POSMETRO.CO Metro Kepri Batam

Batam Krisis Air Baku, ATB: Dam Baloi jadi Septic Tank Umum

Waduk di Nongsa juga mengalami penyusutan debit air. (Posmetro.co/cnk)
BATAM, POSMETRO.CO: Batam diprediksi mengalami krisis air pada 2021 mendatang. Saat ini, kapasitas abstraksi air baku telah mencapai 3.500 liter per detik. Sehingga cadangan air yang tinggal hanya berkisar 350 liter per detik.
“Berdasarkan perhitungan tersebut, maka cadangan air baku di Batam hanya akan bertahan kurang dari 2 tahun lagi,” ujar
Maria Jacobus, Head of Corporate Secretary ATB Batam, dikonfirmasi POSMETRO, Senin (14/10).
Maria menyebut, potensi krisis air baku akan diprediksi bisa semakin cepat bila curah hujan di Batam semakin rendah, artinya tanpa tambahan air baku, Batam akan terancam defisit air pada tahun 2020.
Konsumsi air bersih di Batam dan bagaimana cara memenuhinya? ATB berupaya memenuhi kebutuhan air bersih sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam standar WHO dan Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan, hak dasar manusia atas air yaitu sebesar 60 liter per orang setiap harinya.
“Kebutuhan air di Batam mencapai 199 liter per orang setiap hari,” jelas Maria.
Sementara ATB telah memenuhi kebutuhan air lebih dari 3 kali lipat dari standar yang diberikan WHO dan Pemerintah. Bahkan lebih tinggi dibanding yang diberikan Singapura kepada warganya, yakni 155 liter per orang setiap hari. “Jadi Batam termasuk boros dalam hal penggunaan air bersih. Tapi di sisi lain, cadangan air bakunya sangat terbatas,” tambahnya.
Sementara, sambung Maria, untuk waduk yang sudah tidak aktif adalah Dam Baloi. Tahun 2006 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan penelitian terhadap kondisi Dam Baloi. Penelitian tersebut sudah memberikan warning kepada pemerintah, bahwa kondisi Dam Baloi sudah mulai mengkhawatirkan.
Katanya, penelitian tersebut menyebutkan, air dam Baloi tak dapat dimanfaatkan secara langsung karena beberapa parameter mempunya konsentrasi lebih besar daripada konsentrasi maksimum mutu air kelas 1 yang ditentukan dalam PP No 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
“Parameter-parameter tersebut antara lain deterjen, kromium, kadmium dan timbal,” ulasnya.
Sayangnya, sambung Maria, tak ada upaya pengendalian pencemaran lingkungan dan pengrusakan hutan di Dam Baloi. “Dam Baloi praktis berubah menjadi septic tank umum,” ketus Maria.
Ironisnya, lanjut dia, pemerintah lebih memilih mencabut status hutan lindung Baloi Kolam pada tahun 2010 melalui SK No. 725/menhut-II/2010 tentang pelepasan kawasan Hutan Lindung Baloi seluas 119,6 hektar.
“Tahun 2012 dam tersebut tidak lagi fungsikan sebagai sumber air baku. Karena air baku Dam Baloi sudah sangat tidak ekonomis bila dipaksakan untuk diolah karena sudah sangat tercemar oleh limbah rumah tangga yang berasal dari rumah liar,” tutupnya.
Terpisah pantauan POSMETRO.CO, saat ini kondisi waduk Nongsa juga mengkhawatirkan, karena selama tiga bulan belakangan ini mengalami penyusutan. Waduk yang diperkirakan seluas 4,5 hektar itu untuk mengcover konsumen di wilayah Kecamatan Nongsa.
Kini, tingginya hanya berkisar 9,2 -9,3 meter.
“Pas musim kemarau kemarin nampak kali susutnya. Sampai bendungan di bawah kering,” ujar seorang petugas Ditpam BP Batam menjawab pertanyaan POSMETRO.CO, kemarin.
Katanya, selama ini waduk di wilayah itu memang hanya bergantung kepada curah hujan (Rain Fall) untuk mengisi ketersediaan air.
“Hutan lindung juga salah satu cara menjaga ketersediaan air. Kalau hutan tidak dijaga, ditebangi, dibakar, apa yang kita harapkan?” tanya dia.(cnk)