POSMETRO.CO Nasional

Ke Sumatera Barat, Ridwan Kamil dan Rombongan Terpesona Jalur Padang-Bukit Tinggi-Payakumbuh

CICIPI KULINER LOKAL. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang juga Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Minyak (ADPM) mampir ke warung kopi pinggir jalan. Kang Emil rehat sejenak dalam perjalanan menggunakan motor dari Padang menuju Payakumbuh, Sumatera Barat, Selasa, 30 Maret 2021.(foto: Vbeenazhief)

MASYARAKAT Kota Padang dan Payakumbuh menyambut hangat kedatangan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Selasa (30/3). Mereka antusias menyapa. Tak sedikit yang minta foto bersama.

Membuat perjalanan Padang-Payakumbuh sejauh hampir 125 kilometer. Menjadi menyenangkan. Belum lagi, pemandangan begitu menakjubkan.

Rombongan Kang Emil bergerak menggunakan motor. Selama hampir empat jam. Menempuh jalur lintas barat Sumatera. Melewati bentang alam yang memesona.

Perbukitan hijau tegak berdiri. Berderet. Memanjang. Gagah. Menjadi benteng alam yang kokoh. Ditambah hamparan sawah bak permadani. Elok di antara rerimbunan hutan.

Di salah satu sudut, di sela tebing menjulang, tampak air terjun. Suaranya terdengar lamat-lamat. Menghibur para musafir di hari yang terik.

Cuaca memang cerah. Sinar mentari panas menyengat. Lalu kemudian, berganti hujan deras menerpa. Perjalanan semakin berkesan. Lelah tiada. Semangat, ya. Buah keramahan masyarakat sekitar; ibu-ibu dan anak-anak. Yang tulus tersenyum. Melambai. Memberi sapaan penuh arti.

Belum lagi, secangkir kopi hangat di sebuah warung. Kala hujan mengguyur. Menambah syahdu suasana. Menambah kedekatan. Mempererat kebersamaan barudak Indonesia.

“Sengaja kita mampir ke warung kecil, untuk menghidupkan ekonomi kecil,” kata Kang Emil di warkop sebelah SPBU, sambil mencicipi rakik maco. Camilan khas Padang. Semodel rempeyek di Jawa.

Oya, rombongan tidak disertai unsur patroli dan pengawalan (patwal). Ketika melintasi Bukit Tinggi, mereka rehat sejenak. Menikmati nasi Padang. Sekaligus menyerap energi positif dari tempat kelahiran tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan RI semacam Bung Hatta dan Tan Malaka.

Lagi-lagi, masyarakat antusias menyapa. Sekadar bertukar kata. Lantas, minta kenang-kenangan foto bersama. Kang Emil merespons penuh perhatian.

Secara khusus Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi dan Ketua DPRD Payakumbuh, Hamdi Agus, menyambut Kang Emil di Agam Jua Art & Culture Cafe, Kota Payakumbuh. Belakangan, Bupati Lima Puluh Kota, Safaruddin datang.

Lantunan lagu khas Minang, _Ayam Den Lapeh_ menghentak. Saat Kang Emil dan rombongan tiba. Suasana cair langsung terasa. Keakraban tampak di depan mata. Senyum mengembang di raut para tamu dan tuan rumah.

Bila sebelumnya di Universitas Andalas (Unand) Padang, Kang Emil memenuhi undangan Munas BEM Se-Indonesia, dalam kapasitas sebagai Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Migas (ADPM). Dan sempat bertemu muka dengan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, di rumah dinas.

Pertemuan di Kota Payakumbuh lebih ke ajang silaturahmi dengan masyarakat luas. Difasilitasi Balai Wartawan Luak Limopuluah. Yang dibingkai dalam acara _Bincang Santai Bareng Pemimpin Milenial.

Pilpres Kompetisi yang Sehat

Wali Kota Payakumbuh, Riza Falepi dalam sambutannya menyoroti perkembangan hasil survei terhadap calon presiden 2024. “(Hasil) surveinya tipis-tipis,” katanya.

