POSMETRO.CO Batam Kita

Batam Dulu, Kini dan Nanti

Oleh: Dora Andriani Sinaga

(Tour Guide Himpunan Pramuwisata Indonesia- Batam)

AKU berjalan menyusuri bundaran BP Batam yang dikelilingi bangunan-bangunan tinggi nan megah, tepat di depan alun-alun Engku putri.

“Ah, cepat sekali kota ini berkembang,” tuturku dalam benak. Terlihat 3 pohon beringin menghiasi bundaran dan sudah menjadi saksi sejarah perkembangan kota ini.

Aku penasaran dan mendekati ketiga pohon itu, ternyata pohon-pohon itu sudah berusia lebih dari 30 tahun menjadi saksi bisu perjanjian SIJORI.

Aku berdiri di atas pulau yang bersebelahan dengan negeri yang dulu disebut sebagai Temasek, (sekarang Singapura) adalah sebuah kota kecil yang dikenal dengan kota industry. Kota ini sebelum ditetapkan sebagai kawasan Industri oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia ke-2, memiliki sejarah yang sangat unik. Terdapat dua suku asli di sini, suku laut dan suku hutan.

Suku laut ditujukan kepada orang yang pada hakekatnya tempat dan lingkungan permukimannya berada di laut (Adrian. B Lapian, 2009 : 77).

Mereka hidup dalam kelompok yang dibedakan berdasarkan wilayah territorial tempat mereka tinggal. Hidup di atas sampan (kajang) yang terdiri dari satu keluarga.

Mereka akan mendarat di suatu pulau ketika mereka hendak mengambil air bersih, mengebumikan anggota kelompoknya yang meninggal dunia, dan menjual ikan hasil tangkapannya.

Tidak ada pulau yang tetap yang mereka singgahi, dimana mereka memerlukan kebutuhan hidup, di sanalah mereka akan berlabuh atau singgah. (Dikutip https://media.neliti.com/media/publications/79987-ID).

Lain halnya dengan suku hutan yang hidup di tengah hutan di pulau ini. Mereka dulunya bertahan dengan berladang dan akan turun ke laut mencari kerang atau kepiting, ketika keadaan air laut surut.

Batam kemudian semakin berkembang dengan pengukuhan Nong Isa sebagai pemegang pemerintah atas Batam 18 Desember 1829, dan menzahirkannya sebagai Wakil kerajaan Riau-Lingga di Nongsa, Pulau Batam.

Dimana kemudian tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Jadi kota Batam. (sumber; Dinas Pariwisata kebudayaan kota Batam; 2014 “Nong Isa Tonggak Awal Pemerintahan Batam).

Cikal bakal perindustrian di Batam dimulai dari bisnis yang didirikan oleh Raja Ali Kelana, setelah ia mendapat hak atas tanah kurnia kesultananan Riau-Lingga.

Bersama seorang pengusaha asal Singapura, Ong Sam Leong, dibukalah sebuah perusahaan batu bata bernama “Batam Brick works”.

Jauh setelah itu, kemerdekaan Indonesia diumumkan pada tahun 1945, dan menjadikan kota ini sebagai wilayah paling potensial untuk dikembangkan karena jaraknya yang dekat dengan Singapura dan Johor.

Karena itu kemudian pulau ini dijadikan sebagai tempat pengeboran minyak bumi lepas pantai oleh PN. Pertamina (1969), dan setahun setelah itu dikeluarkan Keppres.

Batam kemudian dikepalai oleh seorang Ketua Otorita yang menjadi penanggung jawab dalam membuat kebijakan untuk perkembangan infrastruktur, fasilitas perindustrian dan investasi.

Lalu statusnya berubah dari kecamatan menjadi Kota Madya Batam tahun 1983, yang dipimpin oleh walikota hingga saat ini.

Terkejut mendengar klakson mobil, aku terdistruksi dari lamunan dan seketika merasa bahagia dengan keputusan merantau ke kota ini.

Aku pun beranjak dari bawah pohon beringin itu dan bergegas berjalan ke arah museum Raja Ali Haji tepat di depan ku.

