diterima mendaftar di sekolah lain.

“Di sinilah kami merasa dilema. Banyak calon siswa yang memaksakan diri untuk masuk ke SMAN 5, padahal dirinya sudah ditolak dan sudah diterima di sekolah lain,” ucap Bahtiar, Kepsek SMAN 5 Batam, Sagulung.

Bahtiah mengakui, di wilayah Batuaji dan Sagulung, SMAN 5 masih menjadi pilihan utama calon siswa. PPDB tahun ini ada sebanyak 1.673 calon siswa yang mendaftar, dan data yang berhasil diverifikasi sebanyak 800 siswa.

“Padahal daya tampung hanya 360 siswa saja. Sekitar seribuan calon siswa lagi terpaksa mencari sekolah lain,” tegasnya.

Menurut Bahtiar, calon siswa jangan lagi memaksakan diri untuk sekolah di SMA favorit. Sebab SMA favorit itu terbentuk dari siswanya sendiri. Sedangkan guru pengajarnya sama semua di tingkat SMA.

“Gurunya sama-sama dari sarjana. Metode belajar juga sama,” terangnya.

Untuk membentuk sekolah favorit, sebut Bahtiar, maka para siswa harus terus belajar dan mengukir prestasi. Dan jika sudah banyak siswa yang berprestasi, maka otomatis sekolah tersebut akan menjadi favorit.

“Yang membuat sekolah itu menjadi favorit adalah siswa yang belajar di sekolah itu, jadi teruslah belajar dan mengukir prestasi,” tutupnya.

SM, calon siswa yang ditemui di SMAN 5 mengaku sudah diterima sekolah di SMA lain, juga di wilayah Sagulung. Namun ia masih saja memaksakan diri untuk bersekolah di SMAN 5, dengan alasan letak sekolah sangat strategis.

“Sejak duduk di bangku SMP, sudah menjadi impian saya sekolah di SMAN 5,” ucapnya.

SM melanjutkan, saat PPDB ia sudah ditolak. Hingga akhirnya, ia mendaftar di sekolah lain yang masih satu kecamatan dengan SMAN 5, tapi ia masih sangat berharap agar dirinya diterima di SMAN tersebut.

“Saya dapat informasi ada penambahan siswa dan ruang kelas baru di sekolah ini, makanya saya kembali datang,” tutupnya.

Seperti yang diketahui, Senin (13/7) siang, orang tua siswa yang anaknya ditolak di SMAN 5 sudah melakukan tatap muka dengan Gubernur Kepri, Isdianto. Hasil pertemuan itu, sebanyak 150 siswa yang sebelumnya ditolak kembali diterima dengan syarat siswa itu masih masuk zonasi SMAN 5.(jho)