Politik

Anggota Bawaslu Batam Diduga Wawancarai Calon Panwascam Mengandung SARA

Helmy Rachmayani dan Syailendra Reza. (Posmetro.co/waw)

BATAM, POSMETRO.CO: Proses tahapan seleksi penerimaan Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam) se-Kota Batam di Bawaslu Kota Batam kembali mendapat diprotes masyarakat. Seperti saat sesi wawancara diduga melanggar aturan.

“Wawancara (di Bawaslu Batam) diduga tidak sesuai prosedur. Wawancara kok diajak ngobrol saja. Lalu bagaimana cara mereka menilai peserta yang diwawancarainya,” ujar Ismail yang saat itu mengikuti seleksi kepada POSMETRO.CO, belum lama ini.

Dikatakannya, dalam tes wawancara yang lazim dilakukan, setiap pertanyaan yang diajukan ada nilainya masing-masing. Misalnya, pertanyaan perihal kepemiluan, pengetahuan umum dan bermuatan lokal. Hal itu ada scorenya masing-masing.

“Jadi, kalau hanya diajak ngobrol saja, lalu apa dasar mereka memberi nilai pada peserta seleksi,” katanya, sembari menyayangkan ‘kelakuan’ para komisioner tersebut.

Dijelaskannya juga, tes wawancara tidak dilakukan dengan cara sidang. Tapi para peserta satu persatu masuk ke dalam ruangan para komisioner Bawaslu Kota Batam di Kantor Bawaslu Batam di lantai II, bilangan Batamcentre (Bekas kantor Sat Pol PP).

Karena ada lima komisioner, sehingga para peserta harus keluar masuk 5 ruangan komisioner itu. “Saat diwawancarai hanya difoto oleh staf lalu keluar stafnya. Saat proses wawancara tidak memakai video. Komisioner hanya merekam suara. Ada (Komisioner) yang tidak merekam,” tambahnya.

Dalam proses wawancara juga ada tanggapan masyarakat yang ditanyakan kepada peserta, namun ia menduga jika tanggapan masyarakat yang diterima jajaran Bawaslu hanya melalui lisan atau via WhatsApp. Selanjutnya, tanggapan itu dipertanyakan kepada peserta seleksi.

“Nah, harusnya masyarakat yang memberi tanggapan ini ada mengisi form tersendiri. Tapi diduga hal ini tidak dilakukan,” tambahnya.

Ia juga menyangsikan hasil pleno penentuan panwascam yang lulus dan tidak lulus itu dilakukan dengan benar. “Terus bagaimana cara pleno untuk menentukan panwascam yang lulus dan tidaknya. (Saat pleno) dasarnya pakai apa? Penilaiannya seperti apa,” imbuhnya mempertanyakan. “Apalagi hasil tes tertulis CAT tidak diumumkan, hasil tes wawancara juga tak ada, yang scorenya 30 persen (untuk CAT) dan 70 persen (wawancara). Dan pengumuman kelulusannya pun tidak ada nilai dan hanya terdiri dari nama 3 orang saja”.

Terpisah, Chairil Anwar juga memprotes pertanyaan saat sesi wawancara seleksi panwascam yang dialaminya. Salah seorang komisioner mengajukan pertanyaan diduga mengandung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan).

“Saat wawancara itu saya ditanya, ‘bapak ini warga Batam atau pendatang’. Saya sempat kaget kok pertanyaan seperti itu. Apa hubungannya dengan seleksi panwascam,” katanya mengulangi pertanyaan komisioner yang bersangkutan.

Ia mengaku, setelah berpikir sejenak karena kaget, ia lalu menjawab sebagai warga negara Indonesia dirinya boleh dimana saja bertempat tinggal di wilayah NKRI. “Saya bilang, saya sudah 23 tahun di Batam, kalau menurut ibu saya ini orang Batam atau bukan,” katanya sembari mengaku jengkel atas pertanyaan tersebut. Ia pun tidak lulus sebagai panwascam.

Pria ini juga menjelaskan, saat wawancara itu ia direkam suaranya. “Dia merekam suara saja melalui handphone dia yang ditaruh di atas meja,” tambahnya.

Anggota Bawaslu Kota Batam, Helmy Rachmayani yang dikonfirmasi POSMETRO.CO, Minggu (22/12) di Kepri Mall mengaku tidak memberikan pertanyaan yang diduga mengandung SARA.

“Tidak ada memberikan pertanyaan itu,” ujarnya usai menengadahkan kepalanya seperti orang berpikir. Saat ditanya apakah saat melakukan wawancara direkam? Ia kembali menengadahkan kepalanya ke atas. “Tidak ada. emm..Ada yang direkam ada yang tidak. Kalau saya ingat direkam, kalau tidak…tidak,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Bawaslu Kota Batam, Syailendra Reza mengatakan, seleksi panwascam sudah sesuai prosedur. “Sudah sesuai ketentuan yang ada,” ucapnya, saat itu.(waw)