POSMETRO.CO Metro Kepri

Tolak Pimpinan DPRD Kepri, Melayu Melawan Bergerak

Para pengurus Melayu Melawan saat memberikan keterangan pada media. (posmetro.co/dye)

BATAM, POSMETRO.CO : Dari dulu Kepri telah menjadi bandar perdagangan terpandang, tidak hanya untuk Indonesia, tapi juga dunia.

Di berakar dengan pemimpin berbudaya Melayu dengan mayoritas Muslim, Kepri menjadi daerah makmur. Karena itu juga Kepri jadi tempat orang menetap dan bertempat tinggal meski dari penduduk daerah luar luar.

Toleransi agama dan budaya juga jadi tonggak kemakmuaran Kepri. Namun ada yang mengganjal beberapa pihak masyarakat Melayu saat ini. Terutama saat diputuskannya Ketua DPRD Kepri dari kalangan agama di luar non mayoritas.

Bertolak dari hal itu juga, beberapa pihak mulai melakukan penolakan keras, salah satunya dari organisasi kepemudaan Melayu Melawan.

Aksi Melayu Malawan akan digelar pada Senin, (23/9) mendatang. Aksi ini menolak Ketua DPRD Provinsi terpilih dari Partai Pemenang.

Amirullah Kordinator Umum pergerakkan ini mengatakan bahwa Melayu Melawan ini akan menghimpun sebanyak 500 massa, untuk menolak Pelantikkan Ketua DPRD terpilih dari Partai Pemenang.

Kordinator Lapangan Aksi, Oyong Wahyudi mengatakan bahwa aksi tersebut digelar bukan karena ada unsur ketidak sukaan pada oknum tertentu. Tapi menurutnya, Aksi tersebut digelar untuk menyuarakan Aspirasi warga Melayu Kepri yang meminta kepada partai pemenang untuk mendudukan ketua DPRD Provinsi dari kelompok mayoritas.

“Melayu Melawan bukan benci atau tidak suka pada kelompok dan golongan yang ditunjuk, tapi kita berpangku pada kearifan budaya lokal, bahwa pimpinan seharusnya dari pihak mayoritas, agar tatanan budaya dan kepimpinan Kepri selama ini bisa berjalan dan penuh toleransi,” ungkap Oyong, pada Rabu (18/9).

Selain itu, Pendiri Melayu Malawan membenarkan, bahwa aksi ini akan digelar untuk menyuarakan penolakkan mereka atas terpilih kembalinya Jumaga Nadeak sebagai ketua DPRD Provinsi.

“Aksi kami jelas meminta agar pihak mayoritas berhak jadi pimpinan, ini sejalan dengan harapan dari Ketua Lembaga Adat Melayu Provinsi yang menghimbau kepada partai pemenang untuk meletakkan orang Muslim sebagai Ketua DPRD Provinsi.” ujar Okta.

Okta Mengatakan bahwa aksi itu nantinya akan digelar secara tertib dan damai, tanpa membuat kekisruhan yang mengganggu stabilitas kota.

“Kami hanya ingin menyampaikan kepada siapa saja yang menjadi decesion makernya partai pemenang pileg tahun ini untuk memuliakan warga Melayu sebagai pemimpin di kampung ini, kami tak akan menyuarakan aspirasi itu secara anarkis dan brutal,” tambah Okta

Lebih lanjut, Okta mengatakan akan menggelar aksi ini di titik konsentrasi massa Graha Kepri dengan titik kumpul di Gedung Lembaga Adat Melayu.

Hal yang sama dikatakan penggerak dan tokoh muda Mahasiswa Melayu Kepri, Fakhrul Anshori,  pergerakan ini merupakan kekecewaannya terhadap putusan partai pemenang. Menurutnya, Partai Pemenang Pemilu di Kepri tidak merespon harapan dari masyarakat Mayoritas.

“Kami menyerukan pada seluruh LSM, Ormas, serta organisasi Melayu di Kepri ini, mari bergerak bersama, mari bersuara bersama menolak putusan ini,” kata Fakhrul.(dye)