POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Ketahuan Selundupkan TKW Ilegal ke Malaysia, Tekong Lompat ke Laut

BATAM, POSMETRO.CO: Nyawa wanita bernama Nurhayati, 33 tahun ini, nyaris melayang. Speedboat yang ditumpangi nya di perairan Belakangpadang, Batam, menabrak hutan bakau.

Kamis (18/11) malam sekitar pukul 20.30 WIB itu, bersama tujuh calon pekerja migran lainnya, wanita asal Lombok ini akan diberangkatkan ke Malaysia.

“Kami takut. Takut kapal terbalik. Saya langsung teringat anak di kampung,” ucap wanita bertubuh subur ini ditemui POSMETRO di ruang pemeriksaan Penegakan Hukum (Gakum) Satpolair Polresta Barelang, Senin (22/11).

Nurhayati, tak berhenti berucap syukur. Dirinya bersama rekannya yang lain selamat dari maut, meski gagal berburu ringgit ke negeri jiran Malaysia.

“Saya mau pulang (kampung) saja. Nggak masalah nggak jadi berangkat ke Malaysia. Kasihan anak saya,” kata ibu anak tiga itu. Nurhayati tak menyangka, niatnya membantu meningkatkan ekonomi keluarga jadi berbuah pahit.

“Saya tahunya diajak kerja di Malaysia. Dijanjikan digaji 1500 ringgit per bulan. Jadi dari kampung saya tidak bayar sepeserpun. Semua akomodasi ditanggung agen. Tapi gaji 4 bulan nanti yang dipotong,” kata Nurhayati, yang mengaku akan dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga itu.

Ya, sekelompok calon pekerja migran Indonesia ilegal yang hendak berangkat ke Malaysia ini dikejar oleh tim Gakum Satpolair Polresta Barelang.

“Saat dikejar, tekong berusaha kabur dengan melompat ke laut setelah menabrakan speedboat ke hutan bakau. Sementara, penumpang nya 8 calon TKW ilegal ini ketakutan. Dan akhirnya kita amankan untuk dimintai keterangan,” ucap Kepala Satuan Polisi Air Polresta Barelang, AKP Badawi, Senin (22/11).

Pihaknya berhasil mengamankan RM, tekong yang kabur itu sehari setelah kejadian. Badawi menyebut, delapan calon TKW yang menjadi korban berasal dari berbagai daerah diantaranya 2 orang dari Lombok, 2 dari Banyuwangi, 1 orang dari Malang, 1 orang dari Lamongan , 1 orang dari Sleman dan 1 orang dari Palembang.

“Kebanyakan mereka direkrut oleh pekerja lapangan, salah satu agen di Surabaya wanita berinisial IC kini masuk DPO,” jelas Badawi.

Selanjutnya dikirim ke Batam dan dijemput oleh pria berinisial AD juga DPO, di bandara dan diinapkan di salah satu Home Stay yang ada di wilayah Batam sebelum di bawa ke Belakangpadang.

“Dua korban ada yang membayar Rp 11 juta dan Rp 6,5 juta. Tapi yang tidak membayar, semua ditanggung agen. Gajinya dipotong 4 bulan,” katanya lagi.

Jadi, delapan orang calon TKW ini dibawa oleh tekong berinisial RM ke Pulau Buaya tempat transit ke Malaysia. “Per kepala bayar ongkos Rp 100 ribu. Mereka di antar sampai ke Pulau Buaya. Dari sana ada satu lagi N, masuk DPO kita yang akan mengantar sampai ke Malaysia,” imbuh Kanit Gakum Satpolair Polresta Barelang, Iptu Bowo.

Lanjut Bowo, pengakuan dari RM si tekong sudah yang ke 4 kalinya membawa imigran gelap. Pelaku dijerat Pasal 81, Pasal 83 UU Nomor 18 Tahun 2017, tentang Perlindungan Pekerja Miran Indonesia, ancaman 10 tahun penjara. (cnk)