POSMETRO.CO Nasional Daerah

Menko Marvest: Museum Kavaleri Perlu Berpenampilan Modern dan Akrab dengan Masyarakat

posmetro.co — Jakarta: Menko Marvest Luhut B.Panjaitan mendukung rencana Pusat Kesenjataan Kavaleri (Pussenkav) TNI-AD untuk membangun Museum Kavaleri Indonesia di Bandung. Saat menerima Komandan Pussenkav, Mayjen Yanuar Adil dan Direktur Pembinaan Kesenjataan Pussenkav, Brigjen Agus Erwan, Menko Luhut, yang juga didamping Menko Kemaritiman 2014 – 2015, Indroyono Soesilo, berharap bahwa Museum ini akan menjadi destinasi wisata baru yang menarik di kota Bandung, sehingga perlu berpenampilan modern namun akrab dengan masyarakat.

Komandan Pussenkav, Mayjen Yanuar Adil menyampaikan bahwa Museum Kavaleri Indonesia ini akan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah militer di Kota Bandung, mengingat sejak jaman Pra-Kemerdekaan banyak bangunan dan instalasi militer di Kota Bandung yang kesemuanya telah menjadi bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan.

Museum Kavaleri Indonesia akan menempati bangunan cagar budaya di Jalan Gatot Subroto – Bandung dan direncanakan akan mengabadikan sekitar 20 tank dan panser Kavaleri TNI-AD yang kesemuanya memiliki kesejarahan Korps Lapis Baja Indonesia, yang telah berusia 73 tahun ini.

Saat bertempur menghadapi Sekutu pada November 1945, arek-arek Suroboyo, sudah menggunakan Combat Tank Light Series (CTLS), tank Bren Carrier dan panser Marmon Herrington hasil rampasan dari tentara Jepang. Juga saat Perang Kemerdekaan II, 1948 – 1949, Belanda menurunkan tank dan pansernya menghadapi gerilyawan TNI yang gencar mengadakan sabotase, menghancurkan jembatan dan jalur transportasi lainnya, membuat tank dan panser Belanda menurun mobilitasnya.

Lewat Konperensi Meja Bundar – Den Haag (1949), Belanda mengakui Kedaulatan Republik Indonesia. Usai Presiden Soekarno dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat, 17 Desember 1949, Belanda menyerahkan sekitar 100 unit tank dan panser mereka kepada Korps Kavaleri Indonesia yang dibentuk pada 9 Februari 1950.

Pengabdian Korps Kavaleri TNI-AD selama 73 tahun kepada NKRI sangatlah luar biasa. Dengan Motto Tri Daya Cakti, yang mencakup Daya Gerak, Daya Tembak dan Daya Kejut, satuan Kavaleri TNI sudah
diterjunkan pada penumpasan pemberontakan Andi Azis di Sulawesi Selatan (1950), juga pada Penumpasan Pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) – 1950.

Tercatat, Komandan Groep-II TNI, Letkol Slamet Rijadi, gugur diatas panser kavaleri TNI saat akan memasuki Kota Ambon (1950).

Satuan Satuan kavaleri juga dilibatkan dalam penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera Barat dan Sumatera Utara (1958), pada Penumpasan Pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat (1950 – 1962), Operasi Trikora Pembebasan Irian Barat (1962-1963) serta Operasi Penumpasan G-30-S/PKI tahun 1965. Kehadiran panser panser Saracen Kavaleri TNI-AD mengusung peti jenazah Para Pahlawan Revolusi telah abadi dalam ingatan Bangsa Indonesia. Satuan Kavaleri TNI-AD juga dilibatkan dalam Operasi Seroja di Timor Timur dan Operasi Keamanan Dalam Negeri di Aceh.

Saat Ibukota Jakarta dalam suasana genting, seperti peristiwa Malari 1974 dan peristiwa Reformasi 1998, tank dan panser kavaleri TNI-AD selalu berpatroli berkeliling ibukota. Satuan Kavaleri TNI-AD juga bergabung dalam Kontingen Garuda Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Congo-Afrika (1960), bergabung dalam Kontingen Garuda Pasukan Penjaga Perdamaian PBB UNTAC di Kamboja (1992-93), serta dalam Kontingen Garuda Penjaga Perdamaian PBB, UNIFIL-Lebanon, hingga saat ini.

Tidak itu saja, hingga saat ini, Detasemen Kavaleri Berkuda TNI-AD selalu aktif dilibatkan dalam upacara-upacara kenegaraan dan untuk menyambut tamu tamu Negara.

Kesemua kiprah dan pengabdian Korps Baret Hitam TNI-AD ini akan dilestarikan dan diabadikan melalui sebuah Museum Kavaleri di Kota Bandung, guna diwariskan kepada generasi penerus TNI maupun untuk generasi muda Indonesia secara keseluruhan.
(Lina)