POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Kisah Istri ‘Koko’ Singapura Mencari Keadilan di Batam

TANAH kuburan itu masih basah. Ucapan belasungkawa masih mengalir dari sanak famili hingga kolega. Baru beberapa minggu kepergian suaminya, Lim Siang Huat alias Among, wanita bernama Dewi Triyanawati ini dihadapkan kembali duka baru.

Bak petir di siang bolong. Tak tahu apa yang akan diperbuat. Kabar dari Darma Wangsa, anak buah almarhum suaminya itu seakan tak ingin didengarnya lagi.

“Pak Darma Wangsa telepon lalu bilang, kalau dia sudah tidak menjadi Komisaris lagi di perusahaan kami. Semua sahamnya diambil alih oleh anak buahnya (menyebut nama Roliati),” kisah Dewi bercerita kepada POSMETRO, Senin (16/8).

Roliati adalah admin yang mengurus keuangan perusahaan mereka. PT Active Marine Indonesia yang bergerak di bidang Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) Pandan Wangi, Sukajadi, atau persis di sebelah Kepri Mall, Batam ini adalah milik Lim Siang Huat tak lain warga Singapura.

“Dia (Roliati) karyawan, sudah kami anggap keluarga. Ada acara keluarga (syukuran) di rumah, kami undang,” kata Dewi. Diakuinya, memang semasa hidup almarhum suami perhatian dengan orang yang sudah lama ikut dengan mereka.

“Salah satunya, Pak Darma Wangsa tadi,” lanjut Dewi. Ia bercerita, dengan almarhum suami, mulai merintis karir dari nol. Sempat juga ngontrak ruko di Batam. Kemudian tahun 2005 mulailah mendirikan perusahaan.

Pada tahun 2015 mereka buka usaha pengelolaan SPBU di Pandan Wangi, Sukajadi, Batam. Bekerja sama dengan pemilik lahan.

Saat itu Dewi menjabat sebagai Direktur dan Darma Wangsa orang kepercayaan suami, diangkat sebagai Komisaris. Pertama saham nya diberi 10 persen.

Nah, seiiring berjalannya waktu, tahun 2018 perusahaan yang mereka kelola menjadi berkembang. “Sampai kami punya 2 perusahaan lagi. Bidang Shipyard, Hotel dan agrowisata berupa pulau serta aset lainnya,” jelas Dewi.

Di tahun itu, karena Penanam Modal Asing (PMA) dilakukanlah perubahan saham. Bambang, karyawan yang juga diperhatikan almarhum selama ini diangkat sebagai Direktur. Sementara Dewi sebagai Direktur Utama dan Darma Wangsa tetap sebagai Komisaris.

Nah karena menetap di Singapura bersama dua orang anaknya yang masih kecil, diadakan lagi perubahan struktur di jajaran direksi. Dalam akta notaris Bambang sebagai Direktur dengan saham 300 lembar dan Darma Wangsa dengan saham 450 lembar.

“Tahun 2019 kami menetap di Singapura. Almarhum, bolak balik Batam- Singapura,” kenangnya. Karena Covid-19 mewabah, mereka terkurung di Singapura. Among terkurung di Batam. Namun lanjut Dewi pada 6 Juni 2021 lalu, Lim Siang Huat meninggal di kediamannya, kawasan elite di Bukit Senyum, Batuampar. Tanggal 12 Juni 2021 dikremasi abu jenazahnya.

“Tanggal 21 Juni 2021 itulah saya dapat kabar dari Pak Darma Wangsa bahwa saham miliknya ‘diambil’ oleh anak buah kita,” katanya lirih.

Itupun diamini oleh Darma Wangsa. Menurutnya, mendiang semasa hidup telah berbuat baik. Hingga membantu perekonomian keluarganya.

“Saya diminta menjadi Komisaris, karena orangnya baik, saya terima. Tapi saat itu saya sempat pesan ke mendiang, tolong dijaga nama baik saya,” kata Darma Wangsa.

