Karimun

Kedai Kopi Berusia Ratusan Tahun di Karimun, Kini Hangus Tinggal Puing

Kedai Kopi Maju yang sudah berusia ratusan tahun kini tinggal puing akibat kebakaran yang terjadi Rabu (16/9/2020) malam. (Foto-Riadi)

KARIMUN, POSMETRO.CO: Apek Along, begitu ia disapa biasanya. Usianya sudah menginjak 69 tahun saat ini. Usia yang tak lagi muda, namun di usia senjanya, ia terus berkeja. Mengelolah kedai kopi warisan turun temurun dari sang kakek. Kedai Kopi yang dikelolanya pun sudah berusia ratusan tahun, namanya Kedai Kopi Maju. Terletak di jalan Nusantara, tak jauh dari Pelabuhan KPK, atau yang akrab di sapa Masyarakat Kabupaten Karimun sebagai Pasar Malam.

Namun kini kedai kopi Maju tinggal kenangan, terlihat papan putih diatas pintu masuk ruko masih tertulis Kedai Kopi Maju, dengan tulisan berwarna merah yang masih terlihat utuh tak tersentuh api. Akan tetapi, isi dalam kedai kopi terlihat luluh lantah, hangus tinggal arang. Atapnya pun tak lagi ada.

Kebakaran yang terjadi, Rabu (16/9) sekitar pukul 20.00 WIB malam tadi pun ikut menghanguskan kedai kopi kenangan ini.
Api dengan cepat menyambar seluruh bangunan ruko yang berdempetan. Terhitung sebanyak 7 pintu rumah toko hangus dilalap sijago merah, diantaranya Toko Yoes Colection, Kedai Kopi Maju, Gudang Toko Murni, Vision Optical, Tukang Gigi Mustika, Toko Murni Sendiri dan satu ruko yang tak tertulis namanya.

Semua bangunan berjejer sederet, berbatasan satu sama lain.
Kamis (17/9) sekitar pukul 05.30 WIB dinihari, terlihat sejumlah warga yang habis berjalan pagi menyempatkan diri melihat sisa-sisa puing dari kebekaran hebat malam tadi. Asap hitam masih terlihat mengepul dari sekitaran bangunan yang terbakar. Api pun masih terlihat meski berukuran kecil dari salah satu ruko yang sudah hangus.

Pagi itu Apek Long, terlihat mengais-ngais barang-barang di serpihan arang sisa bakaran. Ia terlihat mencoba mencari barang-barang yang bisa diselamatkan. Namun rasanya tak mungkin. Kondisi ruko usaha yang sekaligus menjadi tempat tinggalnya suda habis di sapu si Jago Merah. Hanya tinggal dinding semen dan sisa-sisa bekas bakaran.

Namun ia masih terlihat kuat, tegar dan masih tersenyum saat orang-orang yang lewat menegurnya dan berbicara singkat dengannya. Ia masih terlihat menyapa dan bercerita meski saat itu menggunakan dialeg tiongha.

Apek Along yang mengenakan kaos merah berkerah dipadu celana pendek hitam itu terus mencoba mencari apa yang dapat diselamatkan dari sisa-sisa bakaran tersebut.

Beberapa saat ia berbincang dengan seorang pria tiongha yang usianya jauh lebih muda darinya. Usai percakapan singkat itu, sang pria muda itupun berlalu dari hadapanya. Namun selang beberapa menit kemudian pria muda itupun kembali ke bekas Kedai Kopi Maju sambil membawa palu dan pahat. Bersama Apek Along mereka masuk dengang sangat hati-hati. Sampai di bagian belakang ruko. Terdengar suara pukulan benda besi yang terdengar beberapa kali. Beberapa saat kemudian keduanya keluar sambil membawa sebuah bungkusan yang bagian luarnya terlihat sudah menghitam.

Sejumlah warga melihat sisa Kebakaran yang terjadi pada Rabu (16/9/2020) malam tadi yang menghanguskan 7 pintu ruko. (Foto-Riadi)

“Bongkar brangkas, dia punya brangkas di belakang,” ujar pria muda itu saat ditemui POSMETRO.CO.

Menurut Pria itu, Apek Along masih beruntung, di dalam brangkasnya tersimpan segepok uang dan berhasil selamat dari jilatan api.

“Itu uang sepertinya selamat, bagus juga brangkasnya, hanya bagian luar saja yang dibungkus plastik terlihat hangus,” tegasnya.

Sementara setelah berhasil membongkar brangkas miliknya, Apek Along pun meninggalkan kedai kopi miliknya. Kepada POSMETRO Apek Along mengatakan tak lagi ada barang yang tersisa di dalam.

“Tinggal baju saja yang saya pakai yang selamat,” ucapnya.
Ia pun mengaku, kedai kopi Maju yang dikelolanya merupakan kedai Kopi yang sudah berusia tua. Kedai kopi itu diwarisnya kini. Berdiri sejak zaman kakeknya.

“Kedai kopi ini sudah ratusan tahun berdiri, sekarang habis semua,” ceritanya.

Dibuka, lanjut Apek Along, oleh Kakenya dan kini diteruskan olehnya. Sudah beberapa generasi masih tetap berdiri dan buka.

“Saya sudah usai 69 tahun kini, kedai kopi suda berdiri sejak kakek saya, ratusan tahun lalu, kini habis semua tak tersisa,” tambahnya lagi.

Apek Along pun terdiam lama, dan terus meninggalkan lokasi kedai kopinya. Namun menurutnya ia masih beruntung, tidak ada korban jiwa saat kebakaran. Semua selamat, karena semua lari saat ada api.

Api dengan cepat membesar dan tak tahu lagi apa barang yang bisa diselamatkan.

“Semua panik saat itu,” tutupnya dan berlalu.(ria)