Karimun

Sejak Pandemi Covid-19, Rumah Dinas Bupati Karimun, Digeruduk Ratusan Warga Setiap Harinya

Ratusan Ibu-ibu yang rela mengantri di rumah Dinas Bupati Karimun untuk berharap bantuan uang. (Foto-ria)

KARIMUN, POSMETRO.CO: Pandemi Covid-19 sangat terasa menghantam ekonomi masyarakat, khususnya di Kabupaten Karimun, terutama bagi masyarakat yang memiliki penghasilan rendah, para pekerja migran Indonesia (PMI) dan para pekerja yang sempat di PHK ataupun di rumahkan. Pasalnya hingga kini aktifitas perkonomian dan lainya masih belum bergerak.

Hal ini membuat sejumlah warga harus mencari jalan lain. Berkerja serabutan untuk mengasapi dapur setiap harinya. Namun sayang bekerja serabutan tak mampu mencukupi lagi kebutuhan keluarga.

Hal ini menjadikan sebagian masyarakat harus berbondong-bondong mendatangi Rumah Dinas Bupati Karimun. Terutama kaum hawa alias ibu-ibu.

Sejak pandemi Covid terjadi ratusan ibu-ibu rela mengantri di depan Rumah Dinas Bupati Karimun setiap paginya.

Seperti Senin (31/8) pagi kemarin. Sekitara 65 ibu-ibu rela menunggu di pelataran rumah dinas tersebut. Mereka menunggu harapan untuk mendapatkan bantuan uang yang diharapkan dapat membeli kebutuhan pokok mereka di rumah.

Mereka bukan tak ingin bekerja. Kondisi Pandemi membuat mereka harus kehilangan pekerjaan hingga kini. Bantuan Pemerintah Pusat dan yang belum merata membuat mereka tak tercatat sebagai penerima beragam bantuan yang di kucurkan Pemerintah pusat dalam pemulihan ekonomi di Indonesia.

Gambaran miris ini terus terjadi hingga kini. Puluhan hingga ratusan kaum hawa ini rela menunggu hingga panggilan antrian di suarakan.

Pantauan di lokasi, satu persatu mereke dibariskan petugas polisi pamong praja yang berdinas setiap paginya. Usai dibariskan satu persatu mereka pun menerima bantuan uang tunai.

“Dapat Rp50 ribu dek, lumayan buat beli beras dikit, sayur hari ini,” ucap Ramlah salah seorang warga yang mengantri.

Ramlah bukan tak ingin bekerja. Sebelumnya ia bekerja di Malaysia. Namun sejak Covid-19 ia tak lagi bisa masuk negara Jiran itu.
Sementara sang suami hanya bekerja serabutan dengan penghasilan Rp250 ribu perbulan.

“Saya tak bisa kerja lagi dek, biasa masuk ke Malaysia, sekarang tak bisa lagi, anak 2, suami bantu kerja meras kelapa, gaji hanya Rp250 ribu aja sebulan, gak cukup untuk kebutuhan hidup,” ucapnya lirih.

 

mengaku sudah 3 kali mendatangi rumah dinas bupati hanya untuk mendapatkan Rp50 ribu perhari nya.

“Cari kerja disini susah sekarang, jadi begini, ini juga tahu dari orang-orang,” tambahnya lagi.
Ramlah tak sendiri, ratusan ibu-ibu lainya pun bernasib sama, covid-19 menghentikan denyut nadi penghasilan mereka selama ini.

Lumpuhnya ekonomi membuat mereka harus melakukan segala cara, bahkan sampai mengantri di rumah dinas bupati.

Sementara salah seorang penjaga rumah dinas bupati Karimun menyatakan pandangan seperti ini sudah serinh terjadi sejak Covid-19.

“Hampir tiap hari, kalau pak bupati ada dikasih kalau tak ada mereka pulang, ini udah mulai berkurang kemarin ramai dari ini, kira-kira udah 3 bulanan lah,” ucap nya.(ria)