Peralihan Saham Dikemas sebagai Jual Beli
Terkait peralihan saham yang ‘dikemas’ sebagai jual beli itu, Darma Wangsa mengaku, bingung. “Namanya saja saya Komisaris, tapi saya jaga portal di depan. Jadi nggak tahu apa-apa soal itu,” kata Darma Wangsa.

Ia bercerita pada tanggal 21 Juni 2021 itu dirinya dibawa dan diminta untuk menandatangani surat (akte) di kantor notaris. “Saya dipanggil ke office. Buk Roliati ajak saya ke Nagoya. Tidak ada ngasih tahu mau kemana. Saya ikut saja, lalu tiba di sebuah kantor (baru tahu itu kalau kantor notaris)” kenangnya.

Dermawan banyak diam. Tidak paham lalu disuruh menandatangani surat atau akte yang belakangan diketahui nya itu adalah peralihan jual beli saham.

“Pertama saya absen lalu cap jempol. Saat itu ada Pak Bambang dan Buk Roliati. Saat akan tanda tangan yang kedua itu, Buk Roliati bilang kalau ini adalah amanah almarhum. Karena dibilang amanah, saya tandatangani,” kenangnya.

Layaknya jual beli saham. Saham milik Darma Wangsa 450 lembar tadi dialihkan ke Roliati selaku Direktur, kemudian Bambang sebanyak 300 lembar saham.

“Tapi saya tidak tahu itu adalah jual beli saham. Saya buta hukum. Disuruh tanda tangan saya tandatangani. Sementara tak sepeserpun rupiah yang saya terima, kalau itu jual beli,” kata Darma Wangsa lagi di depan pengacaranya.

Apalagi saat ditanya, apakah dirinya diundang untuk RUPS oleh para pihak? Dermawan malah bingung lagi. Apa itu RUPS. “Setelah saya cari di google ternyata itu Rapat Umum Pemegang Saham. Baru saya tahu itu artinya,” timpalnya.

Melalui Penasehat Hukum Bottor Erikson Pardede, Darma Wangsa melakukan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) ke Pengadilan Negeri Batam.

“Kami menilai cara-cara yang dilakukan oleh pihak Tergugat tidak benar dan tidak sesuai dengan UU. Ini yang kami lawan,” tegas Bottor didampingi rekannya Harris Hutabarat dan Manner Lubis Suhariyadi, ditemui di PN Batam, Senin (16/8).

Hari itu agendanya, mediasi para pihak. Namun notaris yang mengeluarkan akta peralihan saham tidak datang, hingga mediasi ditunda Minggu depan.

Bottor menilai, selama ini ada yang menganggap Dewi sudah diceraikan oleh almarhum. “Kami tegaskan sampai saat ini klien kami belum cerai, masih menjadi istri sah Lim Siang Huat,” tegasnya sambil melihatkan akte pernikahan yang dilakukan di Singapura tahun 2006 dan dicatatkan di catatan sipil Disdukcapil Batam tanggal 27 Februari 2007 itu.

Kemudian Bottor juga melihatkan akte lahir dua orang anak kliennya tersebut. “Dewi dan dua anaknya ini kan ahli waris. Mereka sekarang terlantar.
Karyawan nya yang malah menguasai seluruh harta nya. Kejam,” imbuhnya.

Penasihat Tergugat: Masih Mediasi, Kita Berharap yang Terbaik

Terpisah, Penasehat Hukum Perusahaan (Tergugat), Daniel saat ditemui di PN Batam, mengatakan, masih menunggu tahapan gugatan.

“Saat ini masih mediasi. Kita berharap yang terbaik untuk para pihak. Tapi jika tak ketemu ujungnya, kita akan sampaikan fakta fakta hukum yang kami pegang,” timpal Daniel.

Daniel tidak ingin memperlebar dulu perkara tersebut, karena ini sifatnya konfiden. Ia berharap semua pihak yang berperkara dapat menjaga itikad prinsip mediasi. “Jangan masuk ke pokok perkara dulu, karena masih mediasi,” katanya. (cnk)