Batam

Dua Bulan Sudah, Warga Rusun Tanjunguncang Kesulitan Dapat Air dari ATB

Seorang warga mengambil air dari bak penampungan depan rusun Tanjunguncang. (posmetro/jho)

BATAM, POSMETRO.CO : Warga yang tinggal di Rumah Susun (Rusun) Pemko Batam,  sekitaran Batamec mengeluh masalah air. Sebab sudah dua bulan terakhir mereka kesulitan air ATB. Imbas dari semua itu, warga di sana harus banting tulang untuk mengangkat air menuju tempat tinggalnya.

Saat didatangi ke Rusun Pemko yang berada tepat di Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji itu, warga terlihat sibuk untuk menggangkut air dari bak penampungan menuju ke tempat tinggalnya.

“Saya sudah capek bang. Padahal bentar lagi saya mau sekolah,” kata Ikbal, seorang siswa kelas 5 SD yang tinggal di Rusun Pemko.

Menurut Ikbal, mengangkat air dari bak penampungan menuju tempat tinggalnya sudah masuk dalam kewajiban sehari hari. Bahkan dalam satu hari, dia harus melalui tangga sebanyak ratusan kali. Jika tidak, maka persediaan air di tempatnya tidak bakal ada. “Itulah nasib kami yang tinggal di sini, sangat pahit rasanya kalau air mati,” bebernya.

Ikbal mengaku, sejak Jumat (22/03) pagi hingga siang harinya, dirinya sudah mengangkut air sebanyak 1 drum menuju lantai 1 rusun Pemko. Ia pun mengaku sangat tersiksa jika pelayanan ATB terus terus begini.

“Bapak sudah tak ada, hanya saya yang di harapkan untuk mengangkat air. Untungnya saya tinggal di lantai satu, kalau sempat tinggal di lantai paling atas, mungkin saya tidak mau angkat air,” imbuhnya.

Faisal(38), warga Rusun Pemko Batam di blok D lantai satu mengeluhkan kondisisi air ATB. Ia mengaku, dalam sehari dia bisa puluhan kali turun naik tangga.  Jika hal itu tidak di lakukan, maka keluarganya tidak bisa mendapatkan air bersih. “Sudah dua bulan begini terus. Kami bilangnya, bulan kesengsaraan,” bebernya.

Menurut Faisal, bak penampungan ini akan di isi oleh pihak ATB. Namun terkadang, pengisian bak ini tidak berjalan. Oleh karena itu, warga yang tinggal di rusun harus keluyuran untuk mencari air bersih. Jika air di dalam bak berukuran 8 x 8 meter itu sudah kosong, maka warga harus membeli air galon. Untuk mendapat air galon, maka warga harus mengelurkan uang sebanyak Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

“Jika baknya penuh, maka hanya bertahan sampai siang harinya. Kalau air sudah habis, kita harus beli air galon. Kalau nggak, mau pakai air apa kita,” tutupnya. (jho)