POSMETRO.CO Metro Kepri

Perjuangan Saat Pandemi dan Langkah Setelah 1 Juli

>>>Wawancara Kadispar Provinsi Kepri, Buralimar

BERDISKUSI soal olahraga dan pariwisata tak akan ada habisnya dengan tokoh satu ini. Meski Buralimar diketahui menjadi pejabat yang multi talenta, dan banyak menduduki banyak jabatan yang mengurusi banyak sektor, tapi ia terus memikirkan agar pariwisata Kepri makin terangkat.

Selasa 14 Juni 2022, kemarin adalah ulang tahun yang ke-60 pria kelahiran Bagansiapiapi, Riau ini. Inilah bulan terakhir dia mengabdi untuk Kepri, sebagai birokrat.

Tanggal 1 Juli mendatang, ia sudah purna tugas. Tapi, semangatnya untuk terus mengembangkan Kepri kedepan belum usai.

Di hari kelahirnya itu, POSMETRO mendapatkan kesempatan untuk berbincang dan berdiskusi santai dengannya. Berbagai masalah jadi topik diskusi yang menarik dikupas.

Bahkan, kemana langkah Buralimar setelah purna tugas pun menjadi narasi yang membuatnya terus mengulas senyum lebar.

Berikut petikan diskusi bersama Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Drs. Buralimar M.Si :

Bagaiman dengan kunjungan wisata saat ini?

Tingkat wisatawan yang masuk belum begitu menjanjikan. Pintu masuk kita belum banyak yang dibuka. Karimun saja baru tiga minggu lalu. Ada juga di Batam Centre, Harbourbay, Lagoi, dan Nongsa. Biasanya ferry tiga trip, sekarang baru satu. Jadi harga tiket masih mahal.

Kita lagi berjuang harga tiket dan bebas visa. Bebas Visa Kunjungan. Di ASEAN sudah bebas vissa, tapi di luar ASEAN belum. Seperti India, Korea yang masuk lewat Singapura ke kita belum bebas visa. Masih pakai visa. Jadi ini perlu diperhtikan.bSaya yakin sampai akhir tahun bisa satu juta kunjungan.

Sebelumnya kan dua juta lebih kunjungan (sebelum pandemi). Ini pun masih jauh dari potesi yang sampai 10 juta. Itulah yang dipikir bagaimana caranya, paket wisatanya. Jadi bagi para pelaku pariwaisata silahkan berkreasi.

Soal keamanan kita sudah sangat dipercaya orang Singapura. Mereka merasa lebih aman. Sekarang ini di Kepri tak ada lagi cerita turis yang kecopetan, atau jadi korban kejahatan.

Untuk pariwisata ini kan ada tiga hal: Amenitas, Aksesibilitas, dan Aksi. Amenitas soal ketersediaan fasilitas, Aksesibilitas soal akses sarana dan prasarana transportasi. Sedangkan Atraksi ini kan meliputi pertunjukan, seperti seni dan budaya atau berbagai kegiatan yang disajikan untuk wisatawan. Tapi ada juga pembangunan fisik mental, ini juga harus jalan. Mental petugas kita di pelabuhan misalnya juga tak lagi seperti masa pandemi kemarin.

Selama masa pandemi, atau maraknya covid-19 dengan berbagai batasan-batasan yang membuat pariwisata tak bisa bergerak, apa yang sudah dijalankan untuk terus membangkitkan pariwisata?

Selama covid-19, kita berjuang. Satu setengah tahun. Kita yang memperjuangkan bukabborder. Awalnya banyak yang pesimis. Tapi saya jalan terus. Disupport Gubernur Pak Ansar. Akhirnya dibuka juga. Dari 2021 semua acara saya gas saja. Perizinan kita koordinasi dengan kepolisian, dengan tentunya ada pembatasan massa.

Yang penting semangatnya saja dulu saat masa covid itu. Kebetulan saya juga berada di satgas covid. Jadi kita faham betul kondisi di lapangan. Yang penting peduli saja dulu kepada yang terdampak.

Contoh kemarin, ada pegawai mall yang tidak makan sama sekali karena tidak bekerja lagi, tak bisa makan. Itulah yang terjadi saat covid, saat mall semua ditutup. Sampai meninggal dunia. Tapi tidak terekspos. Tapi kita turun memberikan bantuan.

Kita berjuang saja belum tentu disetujui, apalagi diam. Jadi saat itu gubernur terus berjuang, bertemu menteri, bertemua semua pejabat pusat, bertemu mentri Singapura. Awalnya yang berjuang (pelaku pariwisata) Lagoi, lalu kita ikutkan Nongsa. Jadi kita tentukan titik bordernya. Ketemu Menko Perekonomian, yang buka border pertama, yang juga membuka vaksin pertama untuk Kepri. Ini yang betul betul perhatian.

Menurut saya, kepemimpinan itu diuji saat ada musibah. Apa yang dibuat, terhadap orang, terhadap masyarakat. Kita turun langsung. Pekerja pariwisata saat itu 14 ribu yang terdampak. Kita cuma dapat bantuan dari kementrian 8 ribu, jadi kita bagikan pelan pelan. Kita juga buat peduli kepri, bagi-bagi sembako.

Lalu kita bikin hastag Kepri Bangkit. Hastag pariwisata kepri bangkit dari dulu. Kita dekat boorder. Kita manfaatkan lokasi kedekatan dengan dua negara luar. Malaysia dan Singapura. Ini harus bisa dimanfaatkan, jangan hanya mereka yang memanfaatkan kita. Mana kota yang enak? seperti Batam. Apa yang tak ada di Batam? Semua ada. Bahkan dekat dengan negara luar.

