POSMETRO.CO Nasional Daerah

Ingat, Sudah Divaksin Covid-19 Bukan Berarti Kebal dari Corona

MATARAM, POSMETRO.CO: Orang yang sudah divaksin tidak menjamin, dia tidak akan terpapar Covid-19. Dari beberapa kasus yang terjadi belakangan ini, ada sejumlah orang yang sudah divaksin tapi masih tertular Covid-19.

Seperti kasus yang terjadi di Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB), yang dialami Kepala Dinas Kesehatan (Kadikes) Kota Mataram dr Usman Hadi dan istrinya yang positif Covid-19.

Padahal, mereka baru beberapa hari lalu divaksin. Kini, keduanya melakukan perawatan di RSUP NTB.

“Orang yang sudah divaksin tidak menjamin, dia tidak akan terpapar Covid-19. Vaksin ini hanya untuk menekan angka penularan,” kata Direktur RSUD Kota Mataram HL Herman Mahaputra kepada Lombok Post (posmetro grup).

Pria yang karib disapa dr Jack ini mengatakan, vaksin hanya menjaga imunitas. Jadi, orang yang sudah divaksin kemungkinan juga bisa tertular meski potensinya tidak terlalu besar.

Jack juga mengaku, sempat menghubungi dr Usman via telepon. “Saat ini kondisi dr Usman baik. Tidak ada keluhan. Beliau sehat, makanya waktu itu, lolos skrining untuk divaksin,” ungkapnya.

Terpisah, Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa mengatakan, dr Usman dan istrinya terkonfirmasi positif Korona sejak Jumat pekan lalu (22/1/2021). “Kami sudah melakukan tracing rapid antigen ke semua pegawai Dinas Kesehatan,” ungkapnya.

Sebelum dinyatakan positif Covid-19, Kadikes diketahui beberapa kali memimpin rapat dengan para staf. Sehingga rapid antigen pun dilakukan. Namun hasilnya, semua staf negatif. Sehingga saat ini gugus tugas masih menyelidiki dimana dr Usman terpapar Korona. “Karena anak mereka, dari hasil rapid antigen juga negatif,” terangnya.

Suwandiasa juga menyinggung terkait vaksinasi yang telah dilaksanakan Kadikes Senin (18/1/2021) lalu. Vaksinasi tersebut ditegaskannya bukan berarti tidak efektif seiring terkonfirmasi positifnya Kadikes Kota Mataram bersama istrinya.

“Tetapi karena antibodi pak Kadis belum terbentuk meski telah divaksin. Jarak antara vaksinasi dan terkonfirmasi positif hanya empat hari. Sementara imunitas baru bisa terbentuk ketika vaksin kedua,” paparnya. “Jadi bukan vaksin yang yang salah. Vaksinnya tetap efektif,” sambungnya.

Sejauh ini, kondisi Kadikes menurut Suwandiasa sudah cukup baik. Meskipun diketahui ia memiliki riwayat penyakit penyerta atau komorbid. “Komunikasi saya tadi pagi, beliau kondisinya baik,” ungkapnya.

Terpisah, tim ahli Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Mataram dr. Hagni Wardoyo Sp. MK memberi penjelasan mengenai adanya kasus positif terhadap orang yang telah divaksin. Ia menjelaskan vaksinasi tidak langsung membuat orang kebal seketika.

“Harus dilihat rentan waktu divaksin dan terinfeksi. Vaksin bisa memberikan proteksi 3-8 minggu kemudian setelah dilakukan vaksin. Tidak bisa kebal seketika, jadi setelah vaksin harus tetap menjalankan protokoler kesehtaan,” terangnya.

Efektivitas vaksin juga akan berlaku setelah vaksinasi kedua. Kalau hanya beberapa hari setelah vaksin pertama, dokter spesialis mikrobiologi klinik ini mengatakan antibodi belum terbentuk.

Setelah mendapatkan vaksinasi kedua pun tidak menjadi jaminan jika orang tidak akan terpapar. Hanya saja, dampaknya tidak akan parah. Tujuan vaksin dikatakannya adalah mecegah badai sitoksin atau dampak buruk virus Korona. “Vaksin itu bukan mencegah kita tidak terkena Covid, tetapi untuk mencegah dampak parah Covid,” tegasnya. (ton/jay/r3/jpg)