POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Utusan Sarumaha, Antara Kernet Angkot, Pengacara & Politisi

Anggota Komisi I DPRD Kota Batam, Utusan Sarumaha.

MASIH sangat terekam di memorinya. Waktu itu dia masih kelas 4 SD. Di usia yang masih sangat belia itu, harus berpisah dengan kedua orang tua.

Bapak-ibunya harus merantau. Demi memenuhi kebutuhan hidup. Meninggalkan kampung halaman, Pulau Nias yang sangat indah itu. Mengadu nasib di Sumatra Barat. Meski hanya sebagai buruh kebun.

“Saya tinggal bersama kakek,” Utusan Sarumaha mengenang masa kecilnya.

Layaknya sebagai anak kampung, Utusan juga sudah terbiasa membantu kakeknya bertani. Bahkan saat SMP dia juga sudah menjadi rutinitas dia, berkebun, menjual hasil kebun ke pasar.

“Ya karena saya tinggal bersama keluarga, saya harus bisa mengambil hati. Membantu pekerjaan keluarga, di kebun, menjual daun, ya hasil hasil kebunlah,” tuturnya.

Hingga akhirnya Utusan pun berhasil menyelesaikan pendidikannya, hingga tamat SMA.

Karena kerinduan kepada kedua orang tua, dia pun tak menunggu lama lagi. Segera menyusul kedua orang tuanya ke Sumatra Barat.

“Selama di kampung saat itu, kan media komunikasi masih sangat terbatas. Belum ada video call seperti saat ini, berkirim kabar pun masih menggunakan surat. Jadi saya tak tunggu lama lagi, langsung menyusul orang tua,” ujarnya menambahkan.

Di sana pulalah, Utusan merasakan menjadi buruh perkebunan. Kerja di perkebunan sawit. Merasakan pahitnya yang telah dirasakan kedua orang tuanya selama ini.

“Hingga ada keluarga yang memotivasi saya. Kalau saya terus di kebun, paling mentok saya jadi mandor. Saya harus mencari jalan yang lain,” ujarnya.

Setelah delapan tahun berpisah dengan kedua orang tua, dan bertemua baru enam bulan, Utusan sudah harus berpisah lagi.

“Ya berat memang. Tapi ini harus saya lakukan. Saya merantau ke Batam. Tahun 2004,” Utusan melanjutkan ceritanya.

Yakin. Hanya itu bekalnya. Dia akan sukses di Batam. Mencari pekerjaan. Mendapatkan kehidupan yang lebih bagus.

“Beruntung saya ada keluarga di Batam dan teman-teman, yang juga sudah memiliki kehidupan yang lebih bagus,” katanya menambahkan.

Namun, awal di Batam juga harus dilaluinya kehidupan yang tidak gampang. Dia tinggal bersama salah satu saudara sepupunya.

“ya namanya tinggal sama saudara, kita harus bisa mengambil hati. Saya harus pandai-pandai agar bisa diterima dengan baik,” ujarnya.

Nah, bagi sopir-sopir angkot di tahun itu, mungkin wajah pemuda ini tak asing. Dia kerap hilir-mudik dari kawasan Jodoh ke Dapur 12. Utusan bekerja menjadi kernet Angkot jurusan jalur itu.

“Pagi saya harus bangun cuci mobil dan ngernet dari pagi sampai sore,” ujarnya.

Tapi Utusan tak mau kehidupannya hanya sampai disitu. Berkat motivasi beberapa rekan-rekannya, dia harus melanjutkan meraih cita-citanya. “Siang saya ngernet, malam saya kuliah,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, sambil kuliah dia juga kerap membantu salah satu kantor pengacara untuk terus belajar.

“Tanpa digaji, karena saya ingin belajar,” katanya.

Hingga akhirnya harapan itu tercapai. Dia lulus. “Saya jadi pengacara,” katanya.

Cita-citanya pun tercapai.

Tapi rupanya kehidupan tak hanya sampai di situ. Berjalannya waktu, Utusan yang aktif di berbagai organisasi dan bersosialisasi dengan berbagai kalangan, dunia politik menghampirinya.

Jika saat ini, dia dipercaya masyarakat menjadi wakil rakyat di parlemen itu sangatlah wajar. Perjuangannya memang tidak singkat.

