POSMETRO.CO Metro Kepri

Sirajuddin Nur : Kepri Harus Fokus Kembangkan Dunia Maritim

Sirajuddin Nur

BATAM, POSMETRO.CO : Secara keseluruhan wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terdiri dari 5 kabupaten, dan 2 kota, 52 kecamatan serta 299 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar, dan kecil yang 30 persen belum bernama, dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 8.201,72 km², sekitar 96 persen merupakan lautan, dan hanya sekitar 4 persen daratan.

Dengan luas lautan yang begitu dominan, sudah seharusnya Kepri menjadi provinsi dengan sumber daya ekonomi yang lebih kuat di bidang maritim. Namun sayangnya potensi ini belum bisa digarap dengan maksimal.

Seharusnya, Kepulauan Riau harus lebih aktif dan fokus melaksanakan kegiatan penelitian bidang kelautan dan perikanan, sebagai langkah awal untuk mengembangkan potensi maritim.

Sebab laut merupakan sumber daya alam terbesar di Kepri. Dengan satu fokus, maka seluruh potensi dapat diarahkan dan didayagunakan seoptimal mungkin, hal ini juga mengingat anggaran pemerintah, fasilitas, dan sumber daya manusia yang terbatas.

Untuk mencapai kemandirian dan daya saing daerah, peran ilmu pengetahuan sangat besar artinya. Hal ini disampaikan Anggota DPRD Kepri Sirajudin Nur, yang juga Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kepri pada POSMETRO, Kamis (29/4/2020) malam.

“Pemerintah daerah seharusnya fokus pada pengembangan sektor kelautan di berbagai aspek untuk memajukan perekonomian daerah. Apalagi, Kepri adalah wilayah kepulauan dengan luas wilayah lautnya mencapai 96 persen dari total luas wilayah Provinsi ini. Kepri memiliki kekayaan alam bawah laut yang melimpah dan juga potensi ekonomi di permukaan,” ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kepri ini.

Sirajudin menambahkan, melalui pengembangan sektor kelautan, berbagai kegiatan yang ekonomis, seperti pemanfaatan dan budidaya potensi perikanan, eksplorasi dan eksploitasi migas di lepas pantai, hingga sarana transportasi, dapat terus dikembangkan berbasis ilmu pengetahuan.

Kepri juga dapat dikembangkan sebagai daerah pertahanan dan keamanan negara guna mengatasi penangkapan ikan ilegal.

Sebagai wilayah kepulauan, Kepri juga di anugerahi potensi wisata bahari yang menakjubkan yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten/Kota yang ada.

“Sayangnya potensi ini belum dimaksimalkan pemanfaatannya, sebagai salah satu pilar ekonomi masyarakat pesisir. Perlu dilakukan upaya luar biasa untuk memaksimalkan potensi kelautan ini melalui serangkaian penelitian pengembangan wilayah laut dan pesisir,” tambah politisi dari PKB ini.

Dilanjutkannya juga, saat ini pemerintah telah memiliki instrumen regulasi yakni melalui Undang Undang No. 1 Tahun 2014 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau pulau kecil dan perundangan terkait lainnya. Dan di tingkat Propinsi, Kepri juga telah memiliki Perda Rencana Zonasi Wilayah Pesisir (RZWP), sebagai upaya strategis untuk memanfaatkan dan mengembangkan wilayah kelautan sebagai pilar ekonomi strategis bangsa dan daerah.

Dari data Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (BARENLITBANG) Provinsi Kepri, beragam potensi perairan yang bisa diandalkan Kepri diantaranya:

PERIKANAN

Secara garis besar, jenis sumber daya ikan yang terdapat di perairan laut Kepri adalah kelompok sumber daya ikan pelagis (tongkol, tenggiri, kembung, layang, teri dan sebagainya), kelompok sumber daya ikan demersal [kakap merah, kurisi, beloso, bawal, dsb), kelompok sumber daya ikan karang (kerapu, baronang, napoleon, dsb), kelompok sumber daya moluska (cumi-cumi, sotong, dsb), dan kelompok sumber daya krustase [kepiting, rajungan], dan kelompok sumber daya udang.

