Batam

Goresan Sejarah Baru Putra Nias di Batam

Utusan Sarumaha SH Anggota DPRD Kota Batam Periode 2019-2024

Utusan Sarumaha SH bersama anak dan istri.

PELANTIKAN Anggota DPRD Kota Batam untuk periode 2019-2024 pada Kamis (29/8) lalu, membuat catatan sejarah baru bagi masyarakat Nias yang ada di Batam dan Kepri.
Salah satu tokoh muda masyarakat Nias di Batam yang juga pengurus Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (Himni) Provinsi Kepri, Utusan Sarumaha SH dilantik menjadi Anggota DPRD Kota Batam.

Pelantikan ini menjadikan Utusan sebagai masyarakat Nias pertama yang lolos murni menjadi Anggota DPRD Kota Batam. Sebelumnya memang ada, tetapi hanya sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW).

Banyak hal yang akan dilakukan Utusan sebagai anggota DPRD terpilih dari Partai Hanura ini, untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan Kota Batam.

“Salah satunya yang akan menjadi fokus saya adalah mengenai perda-perda yang ada. Dan jika nantinya ada perda yang dianggap kurang harmonisasi dengan perda lain, maka fraksi Hanura siap mengusulkannya agar dilakukan evaluasi,” kata suami dari Rotua Rosdiana Manurung dan Ayah dari Fakta Lawyer Sarumaha dan Dewan Gagas Sarumaha ini.

Sebelum bercerita banyak mengenai apa yang akan dilakukannya sebagai anggota dewan nantinya, pada POSMETRO, Utusan bercerita bagaimana awal tertariknya ia pada politik disela kesibukannya sebagai pengacara.

”Pada 2018 lalu, saya memang sudah mulai memetakan peluang saya ke partai mana yang akan jadikan perahu untuk sampai ke titik duduk di legislatif, dan akhirnya saya memantapkan diri bergabung dengan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) untuk bertarung di Dapil IV Kota Batam,” jelas Utusan yang juga merupakan Sekretaris dari DPC Kongres Advokad Indonesia (KAI) Kota Batam.

Menurutnya, ada dua motivasi yang mendorongnya berkiprah di dunia politik praktis. Pertama tugas kelembagaan, yang mungkin mampu menjawab permasalahan dan aspirasi masyarakat yang mungkin tidak terpikir dan diabaikan pemerintah.

”Tugas itu bisa kita implementasikan dalam bentuk tugas legislator dalam pembentukan peraturan daerah (perda), fungsi pengawasan, dan fungsi penyusunan anggaran,” ungkap pria yang dulunya dikenal rambut bergaya kuncir panjang di belakang. Tetapi karena ada nazar bila terpilih menjadi anggota dewan, ia akan memotong kuncir rambutnya, saat ini ia terlihat memotong rapi rambutnya.

Dilanjutkannya, ada kebutuhan-kebuthan tertentu yang tak bisa diakomodir karena tidak ada dewan yang menyarakan tentang hal itu.

”Kalau dilihat secara normal memang fungsi tersebut sudah berjalan, tetapi harus dioptimalkan lagi,” jelasnya.

Yang kedua menjadi motivasinya bergelut di dunia politik adalah, motivasi sosial. Karena menurutnya, jika menjadi anggota legislatif, banyak aspirasi yang dititipkan kepadanya dari masyarakat.

”Tentunya kita harus bertanggungjawab untuk menjawab tugas itu. Selanjutnya menjadi dewan ini akan membuat kita lebih erat hubungannya dengan masyarakat, karena kita dipilih oleh masyarakat, jadi harus mempunyai tanggungjawab moral membangun persahabatan, membangun persaudaraan, dan membangun silaturahmi yang berkelanjutan, sehingga kedepan jika Sang Pencipta izinkan lagi untuk bertarung kita lebih mudah melaluinya,” tambah Utusan.

Disebutkan juga olehnya, Lembaga DPRD ini adalah lembaga terhormat. Tetntunya anggota lembaga ini harus aplikasikan dalam membentuk tugas dan wewenang kita.

”Sehingga status dan label dewan terhormat itu tidak hanya sebagai teori, tetapi manfaatnya betul-betul dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.
Tetapi menurutnya, karena dirinya adalah anggota dewan yang baru, harus melewati masa orientasi. Tetapi setelah masa orientasi selesai, kita harus bisa mengidentifikasi masalah apa yang selama ini belum terselesaikan dengan baik.

”Setelah melakukan identifikasi, maka kita harus melakukan eksekusi.Artinya kita harus bekerjasama dengan anggota lain untuk mencari solusi dari masalah itu,” terangnya.
Untuk masalah di daerah pemilihannya seperti di Sagulung, menurut Utusan yang akan dilakukannya adalah memaksimalkan pembangunan daerah. Sepertinya banyaknya kavling-kavling di sekitar Dapur 12 yang belum tersentuh semenisasi, serta permasalahan sosial lainnya.

”Sedangkan untuk Batam sendiri, masalah yang harus diselesaikan secepatnya adalah masalah klasik seperti pendidikan. Mulai dari masalah penerimaan siswa baru, pembangunan sekolah dan permasalahan lainnya. Masalah ini harus bekerjasama dengan pihak eksekutif, sehingga masalah ini bisa diselesaikan secara permanen,” katanya.

Selanjutnya adalah masalah banjir yang belum terselseaikan dibeberapa kawasan tertentu, harus segera dicarikan penyelesaian sehingga tak menimbulkan persoalan lain. Dan Batam tetap menjadi kota yang menarik untuk daerah-daerah lain.

”Dan saya sangat percaya semua persoalan akan bisa terselesaikan kalau kita bekerjasama, kalau melihat persoalan itu sebagai konteks bersama bukan secara pribadi dan golongan,” jelas Utusan.

Dan terakhir dalam perbincangan dengan Utusan Sarumaha beberapa waktu lalu, sebagai pembuat sejarah bahwa dirinya putra Nias pertama yang bisa duduk sebagai anggota legislatif, dirinya mengaku sangat bangga namun tak perlu jumawa.

”Saya saat ini tidak hanya sebagai milik masyarakat dapil saya di Sagulung yang memberikan dukungan, tetapi sudah menjadi milik masyarkat Kota Batam. Sebagai putra Nias yang ada di Batam saya sangat bersykur sekali bisa diberikan kepercayaan ini. Batam sudah menjadi kampung halaman sendiri bagi saya karena anak-anak saya lahir disini. Sudah seharusnya saya dan masyarkat Nias lain bisa memberikan kontribusi untuk pembangunan Kota Batam ini. Harapan saya, jika saat ini masyarakat Nias hanya memberikan satu kursi untuk tahun depan bisa memberikan lebih banyak kursi, agar bisa lebih lagi berkontribusi ke daerah Batam yang kita cintai ini,” tutup Utusan Sarumaha.

Untuk diketahui, saat ini dalam Himni yang disebut sebagai rumah besar masyarakat Nias, meski data belum valid seluruh masyarakat Nias yang ada di Kepri berjumlah 13 ribu orang, dan untuk Batam sendiri berada di angka 7 sampai 10 ribu orang. (dye)