POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Guru di Masa Pandemi, Harus Semangat dan Inovatif

Aden Yusuf Maulana

TAK ada waktu berlama-lama di ruangan. Ia harus lasak. Memastikan semua berjalan lancar: sesuai protokol kesehatan (Prokes).

Proses Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dipantau. Mengawasi dari luar jendela. Berjalan dari kelas ke kelas. Yakin aman, ia harus bersiap di gerbang sekolah.

Ia adalah Aden Yusuf Maulana SThI MPd, Kepala Sekolah Dasar Mumammadiyah Plus Batam. Sebagai pemegang tampuk komando di tingkatan sekolah dasar, Aden harus menjamin semua pelajar sekolah dasar aman, tidak terpapar Covid-19.

Masih jam 9 pagi. Itu artinya, Selasa (23/11) itu, ada waktu sekitar satu jam dan lima belas menit lagi untuk jam pulang murid kelas satu hingga kelas tiga. Aden tak sendiri. Ada Ani Hidayatin SPdI MM, Kepala Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah Plus yang ikut memantau di gerbang sekolah.

Untuk SD dan SMP memang berada di gedung yang sama. Keluar-masuk, berada di satu akses. Namun, jam kepulangan sudah diatur. Tidak bersamaan. Dijamin tak ada desak-desakan.

“Namun kami tetap mengawasi,” kata Aden pada POSMETRO. Walau jam kepulangan siswa tidak bersamaan untuk semua tingkatan, namun ada saja siswa yang agak terlambat dijemput orangtuanya.

“Syarat PTM ini, siswa memang harus diantar-jemput tepat waktu,” kata Aden. Sejauh ini, pelaksanaan PTM masih berjalan lancar.

Pada masa Pandemi Covid-19 ini, Aden mengakui, guru menghadapi banyak tuntutan. Menjadi guru, kata dia, tidak sekadar datang-mengajar-lalu pulang.

“Harus dari hati,” katanya. Di masa Pandemi ini, beban itu menjadi berlipat-lipat. “Tapi, balik lagi seperti yang saya katakan tadi, ‘Harus dari hati’,” katanya.

Pelaksanaannya, guru dituntut inovatif. Guru saat ini tak hanya menghadapi siswa di ruangan. Pembelajaran jarak jauh terpaksa masih dilakukan. Di awal-awal pandemi, semua siswa di rumah. Guru di sekolah, di depan laptop. Sejurus berjalannya waktu, metoda pembelajaran mulai menyesuaikan. Para guru menemukan banyak cara agar pembelajaran via daring itu menyenangkan.

“Kini, kebijakannya, PTM terbatas,” kata Aden. Siswa dibagi menjadi dua shif. Masuk kelas bergiliran. Tantangannya makin bertambah. Guru menghadapi dua kelompok siswa. Setengahnya, sebanyak 12 siswa belajar tatap muka di dalam kelas, yang lainnya menyimak secara online dari rumah. Guru harus memastikan, semua kelompok ini harus menerima materi yang disampaikan. Guru juga harus memastikan perangkat pembelajaran berfungsi semestinya.

“Kadang ada gangguan jaringan juga,” sebut Aden. Suara guru terputus. Tak sampai kepada siswa di rumah. Tapi, itu jarang-jarang terjadi. “Semaksimal mungkin, kami memastikan siswa menerima pembelajaran dengan baik,” sebutnya.

Prokes sudah berjalan semestinya. Pihak sekolah sudah menyediakan keran cuci tangan di depan gerbang sekolah. Alat pengecek suhu ada di lorong masuk. Diawasi oleh penjaga sekolah dan guru. Memastikan kesehatan pelajar di tingkat sekolah dasar terjamin, Aden juga sudah mendata siswa yang akan menerima vaksinasi untuk anak umur 6-11 tahun.

“Mayoritas orangtua mendukung vaksinasi anak ini,” sebutnya. Pelaksanaan penyuntikan vaksin akan dikordinasikan dengan pihak terkait. “Untuk kelas enam, sebelumnya ikut pada rombongan anak umur 12-17 tahun. Berjalan lancar,” kata Aden.

Pandemi Covid-19 ini, kata Aden, juga sangat berdampak pada ekonomi orangtua siswa. Tak dipungkirinya, ada siswa yang pindah karena orangtua kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Siswa dan orangtuanya memutuskan balik ke kampung halaman. Tak sedikit, kata Aden, orangtua siswa merasa ‘terhimpit’ oleh tagihan SPP sekolah.

“Tapi, pihak sekolah tak tinggal diam. Ada solusi yang kami berikan, semisal memberikan keringan iuran SPP. Memang keringanan ini tak bersifat global, tidak dipukul rata pada semua siswa,” jelasnya.

