POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Yang Tersisa di Hutan Wisata Mata Kucing (bagian 1)

Nety Herawati, tidak dapat berkata kata. Ia berusaha belajar untuk jalan sambil mendorong kursi rodanya. Nafasnya pendek. Tidak berani jauh dari kamar. Mau pingsan dirasanya. Dari luar mess, Hutan Wisata Mata Kucing, Batam, Kepulauan Riau di Senin (26/7) pagi itu, perasaan Nety Herawati makin gundah.

Setelah mendengar suara-suara samar. Mau marah, Nety tidak tahu kepada siapa rasa itu akan dihempas nya. Nety berusaha kuat. Ia pasrah.

Dari kaca gawainya melihat kiriman foto dan video satwa kesayangannya yang dikeluarkan dari kandang oleh petugas dari Bidang KSDA Wilayah I Seksi Konservasi Wilayah II Batam
untuk dibawa ke tempat konservasi yang lebih baik. Ya. Taman Safari Lagoi Bintan, Kepulauan Riau, tujuan satwa tersebut.

Pandemi telah merenggut semuanya. ¬†Perjuangannya puluhan tahun merawat satwa hanya sampai di situ saja. Mereka berpisah. Nety menitikkan air mata. “Mereka adalah keluarga saya yang sudah hidup dengan saya 20 tahun,” kenang Nety Herawati bercerita kepada POSMETRO di Hutan Wisata Mata Kucing lewat Video Call, Rabu (28/7) siang.

“Semua (satwa) sudah tua atau senior. Ikan arwana dulu diantar 4 ekor, sudah menjadi ratusan ekor, banyak kantor pejabat yang meminta, kami selalu kasih dengan ikhlas,” akunya.

Begitu juga dengan Beruang dan Buaya dari Yonif 134 (sekarang Yonif 136) sudah 15 tahun mereka jaga. Burung elang dan burung Kakatua dari mantan pejabat yang pindah tugas.

“Mudah mudahan di tempat yang baru mereka lebih baik, lebih sehat, lebih terjamin. Karena Taman Safari itu besar, kalau Hutan Wisata Mata Kucing kecil,” harapnya.

Dengan kondisi yang lagi terbaring lemas saat ini, Nety mengaku, juga tak bisa merawat. Ditambah dengan aturan pemerintah menutup tempat tempat wisata dengan alasan mengantisipasi penyebaran penularan virus Covid-19.

Memang, pasca pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), uang masuk di Hutan Wisata Mata Kucing tipis. Sementara cukup banyak satwa yang di lindungi negara serta satwa liar yang bergantung hidup disitu.

“Peraturan pemerintah PPKM pintu tempat wisata tutup, ya kita ngikut lah,” ucap Nety. Namun, saat Hutan Wisata Mata Kucing tutup dirinya sudah diisolasi.

“Akibat pandemi, jumlah pengunjung saat itu tinggal 15 persen saja dari hari biasa. Jauh sekali turunnya. Sabtu Minggu dapat lumayan. Terakhir hanya dapat satu juta. Cuma ratusan orang yang datang,” kenangnya.

Ujian pandemi itu juga berdampak kepada puluhan ekor satwa di Hutan Wisata Mata Kucing. Demikian juga sebagian besar karyawan terpaksa dirumahkan.

Sebagian kecil tetap masuk walaupun secara sukarela, semata-mata agar tetap dapat memberi makan hewan, dengan bahan-bahan makanan hasil buruan di hutan yang bisa ditemukan yang kurang layak dikonsumsi, seperti tikus dan lainnya.

“Untuk karyawan biasanya berjumlah 29 orang, sekarang sisa 5 orang,” sebut Nety. Hutan Wisata Mata Kucing merupakan rumah besar satwa-satwa buangan yang terabaikan.

Ada puluhan kucing-kucing yang dibuang orang. Jika sebelum pandemi, pengelola biasa memberi mereka ikan goreng, saat ini tidak jarang terpaksa diberi makan tikus hasil tangkapan relawan. Atau makanan apa pun yang bisa ditemukan seadanya.

“Ada sepasang beruang sepang yang seharusnya mengkonsumsi buah dan nasi, ada 5 ekor buaya yang membutuhkan pakan berupa ayam mentah atau ayam hidup. Dan berbagai satwa lain seperti burung elang, lutung, monyet liar, lemur dan berbagai jenis ikan di sana juga kekurangan pakan,” bebernya.

Ditambah lagi, listrik di sana yang sudah menunggak pembayaran cukup lama dan disurati hari Sabtu 24 Juli 2021 akan diputus oleh PLN.

Jika pompa kolam ikan mati, ikan-ikan di kolam akan mati pula. Demikian jika mesin pendingin makanan mati, stok pakan akan basi dan satwa lainnya di sana terancam kelaparan dan mati pula. “Tapi untuk listrik sudah dibayar oleh keluarga saya,” katanya.

Saat ini Hutan Wisata Mata Kucing
hanya bisa bertahan. “Apa yang ada, apa yang bisa dijadikan duit asal jangan mengganggu hewan,” sambung Nety. Nety berharap hewan tidak dikurung. Seperti selama ini, monyet liar, lutung liar serta kucing kampung yang setiap hari diberinya makan.

“Kalau ada yang berkenan mengantar buah, dan lainnya. Di dekat parkiran mobil itu tempat mereka biasa makan, ada ada ratusan ekor di situ. Nety tak dapat menghitungnya dengan uang berapa pakan yang dibutuhkan jika ada donasi dari relawan.

“Biasanya buah seperti pepaya, pisang dan lainnya paling sedikit satu hari itu saya beli 10 kg. Lalu dipotong potong dan ditaruh di pinggir hutan. Jadi monyet monyet itu tetap bahagia,” terangnya.

Kalau ular piton lanjut Nety, itu pakannya harus ayam hidup. 20 hari sekali, 3 ekor. Rata rata 20 persen dari berat badan ular. “Kalau ular piton ini dia datang sendiri, 6 bulan dilepas, ada lagi yang datang,” katanya.(aulia ichsan)