POSMETRO.CO Nasional Daerah

Gerakan Sedekah Sampah Solusi Atasi Sampah di Indonesia

posmetro.co — Bekasi: Sebagai perwujudan sinergi antara pendekatan agama dan kesadaran lingkungan, Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) menggelar acara Serial Workshop 1 Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) mengangkat tema “Potensi Sampah sebagai Penggerak Ekonomi dan Pemberdayaan Umat” pada Minggu, 21 November 2021.

Acara ini juga turut bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Majelis Ulama Indonesia, dan United Nation Development Program (UNDP) Indonesia. Kegiatan yang melibatkan pengurus Masjid Penggerak Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) ini diselenggarakan di Masjid Baitul Makmur, Perumahan Telaga Sakinah, Kab. Bekasi, Jawa Barat.

Acara Serial Workshop 1 GRADASI bertajuk “Potensi Sampah sebagai Penggerak Ekonomi dan Pemberdayaan Umat” ini merupakan kegiatan lanjutan dari peluncuran Gerakan Sedekah Sampah Indonesia pada April lalu. Diadakannya kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pengurus masjid GRADASI agar dapat membangun hubungan kemitraan yang baik dengan pemangku kepentingan atau stakeholder dan dapat mendukung berkembangnya kegiatan sedekah sampah.

Selain itu, acara workshop ini juga merupakan pengembangan dan upaya untuk menyebarluaskan Gerakan Sedekah Sampah Indonesia yang sebelumnya sudah ada 6 Masjid Penggerak lainnya.
Dalam sambutannya, Hayu Susilo Prabowo, Direktur LPLH MUI menyatakan bahwa, “Gerakan sedekah sampah merupakan penerapan dari fatwa MUI no. 47/2014, sehingga pengelolaan sampah ini menjadi bagian dari ibadah dalam meningkatkan iman dan takwa seorang muslim serta mencerminkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam.”

Kegiatan ini pun disambut dengan baik oleh Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK. “Saya berharap masjid dapat menjadi pusat perubahan perilaku. Memilah sampah dari rumah harus menjadi sebuah kesadaran, dimana kemudian gerakan sedekah sampah dapat berjalan,” ujar Novrizal pada reporter di Bekasi Ahad (21/11/2021).

“Kita membangun kultur masif, dan mengubah perilaku hidup minim sampah, mengurangi yang tidak perlu, bangun edukasi pada jamaah. Filosofinya semua orang bisa bersedekah semiskin apapun. Mari bersama gradasi buat perubahan. Kita bergerak secara masif dan massal,” imbuhnya.

Natural Resource and Climate Governance Adviser UNDP Indonesia, Abdul Wahib Situmorang juga menambahkan, “Jika dulu bank sampah menjadi khas Indonesia, sekarang gerakan sedekah sampah juga menjadi khas Indonesia.”

“Gradasi buat gerakan cerdas karena bergerak bukan dengan uang dan mengajak masyarakat atasi persoalan sampah. Inilah solusi atasi sampah. Merubah perilaku masyarakat ramah lingkungan,” paparnya.

Ahmad Bahri Rambe dari Sekretariat TKN PSL juga menyampaikan bahwa, “Melalui sedekah sampah, masyarakat dapat bersedekah dengan memberikan sampah yang ada di rumah dan di sekitarnya. Program ini dapat membantu mencapai dua hal penting bagi pemerintah dan masyarakat. Selain itu, program ini juga dapat mewujudkan lingkungan yang bersih dan membantu perekonomian sesama masyarakat,” ungkapnya.

Saat ini, pendekatan keagamaan sangat penting, karena selain meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, pendekatan agama juga dapat mengedukasi dan memberi contoh baik untuk mengelola sampah sesuai dengan syariat terhadap fatwa tentang kebersihan. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di laut. Hal ini terbukti dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 83/2018 tentang Penanganan Sampah Laut, dimana didalamnya terdapat target penanganan sampah plastik di laut sebesar 70% pada tahun 2025. Melalui Perpres ini, dibentuk pula Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dan Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) yang memberikan arahan-arahan strategis bagi kementerian/lembaga untuk menangani permasalahan sampah laut.

Dalam sesi pemaparan materi mengenai “Pemilahan sampah dalam upaya implementasi sirkular ekonomi” Wilda Yanti sebagai Pendiri Xaviera Global Synergy menyatakan bahwa, “Dibanding pendekatan sosial dan ekonomi, pendekatan agama jauh lebih efektif. Kunci dari gerakan ini adalah pilah sampah dari sumbernya.”