Kenapa terkesan Lagoi yang selalu diperhatikan?

Sebenarnya Bintan, Lagoi itu sudah bergerak dari dulu. Minta buka border dengan beberapa titik titik. Cuma awalnya dianggap terlalu ekslklusif, baru kita gandeng juga Nongsa. Kita paparkan konsep dari Lagoi yang hendak border dibuka.

Banyak yang kritik kenapa cuma Nongsa dan Lagoi. Ini kan uji coba, setelah berhasil sekarang sudaha terbuka semua. Kalau kita buka semua di awal, tentulah (turis) Singapura tak mau. Karena kalau ekslusif Singapura merasa lebih aman.

Setelah dibukanya border ini, selanjutnya apa lagi yang mesti dilakukan agar pariwisata kembali pulih seperti sebelum pandemi?

Tinggal satu lagi PR, bebas kunjungan wisata. Sekarnag baru 9 negara. Kalau bebas visa mereka lebih banyak datang, akan berefek kesemua. Kalau visa kunjungan, cuma berdampak pada pendapatan ke negara. Tapi kalau bebas semua akan berdampak.

Sekarang Malaysia sudah menerapkan bebas visa. Banyak yang mengkritisi, kenapa yang diperhatikan untuk membangkitkan wisata hanya, tempat wisata besar, Lagoi, mall, hotel?

Di Lagoi waktu itu, sudah 500 karyawan sudah di-PHK. Ini dampaknya besar. untuk tidak ada PHK kedua. Jika karawawan ini kembali bekerja, dampak ekonominya juga besar.

Nah kalau hotel buka juga begitu. Di hotel akan kembali memperkerjakan karyawan, butuh pasokan, seperti lauk pauk, sayur dan berbagai kebutuhan hotel. Ini kemana tentulah juga ke pasar. Inilah dampaknya, semua akan kembali bergerak. Jangan lihat hotelnya, tapi lihatlah prosesnya dan dampaknya.

Begitu juga di mall. Jangan lihat mallnya. Lihat tenannya. Semua mati, tutup semua. Karena tenan itu hampir 200 tenan, contoh di BCS. Semua tenan tak bayar. Yang bekerja pada tenan, gajinya masih dibawah UMR, tapi mereka harus tak bekerja karena mall tutup. Inilah kenapa mall yang diprioritasnya dibuka, begitu juga yang terjadi di hotel.

Jangan lihat pariwistannya, lihat sektor lainnya. Semua akan bergerak. Transportasi, kuliner dan yang lainnya.

Ada juga yang bilang kenapa Nongsa yang dibuka, cuma memeprkaya yang sudah kaya di Nongsa. Jangan lihat Nongsanya, bukan itunya. Tapi lihat karyawan yang bekerja di sana. Efeknya bagaiamana, itu juga yang dipikirkan. Saya tak sanggup melihat masyarakat menderita.

Terlepas dari semua permasalah yang menjadi tugas Anda selama mengabdi, beberapa pekan lagi akan purna tugas. Ada yang menyebut, akan berpolitik?

Saya tidak alergi politik. Karena saya juga mendapatkan ilmu politik di kuliah. Pemerintah tak lepas dari politik. Tak ada lawan abadi dalam politik, tak ada teman sejati. Kalau mau politik hati nurani keluarkan dulu.

Politk santun itu yang harus diterapkan. Tak usah saling menjelekkan tapi adu program saja. Tapi kalau saya masuk politik, kita yang santun-santun saja.

Ada yang menyebut, nama Anda masuk radar untuk Pilkada Batam? Ada pula yang menganalisa, hanya Anda yang bisa “melawan” Wakil Walikota Amsakar untuk Pilkada Batam?

Saya tidak mau melawan Amsakar. Saya mau kolaborasi saja, hahahaha….

Begini, seandainya saya di eksekutif, saya tetap konsen di pariwisata, budaya dan olahraga. Banyak pemimpin daerah yang menggaungkan pariwisata jadi unggulan, tapi untuk anggaran, kecil. Coba cek paling 0,0000 sekian persen hahahah….

Artinya untuk kembali mengabdi dipemerintahan, sekarang harus ikut berpolitik?

Kedepan tak tahu. Kita tak boleh benci politik. Sekarang tidak birokrat. Tapi kita punya keiinginan untuk itu, yang bisa ya di legislatif. Artinya punya kesempatan punya akses interpensi.

Sudah ada parpol yang mau dijadikan perahu, atau bahkan ada yang melamar?

Yang suruh bikin KTA itu sudah dua parpol, tapi saya belum memilih. Tapi kalau memang mau maju ya harus dipikirkan, harus jadi. Kalau tidak bisa juga, ya kita memikirkan pariwista dari luar saja. Bikin cafe dan EO.

Lantas aktifitas apa setelah 1 Juli?

Sementara ini kerja saya setelah satu Juli, menulis untuk media khusus pariwista, menciptakan lagu, dan menjaga cucu saja. Politik, nanti sajalah cerita politik. dan satu lagi, ya jaga bunga, saya ahli memlihara agronema.

Ada juga beberap teman pengusaha yang mengaja kerja sama. Tapi kalau ada partai ada yang meminang dan cocok, ya bisa saja. Tapi kalau harus membayar untuk mendapatkan nomor urut di partai, ya untuk apa mending buat bisnis saja.

Artinya jika ke legislatif, paling tidak masuk bukan karena jabatan, tapi aksesnya. Kalau di dalam kita masih bisa mengembangkan pariwisata, budaya dan olah raga di Kepri. Untuk apa dekat Singapura, kalau tidak bisa kita manfaatkan.***