
BATAM, POSMETRO.CO: Tiga bakal calon kepala daerah di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan kesiapannya membuat kontrak politik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 7 persen. Ketiga calon tersebut, yakni Ismeth Abdullah, Isdianto, dan Lukita Dinarsyah Tuwo.
“Ada tiga calon kepala daerah, baik itu provinsi maupun kota telah menghubungi Kadin Kepri. Ketiga calon tersebut bersedia membuat kontrak politik untuk pertumbuhan ekonomi tujuh persen,” ujar Ketua Umum Kadin Kepri Akhmad Ma’ruf Maulana, Rabu (23/10).
Dikatakan Ma’ruf, ketiga calon tersebut dua orang bakal calon Gubernur Kepri yakni Ismeth Abdullah dan H Isdianto, serta satu bakal calon Walikota Batam Lukita Dinarsyah Tuwo. Ketiganya menyatakan siap membuat kontrak politik dengan Kadin Kepri.
“Khusus Pak Lukita menyampaikan bahwa, jika pada periode pertama kepemimpinannya ekonomi tidak mampu tumbuh 7 persen, maka tidak akan mencalonkan diri lagi pada periode berikutnya. Itu disampaikan langsung pak Lukita,” ujar Ma’ruf.
Selain membuat kontrak politik, Kadin Kepri juga menantang para pasangan calon kepala daerah untuk mengikuti debat kandidat khusus masalah ekonomi Kepri dan Batam.
“Kami mengangkat tema soal ekonomi karena kami ingin mencari figur yang punya visi misi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, investasi dan sektor perekonomian lainnya, agar ekonomi kita bisa tumbuh di atas rata-rata 7 persen,” pungkasnya.
Seperti diketahui, para pengusaha di bawah Kadin Kepri pimpinan Akhmad Ma’ruf Maulana menantang para kandidat calon pimpinan daerah di Kepri yang ikut kontestasi di Pilkada 2020, bisa meningkatkan pertumbuhan perekonomian hingga 7 persen.
Untuk para kandidat kepala daerah yang menyatakan kesiapannya, Kadin mensupport dan menyiapkan kontrak politik.
Ia menegaskan, para pengusaha di bawah Kadin Kepri sangat menginginkan agar para calon kepala daerah ini benar-benar bisa memacu pertumbuhan ekonomi di Kepri, khususnya di Batam hingga 7 persen.
“Kita tak mau (calon pimpinan daerah) yang hanya ‘lipstik’ saja. Karena kita ketahui dalam kurun waktu 15 tahun ini perekonomian kita hanya berada di bawah 5 persen. Apalagi bila UMK 2020 mencapai 4,1 juta (Rupiah), perusahaan banyak kolaps,” pungkasnya.(*/waw)