“Sebelumnya, 2009 sudah masuk dunia politik. PDI yang lama, diajak bergabung, Dulu saya nyalon juga cuma melengkapi persyaratan partai, bukan pencalonan yang serius,” tuturnya. Utusan tidak lolos.

“Dulu juga tidak ada amunisi untuk sosisalisasi,” katanya.

Lalu di tahun 2014 dia kembali didorong sejumlah rekan dan partai politik untuk kembali mencalonkan diri.

“Tapi saya tidak mau menyaleg, karena belum memenuhi persyaratan. Tapi saya jadi ketua Tim untuk caleg. Di situ saya mengumpulkan pengalaman. Mengasah kemampuan saya. Mengasah konsep politik,” ujarnya.

Memang diakuinya, caleg yang dia dukung tidak lolos. Tapi justru ini menjadi pelajaran penting buat Utusan.

“Saya menggunakan fasilitas pengacara menjadi jembatan pengenalan kepada masyarakat,” katanya.

Jika Utusan Sarumaha terpilih saat ini, dikatakannya bukan masalah dia hebat atau piawai berpolitik.

“Saya juga bertanya, saya tidak hebat. Tapi diberikan kesempatan, ini bonus. Ini sudah izin tuhan. Tapi saya juga berjuang keras, rajin turun berkumpul ke masyarakat untuk merebut hati masyarakat,” ujarnya menjelaskan.

Saat itu memang ada kegundahan, saat harus menentukan akan berlayar di dunia politik menggunakan paratai apa.

“Ada beberapa partai yang mesti saya pilih. Tapi akhirnya saya berlabuh di Hanura,” ucapnya.

Amunisi saat itu, diakuinya sudah ada. “Walaupun kita tidak punya, orang menilai kita mampu. Bisa menjaga kepercayaan. Jadi orang bisa mendukung kita. Saya mencoba meyakinkan. Persahabatan jangan diputus dengan jabatan politik. Pada waktu itu lebih dari cukup jadi pergerakan saya bisa maksimal,” Utusan memaparkan.

Diakui Utusan menjadi caleg baru, frekuensi sosialisasi itu harus tinggi. Menurutnya, bukan hal tabu, untuk calegnya harus ada amunisi berupa keuangan yang memadai.

“Minim harus lima ratusan juta,” ujarnya menyebutkan nilai amunisi yang mesti disediakan.

Saat ini, Utusan telah menjadi milik warga Batam. Menjadi wakil rakyat yang harus terus menyuarakan kepentingan masyarakat kepada pemerintah.

“Selalu memaksakan mencoba respon apapun yang menjadi keluhan msyarakat. Dapil saya Sagulung, tapi sekarang saya bukan cuma milik orang Sagulung, saya milik orang Batam secara keseluruhan, sebagai wakil rakyat,” tegasnya.

Bagi Utusan Sarumaha, menjadi pengacara sebanarnya sudah cukup. Namun, untuk memberikan lebih manfaat kepada orang, jalur politiklah yang harus dia pilih.

“Sebenarnya sudah nyaman jadi pengacara. Yang menjadi landasan saya, bahwa merubah sebuah kebijakan sebuah sistem harus berada di dalam sistem, sehingga banyak hal yang bisa kita lakukan ketika berada di sistem,” katanya.

Namun, jika hanya berada di luar sistem, dia hanya bisa menyuarakan saja.

“Jadi tidak tuntas. Saya ingin bagaimana semasa hidup saya bisa meberikan manfaat lebih banyak kepada orang lain. Itu terbukti banyak keluhan yang masuk semkasikmal mungkin kita tindak lanjuti. Dulu (saat pengacara) ada persoalan yang tidak bisa kita sentuh,” ujarnya.

Namun, bicara soal kebabasan dan penghasilan pribadi, Utusan mengaku lebih memilih sebagai pengacara.

“Tapi segi kemanfaatan, ya lebih banyak manfaatnya jadi dewan,” katanya lagi.

Utusan Sarumah akan terus mengabdi di Batam. Periode salnjutkan, dia akan pertahankan menjadi wakil rakyat. Menyuarakan aspirasi masyarakat Batam dari Engku Putri.***