POSMETRO.CO Metro Kepri Lingga

Diduga Korsleting Genset, 12 Bangunan Kayu Tinggal Puing

Kebakaran hebat di RT 01, RW 01 Dusun Mabung Desa Pasir Panjang, Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga. 12 bangunan ludes terbakar. (Posmetro.co/ist)

LINGGA, POSMETRO.CO: Sebanyak 12 rumah dan gudang minyak milik Rudianto, Pos Polisi dan rumah warga hangus terbakar di RT 01, RW 01 Dusun Mabung Desa Pasir Panjang, Kecamatan Bakung Serumpun, Kabupaten Lingga, Sabtu (18/7) sore.

Diduga, penyebab kebarakan karena korselting mesin genset di kapal minyak milik Akim di pelantar atau pangkalan minyak Rudianto.

Kepala Desa Pasir Panjang, Ahadun mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (18/7) pukul 16.12 WIB, membuat dia juga ikut bergegas menuju lokasi yang jauh dari tempat duduknya yang masih berlokasi di Dusun Mabung Desa Pasir Panjang.

“Mulanya saya melihat api dari kapal, membuat saya bergegas berlari menuju lokasi. Rernyata memang kebakaran, dan hanya hitungan jam 12 unit bangunan kayu yang ada di lokasi pelantar ikut terbakar,” kata Ahadun, Minggu (19/7).

Dia menjelaskan, dari informasi yang beredar di tengah masyarakat, api berasal dari kapal minyak.

“Banyak orang menduga, sumber api itu dari genset kapal minyak. Lalu menyeberang ke pangkalan minyak dan bangunan yang berada di lokasi pelantar yang semuanya terbuat dari kayu,” jelasnya.

Ahadun juga menyebutkan, yang ikut terbakar gudang minyak, rumah, warung dan beberapa gudang milik Rudianto, yang diperkirakan ada 9 unit, Pos Polisi ada 2 yang baru dengan yang lama, dan satu unit rumah warga juga berada di lokasi yang sama.

“Sampai saat ini saya belum dapat bertemu dengan korban (Rudianto), cuma dapat ketemu istri beliau, yang terlihat pasrah dan mengaku kalau usahanya itu dibangun tahun 1982 lalu,” tutur Ahadun.

Kata Ahadun lagi dari informasi yang ia dapatkan, waktu api mulai membakar, Rudianto sempat berpesan dengan istrinya kalau rumah dan bangunan yang ada akan ikut terbakar, dan meminta istrinya menyelamatkan barang atau dokumen berharga dari rumah, sebab api terlalu cepat menjalar.

“Yang diselamatkan koper dan kantong yang berkemungkinan dokumen penting yang diselamatkan. Barang-barang yang lain ikut terbakar dan tidak bisa diselamatkan lagi,” tuturnya.

Masih kata Ahadun, waktu kejadian tersebut, masyarakat berbondong-bondong memadamkan si jogo merah dengan cara manual, ketika api kian besar dan mengeluarkan asap pekat hitam.

“Warga dari Mabung, Tukul Baran dan beberapa pulau terdekat ikut membantu memadamkan api. Bahkan ada membawa genset, api dapat dimatikan sekitar pukul 19.00 WIB. Api sempat kembali membesar seketika tapi dapat dipadamkan. Sekarang hanya tinggal arang saja, sesekali terdengar hanya letupan api bekas terbakar,” paparnya.

Meski belum dapat diperkirakan berapa kerugian yang dialami Rudianto, tapi kabar yang beredar kerugian mencapai Rp 3 miliar.

Dia menyebutkan, Rudianto memang seorang pengusaha sejak tahun 1982 lalu, istrinya sempat menyampaikan kalau usahanya itu sudah puluhan tahun dibangun dan ludes dalam hitungan jam.

Sebagai kepala desa, Ahadun sudah mengumpulkan ketua RT se-Desa Pasir Panjang, agar mengambil langkah untuk membantu korban, baik itu berupa makanan, pakaian layak pakai ataupun uang untuk korban.

“Sekarang sudah berjalan, masing-masinh RT sebagian sudah ada yang menyerahkan bantuan itu, sebelum mengambil langkah lebih maksimal lagi. Pada hari ini juga kami menunggu ke datangan pihak BPBD Lingga juga akan menyerahkan bantuan,” imbuhnya.

Kapolres Lingga AKBP Boy Herlambang melalui Kapolsek Senayang, Iptu Syaiful Amri mengaku, sejak kejadian sampai sekarang pihaknya masih di berada di tempat kejadian perkara (TKP), untuk melakukan pengamanan dan olah TKP.

“Sekarang saya masih di TKP, tugas kami mendatangi TKP, menyelamatkan barang-barang dan korban, yang sudah menjadi tanggung jawab kami dari kepolisian,” ujar Syaiful Amri.

Dia mengaku, tidak berani menyimpulkan penyebab kejadian dan berapa kerugian yang dialami korban, karena butuh data dan sumber yang akurat dari pihak korban.

“Tugas kita tetap mendatangi TKP, kalau berbicara sumber api kami tidak bisa bicara begitu saja atau dari masyarakat. Kami bekerja tetap sesuai data ilmiah yang didukung dengan saksi-saksi, apakah itu korban atau masyarakat yang menyaksikan,” sebutnya.

Kalau berdasarkan informasi yang disampaikan warga sah-sah saja, kata dia, tapi kalau kepolisan tetap bekerja profesional dengan mengambil sampel-sampel didukung dengan para saksi.

“Kalau berdasarkan informasi warga itu boleh saja, tapi kami di kepolisan tetap melalui uji laboratorium forensik. Jadi kami tidak bisa langsung menyimpulkan meskipun kami mendatangi TKP,” tutupnya.(mrs)