Batam

Penumpang di Pelabuhan Sepi, Penghasilan Sopir Taksi Turun Drastis

Salah satu taksi di Pelabuhan Sekupang saat ngetem. (Posmetro.co/jho)

BATAM, POSMETRO.CO: Dampak wabah Covid-19 ini, sangat dirasakan para sopir taksi. Karena sejak dunia dilanda Covid-19, penghasilannya terus menurun.

Uda, driver Batam taksi mengatakan, di tengah pandemi Covid-19 ini, penghasilannya dari menambang sudah tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya lagi. Meski begitu ia hanya bisa bersabar, meski belum diketahui sampai kapan virus corona itu akan berakhir.

“Sakit memang pak di tengah pandemi Covid-19 ini, tapi tidak banyak yang bisa saya lakukan,” terangnya.

Menurut pria yang sudah lanjut usia ini, ia sering mangkal di Pelabuhan Sekupang. Di sana, ada 200 taksi yang antri untuk menunggu penumpang kapal.

“Dalam satu hari, taksi yang bisa mendapatkan antrian hanya 20 saja, atau lebih kencang 30. Nah, 170 taksi lagi harus bersabar dan menunggu antrian besok harinya,” tegasnya.

Dengan demikian ratusan driver itu tidak dapat penghasilan, sehingga memilih pulang. Jika harus mencari penumpang dengan cara berkeliling, maka akan menambah pengeluaran biaya bahan bakar. Karena mencari penumpang cukup susah.

“Sangat jarang dapat penumpang di luar pelabuhan. Apalagi saingan driver sangat banyak, termasuk driver online,” tuturnya.

Uda melanjutkan, para driver yang tidak dapat antrian memilih berdiam di rumah. Nanti, bila sudah masuk antriannya, maka akan pergi antri di pangkalan.

“Contoh, drivernya tinggal di Batuaji. Tiba di pelabuhan, ia tidak dapat antrian. Ia sama halnya bakar minyak. Solusinya lebih baik di rumah dan besoknya tinggal melanjutkan antrian,” tegasnya.

Uda menuturkan, rata-rata draiver di Pelabuhan Sekupang sudah punya mobil taksi sendiri. Bagi yang masih menyewa maka, harus memikirkan uang setoran.

“Kalau masih nyewa, mending tak usahlah (jadi sopir taksi), itu hanya memberatkan diri saja. Beda pada tahun sebelumnya, dalam satu hari antrian masih tembus 200, bahkan lebih,” ucapnya.

Uda menjelaskan, meski pendapatannya berkurang, ia tetap memilih bertahan hidup di Batam. Namun ia terus berharap pandemi Covid-19 ini cepat berlalu, dan semua aktifitas berjalan normal, termasuk penumpang di Pelabuhan ramai kembali.

“Pahit rasanya bang. Untunglah istri pandai ngatur duit, ia buka usaha kecil-kecilan di rumah. Jika cuman saya yang kerja, maka sudah dari dulu kami pulang kampung,” ucap ayah 4 orang anak ini.

Terakhirnya, Uda menyampaikan di tengah pandemi Covid-19, banyak juga pengeluaran yang tak terduga. Salah satunya, biaya perawatan kendaraan yang dipakainya untuk mencari nafkah.

“Di luar dugaan, kadang ada ada saja biaya untuk perbaikan taksi ini,” tutupnya.(jho)