Batam seolah sudah berlari teramat kencang mengejar negara Singapura dengan perkembangannya.

Tidak heran jika Habibie menyebut Batam sebagai Singapura ke-dua. “Tidak salah aku memilih kota ini” ucapku lagi.

Sejak ditandatanganinya perjanjian SIJORI kota ini menjadi salah satu incaran pencari nafkah, karena peluang yang selalu ada untuk semua kalangan.

Perantau yang bekerja di Kawasan Industri Batam Indo menjadi pelengkap keragaman demografi di kota ini. Hasil dari perjanjian dengan negara tetangga telah membuka banyak lapangan pekerjaan hingga saat ini.

Ku langkahkan kakiku menyusuri anak tangga museum, “Selamat datang di Museum Raja Ali Haji” sapa petugas museum. Setelah mengisi buku tamu, aku masuk perlahan, terlihat lukisan besar Raja Ali Haji yang seolah menyambutku.  Ku pandangi lukisan itu, sebelum akhirnya aku beranjak menuju ke ruang koleksi Kesultanan Riau Lingga.

Di museum ini, aku bisa merasakan aroma tanah Melayu dalam kota industri. Seolah memiliki wajah berbeda, Batam telah bermetamorfosa menjadi salah satu kota dari empat kota yang paling banyak dikunjungi wisatawan manca negara.

Tidak menunggu lama untuk memikat hati wisatawan, pantai yang indah dan destinasi wisata yang semakin banyak bermunculan sudah mampu mengundang wisman dari negara-negara SE- Asia, China, India, Jepang, Korea dan kadang-kadang dari Inggris dan Amerika.

Misalnya saja wisatawan yang berasal dari Vietnam tetapi mereka sudah banyak merantau ke negara-negara lain dan menetap di sana. Mereka datang ke kota Batam, bersama keluarganya untuk berziarah (pilgrimage tourism) ke destinasi wisata Ex-Camp Vietnam, yang merupakan tempat bekas penampungan korban perang saudara (1955-1975) di pulau Galang.

Lain halnya dengan wisatawan dari Korea, yang datang ke Batam untuk menikmati wisata bahari. Pulau Ranoh, pulau Dedap, pulau Abang, serta yang belakangan ini muncul Kepri Coral, menjadi destinasi wajib bagi turis yang berasal dari negara the four little dragon itu.

Bahkan tersedia pemandu wisata khusus berbahasa Korea dan Mandarin, yang menciptakan suasana bak rumah kedua bagi turis dari negara band BTS itu.

Industri pariwisata saat ini sudah menunjukkan matahari terbitnya, tetapi matahari itu masih ditutupi awan tebal dan hanya sekali-kali sempat menyinari tandusnya industri “Wonderful Indonesia” ini.

Ah Batam ku, aku rindu memandu, tutur ku. Aku bergegas menuju ke koleksi foto-foto Batam masa kini, terpampang jelas 4 buah jam di dalam kotak kaca.

Ini adalah jam yang dulunya berada di simpang jam, sebelum dibangunnya fly over Madani. Jam ini banyak menyimpan kenangan indah kondisi kota si luti gendang.

Saat ini, pandemic membuat kota sepi dengan pelancong, namun hal yang patut dibanggakan Ia tetap berdiri kokoh dengan status “kota industri”.

Meski badai menghantam hebat, pembangunan tetap diteruskan. Berbagai fasilitas umum mulai dibenahi, jalan-jalan diperlebar, identitas sebagai tanah Melayu tetap dijunjung tinggi.

Keyakinan inilah yang tetap membuatku bertahan di sini. Karena seburuk apapun kondisi saat ini, pada akhirnya akan usai jua. Bagaikan sebuah pantun,

Tengah hari menangkap ketam

Untuk hidangan di malam nanti

Negeri indah inilah Batam

Yang berjuluk bandar dunia madani

(Pantun oleh: Syahrullah Arul Arifin)

Aku pun bergegas pulang, hari ini aku merasa Batam bukan hanya milik ku, tapi Batam milik kita! ***