Batam

Peran Patroli Rutin Pengamanan Daerah Tangkapan Air dan Waduk

Petugas saat mengawasi Dam Duriangkang. (Posmetro.co/dok)

BATAM, POSMETRO.CO: Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan pengamanan terhadap Daerah Tangkapan Air (DTA). Sebab 33 persen di wilayah Batam adalah hutan yang difungsikan sebagai DTA.

BP Batam mencatat daftar luasan DTA di waduk-waduk di Kota Batam. Di antaranya:

Waduk Sei Harapan 393 ribu hektare, Sei Ladi 1.040 hektare, Baloi 155 hektare, Mukakuning 944 hektare, Duriangkang 7.259 hektare, Nongsa 212 hektare, Tembesi belum beroperasi, Rempang belum beroperasi, Sei Gong belum beroperasi.

Untuk mengamankan DTA tersebut, BP Batam membentuk tim khusus yang berjumlah 19 orang.

“Mereka (19 orang) ini merupakan internal BP Batam yang berasal dari Direktorat Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan dan Direktorat Pengamanan (Ditpam),” ujar Asisten Manajer Bendungan dan Daerah Tangkapan Air (DTA), May Roby Firnanda, Sabtu (25/7).

Katanya, tim ini juga dibantu dari TNI, Polri, Balai Wilayah Sungai Sumatera IV, Pemko Batam dan lembaga kementerian yang ada di Kota Batam.

“Dengan jumlah yang terbatas, tim berhasil mengamankan DTA, bahkan dapat meringkus para pelaku yang diduga melakukan aktivitas ilegal di sembilan dam yang ada di Kota Batam,” tambahnya. Kegiatan ilegal itu diantaranya kerambah ikan, illegal logging, pemancingan hingga perkebunan liar.

Ia menjelaskan, tim dari Direktorat Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan berjumlah 9 orang. Tujuh orang berada di Batam, satu di Rempang dan satu di Galang. Sementara dari Ditpam BP Batam berjumlah 10 orang.

“Karena wilayah kerja besar dan personel sedikit jadi kita bagi dalam 3 koordinator, namanya Unit Pengelola Bendungan,” paparnya. Lanjut Roby, unit 1 wilayah kerjanya meliputi Sei Ladi, Sei Harapan dan Sei Baloi. Unit 2, Dam Duriangkang, Muka Kuning, Nongsa. Kemudian unit 3, Dam Tembesi, Rempang dan Sei Gong.

“Tugas pokoknya adalah melaksanakan pemantauan, operasi dan pemeliharaan bendungan,” jelasnya.

Pemantauan lanjutnya dilakukan dengan memasang alat-alat instrumentasi di dalam tubuh bendungan. Tujuannya untuk mengetahui rembesan, gaya geser dan lain-lainnya.

“Untuk sistem kerjanya memantau air masuk ke dalam waduk seberapa besar kontinuitas air masuk ke dalam waduk” katanya. Selain itu tim DTA juga membuat pola operasi basah dan kering untuk pengolaan air agar bisa diolah di Instalasi Pengelolaan Air (IPA).

Tim kata dia, juga melaksanakan pemeliharaan bendungan, seperti pemotongan rumput. Serta membatasi zona-zona di setiap waduk. Zona-zona di waduk lanjutnya terdiri dari ring satu, dua dan tiga.

“Ring satu itu genangan air, di situ tidak boleh ada aktivitas sama sekali karena itu zona inti. Kedua adalah zona penyangga, zona ini dibatasi aktivitas di dalamnya namun harus ada izinnya. Ketiga adalah zona transisi untuk mempertahankan DTA,” tutupnya.(adv)