PERIKANAN TANGKAP

Potensi sumber daya ikan laut di Laut Cina Selatan (WPP 711) diperkirakan sebesar 1.057.050 ton/tahun dan diperkirakan wilayah perairan laut Kepulauan Riau memiliki potensi sumber daya ikan sebesar 860.650,11 ton/tahun meliputi ikan pelagis besar sejumlah 53,802.34 ton/tahun, ikan pelagis kecil sejumlah 506.025.30 ton/tahun, ikan demersal sejumlah 272.594,16 ton/tahun, ikan karang sejumlah 17.562.29 ton/tahun, lainnya (cumi, udang, lobster) sejumlah 10.666,02 ton/tahun. Sementara, dengan pendekatan hasil survei kapal riset MV. SEAFDEC tahun 2006 diperkirakan total potensi sumber daya ikan di perairan laut Kepri sebesar 689.345.17 ton/tahun terdiri dari ikan pelagis besar sejumlah 16.48329 ton/tahun, ikan pelagis kecil sejumlah 14630934 ton/tahun, ikan demersal sejumlah 491.653,06 ton/tahun, Krustase (Udang, Kepiting, Rajungan, Lobster, Mantis) sejumlah 4402,70 ton/tahun, Moluska (Cumi, Sotong, Gurita) sejumlah 30.496,77 ton/tahun.Potensi perikanan tangkap di Provinsi Kepulaun Riau terbesar berada di perairan Natuna dengan tingkat pemanfaatan baru mencapai 4-6% dari total potensi Kabupaten Natuna sebesar 504.212,85 ton/tahun [58,59% dari total potensi Provinsi Kepulauan Riau) , diikuti Kabupaten Bintan, Kabupaten Kepulauan Anambas, dan Kabupaten Lingga.

BUDIDAYA LAUT

Provinsi Kepri menyimpan potensi pengembangan perikanan budidaya (akuakultur) yang sangat besar, terutama budidaya laut [marikultur). Diperkirakan terdapat kurang lebih 455.7799 ha areal laut yang berpotensi untuk pengembangan marikultur, yang terdiri dari 54.672,1 ha untuk marikultur pesisir (coastal marine culture) dan 401.1079 ha untuk marikultur lepas pantai [offshore marine culture) yang tersebar hampir di setiap kabupaten/kota,
Potensi pengembangan marikultur yang tinggi adalah Kabupaten Lingga, yakni mencapai 19.054 ha untuk coastal marine culture dan sekitar 226.538 ha untuk offshore marine culture.

PELUANG INVESTASI SEKTOR PERIKANAN

Potensi perikanan yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan produk perikanan, industri bioteknologi kelautan, industri sumberdaya laut-dalam dan pemanfaatan muatan barang kapal tenggelam, wisata bahari dan potensi mangrove dan terumbu karang. Komoditas hasil kelautan dan perikanan yang dikembangkan merupakan komoditas unggulan yang terdiri dari rumput laut (seaweed), ikan dan biota laut ekonomis tinggi serta komoditi hasil budidaya perikanan. Potensi perikanan berupa ikan kecil (pelagis) dengan potensi sekitar 513.000 ton namun pemanfaatannya baru sekitar 65 persen.
Ikan demersal potensi 656.000 ton baru dimanfaatkan 75 persen. Lobster dan cumi-cumi dengan potensi masing-masing 400 ton dan 2.700 ton. Ikan karang dan ikan hias dengan potensi 27.600 ton dan 293.600 ton, dimana yang baru dimanfaatkan pada tahun 2008 tercatat 225.439 ton atau sebesar 97,23 persen.(dye)