POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Bisnis Esek-esek Batuaji, Pakai Kondom Rp200 Ribu, Gak Pakai Kondom Rp500 Ribu

 

Ilustrasi (jawa pos)

BATAM, POSMETRO.CO : HIV AIDS merupakan penyekait menular dan berbahaya. Untuk itu, Kawasan Pusat Rehabilitasi Sosial non panti Teluk Pandan, Tanjunguncang, Batuaji memiliki program khusus dalam hal mencegah penularan HIV AIDS.

Kawasan lokalisasi ini mewajibkan pengunjung untuk menggunakan alat pengaman (kontrasepsi), saat menggunakan jasa layanan wanita yang bekerja di sana.

“Setiap tiga bulan, seluruh pekerja di rutin melakukan pengecekan kesehatan oleh pihak Puskesmas,” ucap Ketua Organisasi Bina Sosial Teluk Pandan Sintai, M Nasir.

M Nasir menyebut, hal itu sudah komitmen sejak dulu. Bahkan sampai sekarang tetap diperhatikan masalah PMS (penyakit menular seksual). Jadi, pengunjung yang menggunakan jasa pekerja wajib pakai kondom.

“Itu upaya kami untuk mencegah PMS, jadi dipastikan pengunjung dan pekerja bebas dari penyakit menular seperti HIV AIDS,” pungkasnya.

Seperti diketahui lokasi pusat rehabilitasi sosial non panti ini merupakan lokasi hiburan malam. Ada sekitar 20 bar yang menyediakan pekerja wanita. Wanita-wanita yang cukup umur itu akan melayani pria hidung belang.

Namun semenjak tahun 2015 lalu, pekerja di kawasan lokalisasi ini terus berkurang. Saat ini pekerja di sana diperkirakan hanya sisa 120 wanita. Meskipun demikian pengelolah kawasan tetap memprioritaskan pengamanan pekerja.

Terpisah dari hal tersebut, masih ada lokalisasi di Batuaji dan Sagulung yang menawarkan bisnis esek esek. Hal tersebut berkedok usaha panti pijat (massage). Namun pria hidung belang yang sering jajan di tempat ini, belum bisa di jamin lolos dari PMS

Salah satu pekerja massage yang tidak mau di sebut namanya mengatakan, penggunaan alat kontrasepesi bisa di nego nego. Jika bayaran lebih mahal, maka pekerja di sana mau mau saja.

“Tergantung bayaran juga bang. Kalau mau bayar di atas Rp 500 ribu, siapa yang mau menolak,” ucapnya.

Menurut wanita berparas cantik ini, sekali sortime dibadrol Rp 200 ribu hingga 250 ribu. Tapi di harga segitu, pengunjung harus pakai alat kontrasepsi. Sementara kalau hanya untuk massage hanya Rp 70 ribu.

“Ada juga pengunjung yang enggan pakai kondom. Jadi mereka rela bayar mahal, durasinya pun paling hanya Rp 10 menit hingga 15 menit. Namun tidak semua wanita di sini mau dibayar mahal asal tidak pakai kondom, ada juga sebagian yang takut tanpa pengaman,” pungkasnya. (jho)