Lingga

2020, P2TP2A Upayakan Psikolog Klinik Ada di Lingga

Jajaran P2TP2A Lingga, Kepri dan KPPAD saat acara sosialisasi di wilayah Kabupaten Lingga. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lingga, Hj Nurmadiah melalui Kasi Rehabilitasi, Perlindungan dan Jaminan Sosial, Qamariah mengaku, bidang yang menjadi tanggung jawabnya banyak yang urgent, sedangkan anggaran terbatas.

Dia mengaku mengenai psikolog klinik memang belum ada, namun setiap ada permasalahan anak baik sebagai korban ataupun sebagai pelaku, mereka menggunakan psikolog umum, memberi motivasi jika mental anak mengalami trauma.

“Sifatnya membimbing dan memotivasi. Di Lingga belum ada lagi anak sebagai korban mengalami trauma berat. Akan tetapi sangat dibutuhkan sekali psikolog klinik, meski anggaran belum memadai kami berusaha dan mencari solusi bersama KPPAD Lingga,” jelas Qamariah, Senin (11/11).

Dia sangat bersyukur sekali selama ini UPTD P2TP2A Kepri selalu membantu dan mensuport mereka dalam permasalahan P2TP2A di Kabupaten Lingga, mereka sangat respon sekali ketika Lingga menyurati membutuhkan bantuan.

UPTD P2TP2A Kepri, sangat membantu baru-baru ini, sambung Qamariah, mereka dapat mengisi acara seperti sosilisasi dan penyuluhan yang berkaitan dengan P2TP2A.

“UPTD P2TP2A Kepri selalu datang ke Lingga ketika kami membutuhkan. Support mereka sangat luar biasa sekali untuk Kabupaten Lingga,” sebutnya.

Mengingat psikolog sangat dibutuhkan, dan membutuhkan anggaran cukup besar, pihaknya tetap merekrutnya, paling tidak juga dapat memberi motivasi pada pemberdayaan perempuan dan anak.

“Insya Allah tahun 2020 secara perlahan kami akan mengambil psikolog klinik, untuk membantu kami dalam menyelesaikan permasalahan anak yang mengalami trauma berat. Memang membutuhkan anggaran besar, namun kami coba secara bertahap,” papar dia.

Katanya lagi, psikolog klinik yang dibutuhkan memang khusus, dan di Kabupaten Lingga tidak ada, dan harus mencari dari luar Lingga, psikolog klinik tahu dan dapat mengetahui atau mengukur sejauh mana trauma yang dialami anak sebagai korban.

“Sebenarnya kita ada psikolog tapi umum, tidak ada yang khusus. Jadi memang sulit juga mendapatkannya. Mudah-mudahan meski keterbatasan anggaran kami akan coba mendatang, paling tidak setahun beberapa kali untuk membantu kami,” tutur perempuan berkerudung ini.

Meski keterbatasan anggaran, pihaknya tetap menjalin kerjasama dengan banyak pihak, supaya masing-masing dapat ikut bersama-sama dalam mengawasi dan melindungi anak umumnya di Kabupaten Lingga.

“Alhamdulillah sudah banyak kerjasama yang kami jalin, terkait permasalahan anak. Contoh kerjasama dengan desa, tahun depan desa sudah mulai mengalokasikan anggaran desa untuk penyuluhan tentang anak di desa masing-masing,” pungkasnya.(mrs)