Batam

Pengguna Laut Dikumpulkan Guskamla Bahas Safety Sailing

Rangkaian acara ‘ngopi’ bersama dalam program safety sailing di Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada I, Senin (2/12). (Posmetro.co/cnk)

BATAM, POSMETRO.CO: Sejumlah asosiasi pengguna laut dan jasa maritim yang berada di Batam dan Kepri dikumpulkan di Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada I, Senin (2/12). Acaranya ‘ngopi’ bersama dalam program safety sailing (Keselamatan berlayar).

Komandan Guskamla Koarmada I, Laksamana Pertama TNI Yayan Sofiyan, menyampaikan, bahwa kegiatan ini dapat menjadi momentum terjalinnya komunikasi antara pemangku keamanan laut dari berbagai instansi dengan para pengguna laut sehingga terbangun sinergitas yang baik.

Yayan menyebut, Selat Malaka telah menempatkan Kejayaan Kerajaan Sriwijaya menjadi sebuah kerajaan besar dan kaya dengan penguasaan akses perdagangan yang melalui jalur Selat Malaka yang juga tentunya dapat mensejahterakan rakyatnya saat itu, pesona Selat Malaka selalu menjadi daya tarik bangsa bangsa lain.

Perebutan akses penting jalur perdagangan dunia tersebut juga terjadi dari Portugis dengan Belanda. Guna penguasaan secara mutlak, Belanda membentuk sejumlah kerajaan boneka untuk melakukan politik pecah belah “Devide Et Impera”.

Selat Malaka juga pernah menyandang predikat “The Most Dangerous Water in The World” pada era tahun 1990 – 2000 dan hal tersebut dapat ditepis setelah operasi keamanan laut berhasil mengatasi sejumlah aksi gangguan keamanan laut dengan menggelar trilateral cooperationantara TNI AL, TLDM dan RSN.

“Upaya menciptakan keamanan laut yang kondusif tentunya juga sudah dilaksanakan sejumlah instansi secara terpadu melalui kegiatan Patkor Optima antara TNI AL, TLDM, Polairud, Unsur Bea dan Cukai, Imigrasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Bakamla RI,” katanya.

Diakuinya, walaupun berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menciptakan iklim yang kondusif dan rasa aman bagi para pengguna laut, sampai dengan saat ini belum memberikan konstribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat maritime maupun devisa negara.

“Hal tersebut dapat terlihat dari tingginya berbagai aktivitas pelayaran maupun industri kemaritiman di Sepanjang Selat Malaka masih didominasi Singapura dan Malaysia,” katanya lagi.

Lanjut dia, negara tersebut terus memicu pembangunan berbagai infrastruktur yang diperlukan guna menunjang pelayaran global dan industri kemaritiman dari berbagai sektor sepanjang Selat Malaka.

“Guna mengembalikan kejayaan masa lalu, kita semua tidak mungkin hanya menjadi penonton hiruk pikuknya sepanjang waktu menyaksikan aktivitas pelayaran yang padat, industri-industri kemaritiman yang terus menggeliat,” tambahnya.

Katanya, tidak mungkin dilaksanakan secara partial namun harus dilaksanakan secara sinergis baik antar pemangku keamanan laut dari berbagai instansi dengan para pengguna laut maupun pelaku bisnis kemaritiman guna membangkitkan ekonomi maritim.(cnk)