Batam

Ketua INSA Batam : Dunia Maritim Batam Seharusnya Tidak Menangis

Osman Hasyom saat memimpin rapat dengan pengurus dan anggota INSA, Jumat (14/2) di Hotel Hotel Travelodge.

BATAM, POSMETRO.CO : Batam seharusnya tidak menangis, saat ekonomi global turun seharusnya Batam tempat berkumpulnya kapal. Dan saat ekonomi dunia bergerak, Batam juga makin bergerak. Tapi yang terjadi saat ini Batam mulai ditinggalkan orang.

Hal itu dikatakan oleh Ketua Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Batam, Osman Hasyim, pada saat rapat dengan puluhan anggotanya di restoran Hotel Travelodge, Jumat (14/2) pagi.

”Kenapa ditinggal orang, karena kebijakan yang dibuat kontraproduktif, untuk itu industri seperti yang kita jalankan harus segera diselamatkan. Karena industri perkapalan ini sangat banyak menyerap tenaga kerja,” terang Osman.

Menurutnya, satu kapal yang masuk saja ke Batam bisa membawa uang ratusan juta Rupiah. Seperti kapal minyak, dan itu baru satu kapal minyak saja.

”Belum lagi yang berhubungan dengan masalah minum, rokok, kebutuhan intrumentasi, mekanikal, dan berbagai hal lainnya. Coba bayangkan jika ada seribu kapal, sudah berapa perputaran uang yang ada di Batam,” jelas Osman.

Dengan banyaknya perputaran uang tersebut, otomatis bisa menghidupkan pengusaha hotel, kuliner dan transportasi. Dan tentunya rakyat yang mendapat manfaat.

”Jangan anggap remeh industri maritim ini. Karena itu kita harus tetap semangat, bersatu, dan semua ini untuk kepentingan Batam,” kata pria asli Belakangpadang ini.

Pernyataan Osman ini disampaikan kepada anggota pengusaha kapal yang tergabung di INSA. Ia juga menyebutkan pertemuan ini untuk menyerap persoalan terkini yang dialami anggota, dan dirasa cukup mengkhawatirkan.

”Kita ingin Batam lebih maju di saat seperti ini, apalagi sekarang juga tidak ada titik terang akan ada pertumbuhan di bidang maritim dan pelayaran di Batam,” ungkap Osman pada media usai rapat.

Disebutkan Osman, Padahal Batam sendiri sudah memiliki infrastruktur dan tenaga yang cukup mumpuni. Infrastruktur yang dimiliki adalah shipyard-shipyard yang jumlahnya ratusan, serta tenaga terampil di berbagai bidang untuk maritim.

”Dengan modal itu harusnya mampu memberikan pelayanan yang lebih untuk pelayaran dalam negeri dan luar negeri. Apalagi shipyard adalah industri sangat padat karya. Dan kepentingan INSA dalam hal ini menjamin agar kapal di luar Batam baik nasional atau internasional, mau melakukan kegiatan di Batam,” jelas Osman panjang lebar.

Karena itu menurutnya, kepastian hukum sangat diharapkan dalam hal ini, pelayanan yang prima serta tingkat keamanan dan kenyamanan juga harga harus bersaing.

Parahnya kata Osman, seperti sekarang ada pungutan yang tiba-tiba diperbolehkan dan tiba-tiba juga tak boleh. Bagaimana pelayanan pelabuhan seperti itu, kenapa membuat kebijakan seperti itu, dan definisi peraturan juga tidak menentu.

”Dan disinilah salah satu tugas kami di INSA untuk mengawasi, jika dipaksakan seperti ini, indutri maritim Batam akan runtuh. Untuk itu Kepala BP Batam yang baru dengan pola penyelenggaraan pemerintahan BP Batam dengan memberikan kewenangan pada deputi-deputi, harus sensitif terhadap ini. Semua kritikan yang kami sampaikan tidak semua buruk, minimal didengarkan, dirangkum dan dicek di lapangan.”

Karena itu juga menurut Osman, terbukti dan sejauh ini BP Batam tidak memberikan dampak yang berarti. Dan menurutnya hal itu disebabkan karena kebijakan yang salah.

”Dengan permasalahan yang tak jelas ini dan membuat tidak adanya kepastian hukum, INSA akan melakukan beberapa langkah diantaranya akan melakukan sharing dengan BP Batam dalam beberapa hari ke depan, jika tidak mendapatkan hasil kami akan mempertanyakan lewat ombusment, dan langkah terakhir adalah melakukan upaya hukum agar kepastian hukum juga jelas,” tutup Osman. (dye)