Lingga

Sejarah Pulau Mepar yang Penuh Misteri akan Dibukukan

Foto bersama setelah FGD dengan pelaku Sejarah Pulau Mepar. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, mengumpulkan narasumber sebagai referensi penulisan sejarah Pulau Mepar di Focus Group Discussion (FGD). Diskusi ini digelar di Gedung Lembaga Adat Melayu Kepri, Kabupaten Lingga di Jalan Daik Lingga, Jumat (8/11) malam.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga H. Muhammad Ishak mengucapkan terimakasih Kepala Kepala Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB), Toto Sucipto yang bersedia hadir dan terus memberi motivasi, serta penulis buku Sejarah Pulau Mepar, yakni Iswandi, Wiwik dan Muhammad Hasbi. Hadir juga Said Baragbah, Abdul Haji, tokoh masyarakat Pulau Mepar dan Lingga serta undangan.

Kata Muhammad Ishak, dengan adanya FGD, akan memberi catatan atau bahan untuk melanjutkan penulisan Sejarah Pulau Mepar yang penuh dengan sejarah. Dan cerita rakyat ini harus diluruskan dan dibukukan hingga lebih baik lagi ke depannya.

“Sebenarnya penulisan Sejarah Pulau Mepar ini adalah permintaan pak bupati (Alias Wello) ketika pelantikan eselon II, III dan IV di Benteng Pulau Mepar pada bulan Maret tahun 2018 yang lalu. Setiap ketemu pak bupati tetap bertanya masalah ini, maka sampai hari ini terus kita lakukan pemantapan penulisan sejarahnya,” ungkap Muhammad Ishak, Jumat (8/11).

Menurut dia, Pulau Mepar Selayang Pandang yang disebut bupati itu, memang penuh dengan sejarah dan cerita rakyat, yang dibuktikan dengan peninggalan sejarahnya, serta cerita menarik lainnya yang penuh dengan mistis.

“Memang sangat menarik, banyak bukti sejarah. Maka kami disuruh menulis buku yang kita awali dari tahun kemarin yang sifatnya laporan. Tahun ini kita buat, biar lebih sempurna dan lengkap,” terang dia.

Dia mengaku, sekarang ini sulit mencari orang yang mengerti tentang sejarah. Sebab para orang tua sebagai sumber banyak yang sudah meninggal. Sehingga membuat kesulitan dalam pelurusan sejarah, karena harus banyak bahan yang diperkuat dengan pelaku sejarah tersebut.

“Walau bagai manapun, SDM menjadi permasalahan kami, guna meluruskan sejarah yang sudah ada. Kalau budayawan daerah kita masih banyak, kalau sejarawan semakin berkurang. Jadi perlu sejarah ini dibukukan,” imbuhnya.

Setelah diskusi, Kepala BPNB Kepulauan Riau, Toto Sucipto mengatakan, dalam sejarahnya Pulau Mepar banyak menyimpan misteri, maka perlu dukungan banyak pihak dalam meluruskan sejarah.

“Saya sangat mengapresiasi sekali Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, semoga di tangan kepala dinas, budaya dan sejarah di Kabupaten Lingga Bunda Tanah Melayu menjadi terkenal dan menjadi rujukan dalam kebudayaan,” ucapnya.

Ia menyampaikan, setiap ada diskusi dalam penulisan sejarah, pihaknya akan membawa para sejarawan agar dapat memberi masukan dan saran yang berkaitan dengan sejarah.

“Adanya diskusi akan memberi tambahan sehingga penulis mendapatkan informasi lagi. Banyak yang harus dicari dan digali, baik itu informasi yang dikuatkan dengan data pendukung, sehingga penulisan kian baik dan sempurna,” tukasnya.

Sedangkan bukti-bukti peninggalan sejarah di Pulau Mepar, seperti Benteng Lekok, Meriam Sumbing, dan masih banyak peninggalan, serta misteri yang belum terangkat dengan maksimal.

Wajar kalau orang Daik berfikir, sebelum menginjak tanah Pulau Mepar, maka dianggap belum sampai ke Daik. Sebab Pulau Mepar identik dengan sejarah, serta banyak lagi kisah dan cerita yang berhubungan erat dengan Kesultanan Lingga.(mrs)