Advertorial

Fakta Waduk Baloi, Fenomena Yang Tak Boleh Kita Ulang

 

Foto Waduk Baloi diambil dari atas udara. (image/bpg)

BATAM, POSMETRO.CO : Waduk Baloi dibangun pada tahun 1977 oleh Otorita Batam (OB) atau saat ini Badan Pengusahaan (BP) Batam, Waduk Baloi memiliki kapasitas sebanyak 30 liter per detik dan melayani kebutuhan air masyarakat di kawasan Pelita, Jodoh, Nagoya dan sekitarnya.

Seiring perjalanan, sekitar waduk dijadikan lokasi aktifitas yang tidak sesuai, mulai dari permukiman, penebangan pohon, penambangan pasir liar, peternakan hingga kegiatan lain yang membuat kerusakan waduk.

Akhirnya Waduk Baloi ditutup pengoperasinya, akibat kondisi air baku yang sudah tidak ekonomis untuk diolah menjadi air bersih, dan banyak ditumbuhi enceng gondok.

Kondisi tersebut juga sudah mulai dialami oleh beberapa waduk lainnya, yang dimiliki oleh BP Batam.

Manajer Air Baku Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Hadjad Widagdo, dalam sejumlah kesempatan mengungkapkan, pihaknya selalu mengimbau dan meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktifitas di sekitar waduk-waduk yang ada di Batam.

“Tidak hanya mengimbau dan meminta, kami bahkan memberikan ketegasan jika ada masyarakat yang melakukan aktifitas ilegal di sekitar waduk. Soalnya, aktifitas yang mereka lakukan akan mengancam keberadaan waduk dan air baku yang ada,” ucapnya.

Hadjad mengatakan, pihaknya tidak ingin fenomena seperti yang terjadi di Waduk Baloi, terulang lagi pada waduk-waduk yang lain.

“Waduk Baloi sudah tidak dapat difungsikan lagi. Soalnya, di sekitar waduk sudah begitu banyak aktifitas yang dilakukan,” jelasnya lagi.

Menjaga kelangsungan air dari waduk yang ada di Batam sangat penting, diprediksi pada 2028 mendatang, diperkirakan jumlah penduduk di Batam mencapi 2 juta jiwa. Dan kebutuhan air bersih juga sangat vital bagi masyarakat.

Tragedi Waduk Baloi menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat, dan menjadi kacamata besar agar tetap menjaga waduk. (adv)