POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Bersemi Kala Pandemi: 6 Taekwondoin Kharisma Bangsa Lulus Ujian Sabuk Hitam

Soewito (tiga dari kanan) dan Siaw Lung (tengah) foto bersama taekwondoin yang baru lulus sabuk hitam.

BATAM, POSMETRO.CO : Jadwal latihannya padat. Harus pandai-pandai membagi waktu. Begitulah keseharian Soewito Trikusuman. Sehari, tak hanya satu tempat saja. Kamis (4/11) sore, Soewito melatih di Kabil.

“Ini lanjut ke Zia Hotel,” katanya, sore itu pada POSMETRO. Di hotel yang disebut, Soewito juga punya dojang, tempat latihan taekwondo. “Sekarang makin sibuk lagi, banyak kejuaraan,” sebutnya.

Taekwondo, bagi Soewito, tak bisa dipisahkan dari kehidupannya sehari-hari. Kendati begitu, ia tetap bisa membagi waktu dengan keluarga dan pekerjaan.

“Saya juga punya target, melahirkan sabuk hitam yang bisa membantu pengembangan taewkondo di Batam, Kepulauan Riau,” sebutnya. Di bawah naungan UTI Pro, Soewito terus mengembangkan beladiri asal Korea ini di Kepri. Caranya, ia membuka banyak tempat latihan.

“Sebanyak-banyaknya, agar keberadaan taekwondo ini makin dekat dengan masyarakat,” katanya.

Bertahun-tahun merintis perkembangan taekwondo di Kepri, sudah banyak siswanya yang sudah mencapai sabuk hitam. Terbaru, ada enam taekwondoin (siswa taekwondo) Kharisma Bangsa meraih sabuk hitam. Pandemi Covid-19 ini, tak membuat Soewito patah semangat. Terbukti, 24 Oktober 2021, ujian sabuk hitam itu sukses digelar di DC Mall. Ya, bersemi di kala pandemi. Bermunculan pelatih-pelatih baru yang akan menyebarkan taekwondo UTI Pro di Kepri.

Walau digelar di Batam, pengujinya harus berstatus sebagai penguji nasional. Disaksikan langsung oleh Penguji Nasional, Siaw Lung, Dan 7 Internasional Kukkiwon Korea, enam calon sabuk hitam itu menunjukan keterampilannya memperagakan teknik-teknik tendangan. Siaw Lung berdecak kagum. Tak jarang ia bertepuk tangan saat menyaksikan peserta ujian sabuk hitam berhasil menghancurkan target tendangan.

Enam taekwondoin yang lulus sabuk hitam itu adalah: Julbrianna Tan, Naila Hazhiyah Refia, Andreas Bunarto, Vincent Gonawan, Vinhant Gonawan dan Ilona Richele. “Vincent dan Vinhant ini merupakan Abang-Adik,” jelas Soewito.

Sabuk hitam, kata Soewito, bukan hanya tentang warna hitam yang melekat di pinggang. “Ini tanggung jawab,” imbuhnya. Dinilai memiliki kematangan teknik, Soewito berharap, pemegang sabuk hitam ini juga bisa menjadi pelatih yang bisa diandalkan. “Harapan saya, pemegang sabuk hitam ini bisa menjadi pemimpin dan bisa mengembangkan taekwondo di Batam, Kepulauan Riau,” ujar Soewito.

Soewito meyakini, jika bersungguh-sungguh ikut mengembangkan taekwondo, para pemegang sabuk hitam itu juga akan bisa mengikuti jejaknya sebagai pelatih. “Jika kita memberikan yang maksimal, maka hasilnya juga maksimal,” tegasnya.

Ia berpesan, dalam menjalankan sebuah aktivitas yang positif, ada saja beberapa rintangan yang akan dihadapi.

“Tetap semangat. Karena ini menjadi modal utama yang harus dimiliki oleh setiap pelatih,” katanya. Seseorang, kata Soewito, tidak akan tahu rasanya jadi pelatih sebelum menjadi seorang pelatih. Soewito akan terus membimbing sabuk hitam ini. Bahkan ada jadwal latihan khusus bagi pemegang sabuk hitam.

Soewito menambahkan, taekwondo tidak hanya mengajarkan tentang menendang maupun teknik-teknik pembelaan diri. Taekwondo juga bertujuan menjadikan seseorang punya moral dan mental yang bagus.

“Disiplin, itu hal utama yang ditekankan pada taekwondoin,” sebutnya. Tanpa kedisiplinan, seseorang tak akan bisa mencapai target. “Dalam berlatih, ini sudah diterapkan, contoh kecilnya saja, tepat waktu datang ke tempat latihan,” ujarnya. Selain itu, taekwondoin juga diharapkan bisa membagi waktunya dengan baik. “Bagi pelajar maupun seseorang yang sudah bekerja, sebenarnya tidak ada alasan tak bisa latihan. Sehat itu penting,” pesannya.

Dengan rutin berlatih taekwondo, Soewito menyebut, seseorang akan memiliki kesehatan dan fisik yang bagus.(chi)