POSMETRO.CO Metro Sport

Renaldy, Atlet Ranger Fighteam Batam, Juara di Kelas “Neraka”

Renaldy, Atlet Ranger Fighteam Batam. Foto: chi

BATAM, POSMETRO.CO: Tak banyak omong. Bicara seadanya. Tak jarang tersenyum. Inilah sosok Renaldy Manse. Petarung 23 tahun ini memang sosok berkarisma. Tapi, di dalam ring, sosok kalemnya berubah drastis. Ia tipe petarung yang tidak akan ‘memberi ampun’ pada lawan.

Bertarung di atas ring, bagi Aldi-begitu ia disapa, tak hanya modal nyali. Itu ia buktikan saat perebutan sabuk kelas 57 Kg Senior pada laga Kickboxing K-1, 14 hingga 15 November 2020 lalu di Mega Mall, Batam.

Bertanding di kelas ‘neraka’, langkah Aldi tak mudah melaju ke Final. Pada kelas ini terjadi laga-laga panas. Di bagan pertandingan, ia berhadapan dengan sejumlah fighter hebat.

Lawan-lawannya itu juga sudah teruji di cabor lain, khususnya pada laga full contact stand up fight. Bahkan, Aldi juga harus berjadapan dengan atlet muda berbakat Kepri yang sudah dinyatakan lolos cabor lain pada PON 2021.

Dua bulan jelang tanding, Aldi digembleng. Latihan yang sangat melelahkan. Pagi dan sore. Bersama teman satu tim di Ranger Fighteam Batam. Tentu saja di bawah asuhan pelatih hebat, Herik Pratama.

Aldi tahu lawan yang dihadapi bukan atlet kaleng-kaleng. Itu juga yang membuatnya semakin terpacu menyiapkan fisik dan stamina. Mematangkan strategi.

“Saat saya memutuskan untuk tanding, itu artinya saya harus siap ditempa dan dilatih layaknya seorang calon juara,” kata dia. Ia tak cengeng. “Untuk menjadi seorang juara itu tak mudah. Butuh perjuangan dan pengorbanan,” ujarnya.

Hingga tiba waktunya bertanding. Aldi sudah siap. Saat di atas ring, hanya hasil latihan yang bisa menyelamatkan Aldi. “Di laga pertama, saya sempat lepas kontrol,” kata Aldi.

Ia tak bisa mengendalikan emosi. Untungnya, Aldi cepat tersadar. Ia lekas mengontrol diri. Hasilnya, Aldi mampu memainkan teknik yang apik. Tendangannya tajam. Pukulannya tepat sasaran. Beberapa kali pancingan jab, berhasil menipu lawan. Bahkan Aldi mampu menang dengan selisih poin yang lumayan jauh memimpin.

Hingga babak final, Aldi bisa memperlihatkan teknik-teknik terbaiknya hasil asahan selama di Ranger Fighteam, sebuah camp beladiri di kawasan Batam Centre.

Aldi bukan petarung karbitan. Beladiri juga tak asing bagi Aldi. Sejak usia 14 tahun, ia sudah mengenal beragam jenis beladiri. Di antaranya: kungfu, karate, tinju, taekwondo dan kickboxing.

“Awal latihan memang ikut-ikutan teman. Rame-rame,” ujarnya. Tapi, ia ketagihan. Bahkan akhirnya fokus untuk menjadi atlet.

Sebenarnya, Aldi mengaku, orangtuanya kurang mendukung saat dia memutuskan untuk menjadi atlet kickboxing. Tapi, ia terus berusaha meyakinkan orangtuanya.

“Sampai sekarang, sebenarnya belum diizinkan,” katanya, tersenyum. Tapi, ia yakin, suatu saat, orangtua akan memberikan dukungan penuh.

Bagi Aldi, harus ada pembuktian kepada orangtua bahwa ia bisa berprestasi. Itu pula yang memotovasi Aldi untuk terus giat berlatih. Hasilnya, Aldi sudah beberapa kali merasakan juara.

Di antaranya: Juara 2 Kejuaraan Nasional Kickboxing Indonesia 2018, Juara I Kejuaraan Tinju Piala Bupati dan Wakil Bupati Minahasa 2019, Juara 3 Kejuaraan Daerah Muaythai Piala Walikota Manado 2016, dan Juara I Kejuaraan Terbuka Taekwondo HJP Cup Manado 2015.

Pada laga kickboxing yang digelar oleh Pengurus Kickboxing Batam ini, Aldi berharap bisa memberikan yang terbaik untuk Batam. Ia sudah membuktikan bisa menjadi yang terbaik dari sejumlah atlet Kepri yang ikut di ajang ini. Artinya, “Saya siap memberikan yang terbaik untuk Kepri,” ujarnya.

Herik Pratama SPd, Ketua Harian Kickboxing Batam menyebut, Batam punya banyak bibit atlet. Hal itu pula yang mendorong Pria yang akrab disapa dengan sebutan Erick ini, terus berbuat untuk kickboxing Batam. Ia merasa terpanggil untuk mengurus kickboxing Batam.

“Saat saya diberi amanah itu (Ketua Harian Kickboxing Batam), saya harus siap memberikan yang terbaik untuk Batam,” kata dia.

Dengan modal “nekat”, Erick berusaha menggelar event spektakuler di Batam. “Cakupannya Kepri,” kata dia. Walau bertajuk Perebutan Sabuk Kickboxing Batam, Erick menjelaskan, pesertanya terbuka untuk semua atlet dan camp beladiri di Kepri.

Saat pendaftaran dibuka, Erick menyebut, peminatnya langsung membludak. Padahal, saat itu, belum ada pihak lain yang mendukung pasti event ini. Tapi Erick terus bergerak. Ia yakin, untuk prestasi Batam, akan banyak pihak yang mendukubg event ini. Dukungan itu bisa berbentuk dana dan moril.

Secara teknis, atlet yang sudah mendaftar harus diseleksi. “Atlet harus melewati audisi. Panitia melihat dulu teknik calon atlet yang akan bertanding di hari H,” kata dia. Ia menjelaskan, hal itu dilakukan karena cabang olahraga kickboxing tergolong baru di Kepri, khususnya Batam.

“Kami tentunya menginginkan, atlet yang bertanding benar-benar sudah tahu teknik kickboxing,” jelasnya. Alhasil, terpilih 170 atlet dari kategori pra junior, junior dan senior. Kategori putra dan putri.

Pada laga ini, panitia menyediakan 6 sabuk yang akan diperebutkan: senior (57 Kg, 63 Kg, 69 Kg dan 75 Kg), junior (51 Kg dan 63 Kg). “Ajang ini merupakan pencarian bakat guna pembinaan atlet untuk mewakili Kepri di ajang nasional,” kata Erick.

Hasilnya, Erick menyimpulkan, dari ajang tersebut, Batam dinyatakan sebagai ‘lumbung’ atlet. “Banyak pemenang merupakan atlet-atlet dari Batam. Bahkan, enam sabuk yang disediakan, semua direbut oleh atlet Batam.

Rinciannya: kategori 51 Kg Junior direbut oleh Ryan, Spider Batam. 63 Kg Junior direbut Rajif, Vitka Batam. Sabuk 57 Kg senior direbut Aldi, Ranger Fighteam Batam. Sabuk 63 Kg senior direbut Sukardi, Vitka Batam. Sabuk 69 Kg senior direbut Jerry, BFC Batam dan Sabuk 75 Kg Senior direbut Anto, Red Scorpion Batam.(chi)