Batam

Belajar Tatap Muka Belum Bisa, Siswa Jangan Putus Asa

Kenzie salah seorang murid SD swasta mengikuti pelajaran online.

BATAM, POSMETRO.CO : Sudah tujuh bulan pelajar Batam belajar dari rumah. Ini berlaku bagi siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Sebab, Dinas Pendidikan Batam belum berani mengambil kebijakan memulai belajar tatap muka, karena Batam masih masuk zona merah.

“Saya nyerah. Tak bisa jadi guru. Semoga kondisi di Batam makin membaik, anak-anak kembali boleh sekolah,” kata Dina (35), seorang warga Batam. Sebagai ibu rumah tangga, Dina merasa tak punya kapasitas mendampingi anaknya belajar di rumah. Apalagi, tugasnya sebagai ibu rumah tangga juga menumpuk. “Lagian, saya memang tak punya pengetahuan lebih tentang pelajaran anak saya,” akunya.

Dina tak sendiri. Banyak orangtua merasakan hal serupa. Walau memiliki titel sarjana, namun belum bisa dipastikan mampu mendampingi anaknya belajar selama Pandemi Covid-19 ini.

“Sekarang, saya tak terlalu peduli dengan pelajaran anak-anak. Yang saya pikirkan sekarang, gimana caranya anak-anak tidak stres,” kata seorang karyawati perusahaan swasta pada POSMETRO. Ia juga mengaku tak bisa mendampingi anaknya saat belajar online di siang hari. “Saya dan suami, kan, kerja,” katanya.

Beberapa siswa, terutama di tingkat SMP memiliki cara tersendiri agar tidak terlalu stres belajar online. “Kelas online tetap saya ikuti,” kata Danang, seorang siswa SMP di Batam. Tugas sekolah yang seabrek juga dikerjakan.

“Setelah kelas online selesai, biasanya saya langsung olahraga ringan di rumah. Seperti push up dan sit up,” kata Danang.

Setelah itu, Danang berusaha mengerjakan tugas yang diberikan sekolah. Pada sore hari, Danang rutin jogging.

“Saya hobi berolahraga, jadi bukan sebuah beban jika saya punya jadwal olahraga teratur,” kata dia. Hasilnya, ia merasakan tubuhnya selalu bugar.

“Saat pandemi Covid-19 saat ini, saya berusaha mengajak teman-teman rutin berolahraga untuk meningkatkan imun tubuh,” ujarnya.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Erry Syahrial mengakui, saat ini memang banyak ditemui orangtua yang mulai stres menghadapi pandemi. Terutama bagi seorang ibu yang juga mendapingi anaknya belajar Daring. Erry menyebut, bersama KPAI, KPPAD Kepri melakukan survei kepada 2000 sampel di Kepri.

“Hasilnya, kekerasan terhadap anak meningkat,” kata dia. Memang, kasus tak berlanjut ke polisi.

Sebab, kekerasan itu belum ‘merangkak’ ke arah kekerasan fisik. “Rata-rata kekerasan dalam bentuk ucapan,” katanya.

Penyebabnya, kata Erry, orang tua tidak sabar menghadapi kondisi saat ini. “Apalagi keadaan ekonomi juga lagi susah,” ujarnya. Banyak otangtua meminta sekolah tatap muka segera dimulai secepatnya. Namun, Erry mengingatkan, Covid-19 masih mengancam jika ada kerumunan.

“Jika sekolah tatap muka dipaksakan dalam situasi saat ini, dikhawatirkan akan menambah klaster baru,” kata dia. Apalagi di usia anak, khususnya di tingkat sekolah dasar, kata Erry, akan susah menerapkan protokol kesehatan.

Agar proses belajar Daring tetap menyenangkan, Erry menyebut, orang tua harus mengambil sisi positifnya.

“Salah satunya, waktu bersama anak lebih banyak,” kata dia. Mempererat ikatan keluarga. Kebersamaan, kata dia, juga akan menciptakan perilaku yang positif.

Erry berharap, jika orang tua bisa menciptakan suasana yang indah dalam keluarga saat pandemi ini, tentunya hal ini akan menjadi kenangan terindah bagi anak di masa mendatang. Erry berpesan, orang tua dan pelajar jangan putus asa menghadapi kondisi saat ini.

Di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), beberapa kota/kabupaten sudah mulai melakukan uji coba sekolah tatap muka tingkat SD-SMP, di antaranya: Tanjungpinang, Lingga dan Natuna.

Hanya saja, beberapa hari digelar, sekolah kembali diliburkan. Di Natuna, misalnya. Siswa kembali harus belajar online terhitung 21-31 Oktober mendatang. Kebijakan berikutnya akan disesuaikan dengan situasi Covid-19 di daerah setempat.(chi)