Lingga

LAM Seragamkan Adat Istiadat Melayu hingga Tingkat Desa

Dato H. Nadar Ali menunjukkan serta menseragamkan tata cara adat istiadat perkawinan Melayu Bunda Tanah Melayu. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau Kabupaten Lingga terus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman seluruh pengurus LAM yang di mulai dari tingkat desa, di Gedung LAM di Daik Lingga, Minggu (8/12).

Kali ini, LAM Kepri Kabupaten Lingga sosialisasikan pengatur adat, supaya ada keseragaman adat istiadat Melayu Kabupaten Lingga Bunda Tanah Melayu, yang di mulai dari akar rumput (tingkat desa).

Ketua LAM Kepri Kabupaten Lingga, Dato Sri H. Muhammad Ishak menuturkan, kalau semua itu di awali dari semangat bersama ingin
menjaga adat dengan terus sambil belajar dan bepaham-paham dengan pemangku adat.

Dia juga mengaku, pengurus LAM Kabupaten Lingga bukanlah pandai semua, tapi ingin belajar dan memggali ilmu bersama, pihaknya sudah mendatangkan para ahli baik dari dalam maupun luar negera.

“Disini kita saling mengisi dan memberi. LAM sendiri punya niat dan ikhtiar untuk terus komit membuat program yang bersentuhan langsung dengan pelestarian Adat dan Budaya Melayu,” ungkapnya.

Datok Sri terus mendorong agar Kades/Lurah, Camat untuk ikut bersama-sama mendorong terbentuknya LAM. Agar pembentukan itu di buat, LAM Lingga sudah bersurat melalui matlamat kepada Bupati supaya di percepat.

Dia juga mengaku, kalau dia sengaja memakai Baju Kurung Teluk Belange untuk membuka acara, sebab dia ingin menunjukkan agar kedepan masyarakat Lingga bersemangat memakai baju Teluk Belange.

“LAM akan memberi rekomendasi agar Pemkab Lingga mengeluarkan edaran agar seluruh PNS memakai baju kurung teluk belange di hari Jumat, kecuali pada acara adat dan budaya,” papanya akan meminta.

Katanya lagi, ide kegiatan pelatihan pengatur adat yang mereka buat berawal dari diskusi panjang temuan-temuan di lapangan, saat menjelang akad nikah, ternyata ada syarat hantaran yang kurang. Tentu hal itu membuat kacau acara. Apalagi kalau kejadian ini disaksikan oleh orang yang ingin sekali melihat bagaimana tata cara Adat Melayu dalam perkawinan.

“Saya akan berkomunikasi dengan Kepala Desa agar setiap desa kedepan mempunyai Peterakne (tempat duduk pengantin dan kelengkapan) supaya pada acara akad nikah masyarakat kita yang kurang mampu dapat terbantu. Artinya, LAM bukan membuat saingan usaha wedding organiser, tetapi ingin membantu bagi keluarga yang kurang mampu,” ucapnya berkeinginan.

Bagi mereka yang mampu silakan, Dato Sri hanya ingin Tepuk Tepung Tawar dilakukan di depan Peterakne, bukan di pelaminan modern. Pengennya dia kearah itu, tapi silakan yang ingin pesta menggunakan Peterakne dan pelaminan modern.

“Saya berharap adat dan budaya ini betul-betul terjaga dan berkembang di kampung kita. Jangan hanya saat nikah orang ingat dengan Kades dan KUA, tetapi pengatur adat yaitu orang LAM desa juga dilibatkan. Syaratnya, tentu pengurus LAM yang mengerti dan paham adat, makanya pengurus LAM harus terus meningkatkan kapasitas keilmuannya dalam adat istiadat dan budaya,” tukasnya berpesan.

Sosialisasi pengatur adat dipandu langsung oleh Datok H.Nadar dan Datok Lazuardy Oesman. Peserta yang hadir berasal dari LAM Kecamatan desa dan kelurahan yang sudah terbentuk.(mrs)