Batam

Wacana Sekolah Tatap Muka Dimulai Pertengahan Agustus

Wali Kota Batam HM Rudi melakukan pertemuan dengan kepala sekolah terkait kegaiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah di Dataran Engku Putri Batamcentre, Kamis (30/7). (Posmetro.co/ist)

BATAM, POSMETRO.CO: Pemerintah Kota Batam berencana membuka kembali kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah yang dimulai pertengahan Agustus nanti. Hal di sampaikan Wali Kota Batam, HM Rudi usai melakukan pertemuan dengan kepala sekolah di Dataran Engku Putri Batamcentre, Kamis (30/7).

“Iya, kita berencana membuka kembali sekolah-sekolah pertengahan Agustus nanti,” kata Rudi.

Kegiatan belajar mengajar tatap muka merupakan kesepakatan bersama. Sehingga, keputusan tersebut diambil. Rudi mengatakan untuk teknisnya nantinya, akan diatur sekolah bersama Dinas Pendidikan (Disdik) Batam.

“Teknisnya nanti diatur sekolah bersama Disdik. Nanti hasilnya dilaporkan ke saya, lalu saya teruskan ke Forkopimda. Kalau bisa awal Agustus dirapatkan,” ucapnya.

Dari pertemuan itu ada beberapa opsi yang dilakukan. Di antaranya membatasi jumlah siswa per kelas. Dari maksimal 40 orang per kelas menjadi 20 orang saja. Dengan konsekuensi jadwal sekolah harus dibagi menjadi dua shift yakni pagi dan siang. Opsi lainya secara bergantian seperti satu hari sekolah atau satu hari tidak sekolah.

“Untuk sekolah yang memang sudah ada dua shift, kelas pagi dan siang, bisa dilaksanakan dengan memperpendek jam belajar. Misal biasanya 6 jam nanti dibuat jadi 3 jam. Tak perlu ada jam istirahat. Setelah belajar, pulang. Saya rasa itu tak masalah, yang penting disiplin,” terangnya.

Kedisiplinan yang diharapkan tak hanya dari anak-anak murid. Tapi juga guru dan orang tua. Guru tak boleh terlambat masuk ke kelas yang dapat membuat anak berinteraksi atau bermain ketika menunggu guru hadir.

Kemudian orang tua juga diminta untuk mengantar dan menjemput anaknya tepat waktu. Jika masuk pukul 07.30 WIB, anak jangan diantar dari pukul 06.00 WIB Atau harusnya pulang pukul 11.00 WIB lalu dijemput pukul 11.00 WIB lewat. Jeda waktu seperti ini memungkinkan anak-anak untuk bermain dan berkumpul.

“Baik orang tua dan guru harus bekerjasama dengan baik. Nanti, kesepakatan ini harus ditandatangani nantinya. Karena saya tak mau sampai ada klaster baru di sekolah,” imbau Rudi mengingatkan.

Ia menjelaskan, kebijakan ini diambil karena banyak orang tua yang menyampaikan protes dan keluhan padanya. Tak sedikit orang tua yang merasa kesulitan dan terbebani dengan kegiatan belajar di rumah.

“Banyak orang tua protes. Karena, biaya makin besar, buat beli pulsa, kuota, dan lain-lain. Bagi yang tak punya gandphone standar, harus beli lagi. Jadi pandemi covid-19 ini makin berat buat mereka. Oleh karena itu meskipun Batam tak hijau, nanti akan kita buka. Tapi sekolah harus disiapkan betul-betul,” ujarnya.

Persiapannya juga menyangkut pengawasan terhadap anak-anak selama di sekolah. Siswa diminta untuk menggunakan masker dan rajin cuci tangan, di samping menjaga jarak. Tiap sekolah perlu membentuk tim untuk mengawasi para siswa selama di lingkungan sekolah.

“Tadi ada pesan juga dari Danyon Raider, kepala sekolah harus memastikan anak-anak tidak saling bertukar masker. Karena kadang anak-anak ini lihat punya temannya bagus, mau juga. Maka perlu juga dibentuk tim di sekolah untuk mengawasi anak-anak kita ini dalam menerapkan protokol kesehatan selama berada di lingkungan sekolah,” tuturnya.

Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam Hendri Arulan menambahkan pihaknya menyiapkan delapan protokol kesehatan untuk persiapan dibukanya kembali sekolah belajar tatap muka di pertengahan Agustus mendatang.

Seperti diterapkan mulai dari anak tiba dan meninggalkan sekolah. Yaitu, protokol kesehatan umum, Sarpras, tenaga pendidik di sekolah, ketika tiba di sekolah, berada di sekolah, selama proses belajar mengajar tatap muka, meninggalkan sekolah, dan setelah anak tiba di rumah.

“Itu baru dasarnya. Kalau teknis lebih lanjut akan dibahas bersama kepala sekolah nanti,” tambahnya.

Hendri menyebutkan kondisi saat ini masih ada sekolah yang belajar dua shift. Untuk itu, perlu langkah-langkah agar belajar tatap muka tetap sesuai protokol kesehatan aman bagi anak. Berdasarkan data hingga saat ini masih ada 30-40 persen sekolah dasar yang belajar dua shift.

“Ini yang mau kami bahas nanti. Kalau untul yang satu shift saya rasa tidak ada masalah. Hanya perlu pengaturan saja nanti,” kata dia.

Teknis selanjutnya yang dibahas adalah jumlah siswa per kelas yang harus sesuai dengan jlah yang aman yaitu 18-20 siswa per kelas. Saat ini satu kelas diisi 32-40 siswa. Untuk itu agar aman, jumlah ini harus dipecah menjadi dua.

“Jadi masing-masing kelas nanti ad 20 anak saja dengan jarak yang aman untuk belajar tatap muka,” kata dia.

Selanjutnya memangkas jam belajar siswa dengan durasi lebih pendek. Setiap sif direncanakan hanya berjalan sekitar 2,5 jam. Setelah usai belajar, anak langsung meninggalkan sekolah dan pulang. Tidak ada waktu istriharat, dan anak diminta untuk membawa bekal dari rumah.

“Jadi anak datang, lalu masuk kelas dan belajar. Setelah itu mereka boleh makan juga di dalam kelas dan begitu kelas usai anak dipulangkan dengan menerapkan protokol kesehatan dan tertib,” jelasnya.

Selain itu kata Hendri, sekolah juga dimintamenyiapkan tim khusus untuk mrngawasi belajar tatap muka ini. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap belajar tatap muka ini. Setiap pergantian shift, meja dan kursi belajar juga akan dibersihkan.

“Anak-anak yang menempati meja dan kursi akan dicatat dan tidak boleh bertukar dengan siswa lainnya. Ini untuk menjaga agar guru mudah mengawasi jika terjadi sesuatu nantinya,” ucapnya.(hbb)