Pihak sekolah memberikan kesempatan pada orangtua untuk menghadap dan memohon keringanan uang SPP.

“Tapi saya bangga pada orangtua siswa kami ini, banyak yang tak memanfaatkan keringanan ini,” katanya. Ia menyebutkan contoh seorang wali murid dari siswa kelas VI.

“Sejak awal pandemi, sebenarnya orangtuanya ini sudah kena dampak finansial di tempat kerjanya. Tapi, baru-baru ini ia curhat. Menceritakan kesulitannya. Tapi, bukan untuk memohon keringanan uang SPP. Hanya sekadar curhat,” sebut Aden. Ia memaklumi, ada beberapa siswa yang terlambat melunasi uang SPP itu.

“Sebenarnya, keterlambatan pembayaran SPP tadi juga berdampak pada operasional sekolah. Termasuk juga gaji-gaji guru,” sebut Aden. Namun, sejauh ini, pihak sekolah berusaha agar hak guru tetap terpenuhi. “Kami juga tidak ada pengurangan guru,” katanya.

Aden memastikan, dalam posisi apa pun, guru tetap harus semangat. “Karena guru harus menjadi contoh bagi semua siswa,” katanya.

Di balik semua itu, Aden mengaku mengambil banyak hikmah selama pandemi ini. Kreativitas guru meningkat. Pun dengan skil. Guru secara otodidak terus berbenah. “Saat ini, guru tak boleh gaptek,” kata Aden.

Guru-guru di sekolah Muhammadiyah Plus sudah jago dalam mengedit video pembelajaran. “Belajar otodidak. Dari teman ke teman,” katanya. Bahkan, di sekolah ada ruangan yang jadi studio dadakan.

“Di situ guru-gurunya syuting untuk membuat materi pembelajaran yang akan disampaikan pada siswa,” katanya.

Tetap Berprestasi

Ani Hidayatin

Pandemi tak membuat guru dan siswa putus asa dalam mencapai prestasi. Kepala SMP Muhammadiyah Plus, Ani Hidayatin SPdI MM, menyebut, selama masa pandemi ini, siswa terus giat mengikuti beragam lomba yang digelar virtual.

“Hasilnya memang tak maksimal,” kata dia. Namun setidaknya, siswa tetap terus ‘terjambuk’ untuk berprestasi. “Lomba yang diikuti siswa itu ada yang di bidang pelajaran, ada juga yang di bidang seni dan olahraga. Contohnya, lomba virtual silat yang baru-baru ini dilaksanakan,” katanya.

Intinya, kata Ani, siswa memang harus dituntut dalam capaian prestasi. Namun terpenting, kata dia, sekolah tetap fokus pada pembentukan aklak pelajar. Pengetahuan umum yang disejalankan dengan didikan moral, diyakini Ani, lulusan sekolah Muhammadiyah Plus merupakan anak-anak hebat yang akan menjadi generasi penerus di negeri ini.

Saat ini, tercatat ada 743 siswa di tingkat SD, serta 279 orang di tingkat SMP. Untuk hapalan surah, tingkat SD hanya mewajibkan hapal juz 30.

“Begitu juga di tingkat SMP. Tapi ada tambahan pilihan surah untuk dihapal,” jelasnya. Karena pada tingkatan SMP tidak semua siswa yang merupakan lanjutan dari SD Muhammadiyah Plus, maka sekolah tidak menganjurkan tambahan hapalan surah. “Yang dari tingkat SD Muhammadiyah, sifatnya pengulangan hapalan,” imbuhnya.

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad, mengakui, selama pandemi Covid-19 ini, guru mengalami banyak tantangan. Pada momen peringatan HUT PGRI ini, Amsakar meminta guru-guru tetap semangat dalam menyiapkan SDM yang tangguh. Ia meminta guru tak mudah menyerah.

“Orang-orang hebat itu ada karena didikan dari Bapak/Ibuk guru,” kata Amsakar. Peran guru juga bertambah karena harus menjadi contoh bagi siswanya dalam pelaksanaan prokes. Melalui guru juga, sosialisasi tentang pentingnya vaksinasi untuk anak bisa tercapai. Amsakar berharap, Pandemi Covid-19 ini bisa cepat selesai. Upaya yang dilakukan adalah dengan tetap mematuhi prokes dan menggesa pencapaian vaksinasi.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan memastikan, semua sekolah harus bisa mematuhi prokes. Sanksi tegas akan diberlakukan bagi sekolah yang melanggar. Pelaksanaan prokes ini, kata Hendri, satu-satunya cara yang bisa dilakukan agar anak-anak tidak terlalu jauh ketinggalan pendidikan.

“Tapi, kita semua harus bersama-sama bisa menjamin kesehatan anak, jangan sampai anak-anak kita terpapar Covid-19,” Hendri mengingatkan.(chi)