Lingga

Permainan Gasing Dilestarikan, Anak SD Bisa Ikut Turnamen

Anak-anak SD menunjukkan kepiawaiannya memainkan gasing. (posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Sempena HUT Kemerdekaan RI ke-74, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Kabupaten Lingga bersama Pengurus Persatuan Permainan Rakyat Tradisional (P3RT) dan Komunitas Gasing Lingga, menyelenggarakan permainan Gaseng Lingge di lapangan Puan Aura Daik Lingga.

Permainan turun-temurun ini Lingga khusunya di Daik, terus dilestarikan, sehingga tak asing lagi di kalangan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Di hadapan pengurus P3RT dan Komunitas Gaseng Lingga, Ketua P3RT Kabupaten Lingga Aryanto menuturkan, tujuan diselenggarakannya permainan tradisional tersebut, selain untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, juga untuk melestarikan serta, mempererat silaturahmi antar masyarakat.

“Permainan itu tidak saja untuk tingkat dewasa, kita juga membuka tingkat anak-anak di lapangan Damnah Daik. Sekarang ini masih berlangsung,” ungkap Aryanto, saat memimpin pertemuan di Warung Puan Aura Daik Lingga, Rabu (21/8).

Dia meminta pengurus P3RT bidang gasing dan komunitas gasing membentuk panitia untuk pelaksanaan permainan yang rencanannya digelar awal September 2019. Para peserta diharapkan mempersiapkan tim setelah dibuka pendaftaran panitia.

“Kalau anggaran sudah disediakan melalui LAM Kabupaten Lingga, sekarang tinggal pelaksanaan. Disamping itu pula, kita juga akan melakukan sosialisasi nantinya di beberapa titik,” terang Aryanto yang sekarang ini dipercaya menjabat Lurah Daik lagi.

Kata pria yang kerap dekat dengan para pemuda ini lagi, sekarang Gasing Lingga sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Republik Indonesia, yang termasuk dari 16 WBTB di Kabupaten Lingga.

“Sudah sepantasnya kita bersyukur, Gasing Lingga sudah ditetapkan sebagai WBTB. Jadi sekarang kita terus melakukan pelestarian yang dimulai dari anak-anak. Maka dari itu, Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga juga membuka permainan tradisional Gasing Lingga untuk kalangan anak-anak terutama tingkat SD,” imbuhnya.

Ia berharap pelestarian permainan Gasing Lingga tak cukup dengan melaksanakan turnamen, tapi setelah turnamen tetaplah dimainkan karena sudah menjadi warisan budaya masyarakat Kabupaten Lingga.

“Semenjak Tamadun Melayu November 2017 lalu, permainan gasing terus dimainkan, bahkan masing-masing RT di Kelurahan Daik membuka turnamen gasing, sebagai permainan anak Melayu Lingga khususnya di Daik,” tukasnya.(mrs)