Menurut dia, pemilihan presiden langsung adalah sebuah kompetisi yang sehat. Siapa pun yang menang, semoga membawa kebaikan bagi bangsa dan negara.

“ _Alhamdulillah_, Kang Emil datang (ke Payakumbuh), pakai motor lagi. Saya sih doanya jadi presiden aja lah,” ucapnya disambut sorak-sorai hadirin.

Riza menambahkan jika silaturahmi Kang Emil ke Sumatera Barat adalah hal yang baik. Karena banyak pemikiran besar datang dari sini. Tokoh-tokoh seperti Tan Malaka dan Mohammad Hatta lahir di sini.

“Pemikiran-pemikiran lahir di sini. Mudah-mudahan dari sini akang bisa melejit sampai ke Jakarta,” tuturnya.

Menurut Riza, kita butuh orang yang bisa bekerja dengan baik. Bisa membawa Indonesia sejajar dengan negara besar lain.

“Ini membutuhkan kesamaan visi. Ini harapan seluruh bangsa, tidak hanya Riza Falepi,” tegasnya.

Selepas Riza, giliran Kang Emil didaulat naik panggung. Suami Atalia Praratya itu, mendapat panggilan spesial: Uda Emil. Karena acaranya bincang santai, Uda Emil membuka sapaan lewat pantun, “Gadis berkerudung pergi subuh, ke Pagar Alam membeli Indomi. Dari Bandung ke Payakumbuh, membawa salam silaturahmi,” katanya disambut _geeerr_ hadirin.

Warga Bandung Dapat Motor

Pada momen tersebut, dari atas panggung Kang Emil menyempatkan mencari warga perantauan asal Jawa Barat. Ternyata ada. Seorang tenaga harian lepas di Pemkot Payakumbuh, bernama Adi (40).

Satu panggung dengan orang nomor satu di Jawa Barat, Adi tak sungkan bercerita kisah hidup. Dia yang asli Bandung, mempunyai istri asal Ciamis. “Saya sudah sebelas tahun merantau di sini,” ujar ayah tiga anak itu.

Kang Emil pun menanyakan hadiah apa yang diinginkan Adi. Sebagai bentuk _support_ sekaligus penghargaan sesama _urang_ Sunda. Adi hanya terdiam.

Hadirin, tak terkecuali Wali Kota Payakumbuh, saling menyahut. Memberi saran, agar Kang Emil memberinya hadiah motor.

“Belum punya motor?” tanya Kang Emil. Adi menjawab, belum.

Kang Emil pun mengiyakan saran audiens, dan memberi hadiah motor untuk Adi. Sebagai bentuk syukur, Adi spontan bersujud. Tanda syukur kepada Allah SWT.

Usai bertukar pikiran inovatif dan kreatif. Saling berbagi semangat berjiwa muda. Menjelang matahari tenggelam, rombongan Kang Emil pamit. Meninggalkan kesan mendalam bagi warga dan segenap unsur pemerintahan yang datang menyambut.

Di perjalanan, tanpa diduga Wakil Wali Kota Payakumbuh, Erwin Yunaz menuyusul rombongan. Padahal sudah cukup jauh. Dari titik keberangkatan. Mereka bersua di komunitas motor. Untuk sekadar mengobrol ringan. Dan saling menitipkan pesan kebaikan bagi tiap daerah yang dipimpin.

Sampai di kota wisata Bukit Tinggi, Kang Emil menyempatkan rehat di titik keramaian Jam Gadang. Ikon Kota Bukit Tinggi.

Tahu Ridwan Kamil datang. Masyarakat menyerbu. Ingin bertemu langsung, sekaligus mengabadikan momen.

Kang Emil dengan santai dan komunikatif, bertegur sapa dan melayani sesi foto-foto. Sebagai kenangan sesama anak bangsa. ***