POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Deteksi Tumpahan Minyak di Laut, Operasi Interpoll 30 Days at Sea 3.0 Digelar

>DLH Kota Batam Rapat dengan Tim Interpol Indonesia
Suasana Rapat DLH Kota Batam bersama Interpol. (Foto ist)

BATAM, POSMETRO.CO: Terkait kegiatan fase taktikal operasi interpol 30 days at sea 3.0 di Perairan Batam dan Bintan, Kepri, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam rapat bersama tim Interpol Indonesia, Kamis (15/4), kemarin di kantornya Sekupang.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman Rozie, Minggu (18/4). Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya dugaan pencemaran limbah tumpahan minyak (Oil Spill) di perairan Batam dan Bintan.
“Kalau kita menyambut baik operasi ini. Karena, setiap tahun ada saja pencemaran laut yang berasal dari tumpahan minyak di perairan di Batam maupun di Bintan,” kata Herman.
Ia mengatakan, dalam pertemuan  kemarin hadir Kolonel Joni Junaidi, dan tim yg terdiri dari KLHK, Bakamla, Dithubla, Mabes Polri, Lanal, Lapan, dan Kemenkeu. Hal ini juga membahas tentang adanya kapal-kapal yang berlayar di perairan internasional dan diduga membuang limbahnya ke laut. Dampaknya, tumpahan minyak cukup merugikan Batam karena perairannya tercemar dan pariwisata bahari Batam ikut terseret.
“Dugaan tumpahan minyak sering terjadi di musim-musim tertentu. Arus membawa limbah tersebut ke daratan Batam dan Bintan. Sehingga mengotori pantai-pantai di kawasan wisata di Batam dan Bintan,” tegas Hermam
Herman menegaskan, tentunya Pemerintah Kota (Pemko) Batam berharap dengan adanya operasi ini membawa dampak positif dan berkurangnya tingkat pencemaran laut, khususnya karena tumpahan minyak.
Terlebih, operasi ini sejalan dengan program Wali Kota Batam Muhammad Rudi yang saat ini tengah gencar mengembangkan potensi baru. Di mana Batam sebagai sektor wisata tanpa harus meninggalkan Batam sebagai kota industri.
“Tentunya kita berharap operasi ini dapat berjalan lancar sesuai keinginan kita,” kata mantan Camat Batam Kota itu.
Operasi interpol 30 Days at Sea 3.0 diikuti oleh seluruh negara. Dengan anggota interpol di Kawasan Asia Pasifik. Dengan target polusi dari kapal dan instalasi lepas pantai, polusi sungai dan daratan yang berdampak pada laut. Kemudian, perdagangan limbah melalui Pelabuhan dan perdagangan ilegal dan pembuangan limbah medis di sungai, pesisir, dan laut.
Operasi ini dilaksanakan dalam dua tahap yakni fase (pengumpulan data intelijen) pada Oktober 2020 hingga Februari 2021. Selanjutnya, fase II (fase taktikal) pada Maret hingga April 2021. Adapun di Indonesia tim operasi dikuti oleh Baharkam Polri, Kemenkeu RI, Kemenhub RI, KLHK RI, Bakamla RI, dan Lapan RI. (hbb)