Batam

Pedagang: Sulit Cari Uang Gegara Corona, Gas 3 Kilo Pun Langka

Warga saat mau membeli gas LPJ yang langka. Foto: jho

BATAM, POSMETRO.CO: Sukatmi, pemilik warung nasi di kawasan Kampung Bintang, Tanjunguncang, Batuaji mengeluh. Pasalnya gas yang ia gunakan tiap hari untuk memasak sudah langka. Ia pun harus keliling hingga ke kawasan Fanindo.

“Harganya naik jadi Rp 20 ribu per tabung. Ada juga yang Rp 25 ribu. Itupun syukur-syukur dapat stok gas,” ungkapnya.

Sukatmi mengaku, satu tabung gas 3 kg akan habis dalam waktu 2 hari. Sebab tiap hari ia harus memasak nasi untuk dijual.

“Jika tabung gas tinggal satu lagi, saya sudah khwatir, sebab akan berdampak pada mata pencaharian saya. Apalagi saat ini masih sulit-sulitnya cari uang gara-gara corona,” tutupnya.

Yanto, pemilik pangkalan Gas di RW 16 Kampung Bintang, Tanjunguncang mengakui sulitnya mendapatkan pasokan gas. Dulunya, ia masih bisa dapat stok 60 tabung, tapi sekarang hanya 50 tabung saja.

“Dalam satu minggu, gas akan datang 3 kali. Tapi tak sampai 1 hari gas itu akan habis,” sebutnya.

Yanto melanjutkan, krisisnya gas melon ini membuat masyarakat geram. Bahkan tak sedikit warga di Kampung Bintang ribut karena rebutan.

“Kalau ribut, pasti adalah, cuman tak sampai adu fisik,” ungkapnya saat kepada POSMETRO.CO, Kamis (1/10).

Yanto menjelaskan, keributan ini karena pemilik pangkalan gas mengambil kebijakan dengan cara memberlakukan sistim rolling. Artinya, warga yang membeli gas di hari Senin tidak bisa lagi beli gas di hari Rabunya.

“Gas datang setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Nah, jika sudah beli gas di hari Senin, maka tak bisa lagi beli gas di hari Rabu. Kita juga melakukan pendataan kepada setiap pembeli gas,” tuturnya.

Tak hanya itu saja, warga juga tidak bisa beli gas lebih dari satu tabung. Padahal, banyak warga yang berdomisili di kawasan Kampung Bintang yang bekerja berjualan makanan, sehingga gas ini menjadi kebutuhan pokok bagi mereka.

“Di kawasan RW 16 hanya dua pangkalan gas. Satu lagi berada di Mitra Marina Mas. Namun di RW 16 hanya sedikit perumahan, yang paling banyak Ruli,” tuturnya.

Untuk mengakali kelangkaan gas ini, Yanto ingin mencoba jualan gas warna pink ukuran 5,5 kg. Tapi menurutnya, gas berwarna pink ini kurang diminati warga karena memang harganya mahal dibanding gas warna melon.

“Jika memang warga ingin beralih ke gas ping, maka kelangkaan gas ini bisa diatasi, sebab gas pink bisa cepat didapat, cuman harganya non subsidi,” tutupnya.(jho)