Karyanto Wibowo selaku Director of Sustainable Development of Danone Indonesia juga menyampaikan bahwa penyelesaian sampah tidak dapat dilakukan oleh salah satu pihak saja, melainkan dibutuhkan kolaborasi antar-stakeholder, pada sesi penyampaian materinya mengenai “Pentingnya Kemitraan dalam Membangun Kesadaran Masyarakat Untuk Mengelola Sampah”.

Rangkaian serial workshop ini nantinya akan terus dilaksanakan dalam rangka mendukung aktivitas Gerakan Nasional Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) Berbasis Masjid. Gerakan ini  merupakan aksi yang dilakukan dalam rangka mengurangi pencemaran sampah di laut dengan cara mengajak masyarakat dan komunitas agama untuk mengkampanyekan kebiasaan memilah sampah untuk kemudian disedekahkan ke masjid sebagai sebuah amal baik dan berguna bagi kemaslahatan umat.

Kegiatan GRADASI dilakukan dengan cara mengkampanyekan kebiasaan mengurangi dan mengolah sampah plastik dengan cara mengedukasi dan mengajak masyarakat, terutama umat Muslim untuk mendorong melakukan sedekah di masjid. Dengan mengkampanyekan program Gradasi, masyarakat bisa bersedekah dalam bentuk sampah yang memiliki nilai ekonomis. Selain dapat meraih pahala dan menanam kebaikan, program ini juga bertujuan untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, membiasakan perilaku memilah sampah, serta mendukung program pemerintah dalam mengurangi sampah plastik agar dapat mendorong perekonomian bangsa melalui penerapan ekonomi sirkular.

Sejauh ini, Gerakan Sedekah Sampah Indonesia Berbasis Masjid telah diterapkan di 6 masjid yang menjadi percontohan dan penggerak yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, yaitu Masjid Baitul MakMur di Bekasi, Masjid Raya Bintaro Jaya di Tangerang, Masjid Az-Zikra di Bogor, Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, Masjid Al-Muharram di Yogyakarta, dan Masjid An-Nazhofah di Jakarta. Dari keenam masjid tersebut, tercatat sudah lebih dari 14,1 ton sampah yang tertangani dan terkumpul dari gerakan sedekah sampah ini.

Gerakan ini pun mendapatkan banyak respon positif dari masyarakat sekitar, dan juga mulai banyak masjid-masjid lain yang tertarik untuk mengadaptasi gerakan ini “GRADASI memiliki banyak manfaat, saya pribadi merasa termotivasi untuk melakukan sedekah sampah. Selain memiliki nilai untuk dijual, ternyata sampah juga memiliki manfaat untuk beramal.” ujar Zuhri, salah satu warga sekitar Masjid Penggerak sekaligus pengurus Musholla An-Nur, Bekasi.

Sedekah Sampah diharapkan dapat menjadi sebuah gerakan yang diaplikasikan dan diterapkan di masjid-masjid lainnya di seluruh Indonesia. Tidak hanya untuk mewujudkan pengurangan dan pengelolaan sampah di masyarakat, tetapi juga untuk meningkatkan kesalehan individu dan memaksimalkan peran masjid sebagai unsur penting dalam menjalankan kegiatan Islam.

Tentang TKN PSL Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengatasi permasalahan sampah plastik di laut. Hal ini terbukti dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 83/2018 tentang Penanganan Sampah Laut, dimana didalamnya terdapat target penanganan sampah plastik di laut sebesar 70% pada tahun 2025. Melalui Perpres ini, dibentuk pula Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) dan Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut (RAN PSL) yang memberikan arahan-arahan strategis bagi kementerian/lembaga untuk menangani permasalahan sampah laut selama jangka waktu 8 tahun (2018-2025).

TKN PSL diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai ketua harian. Selain itu Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bertindak sebagai Ketua Tim Pelaksana RAN PSL dan Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi bertindak sebagai Wakil Ketua Tim Pelaksana RAN PSL. Sebanyak 16 kementerian dan 1 lembaga tergabung dalam TKN PSL.

Saat ini, 80% sampah laut Indonesia berasal dari daratan dan 30% diantaranya dikategorikan sebagai sampah plastik. Setiap tahunnya, 0,27 – 0,59 juta ton sampah plastik masuk ke perairan Indonesia dan berkontribusi terhadap akumulasi sampah lokal (LIPI, 2018). Hal ini turut dipengaruhi oleh pasang surut ombak di laut (Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, 2018).
(fri)