Lingga

Miras dan Judi Marak di Dusun Tembok Lingga, Murid SD Ikut Bertaruh

Densy Diaz ketika melihat ikan teri yang dijemur di Dusun Tembok, Desa Mentuda. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Ketua Yayasan Kajang Kabupaten Lingga Densy Diaz mengungkapkan kekhawatirannya saat melihat kondisi kehidupan sosial masyarakat Suku Komunitas Adat Terpencil (KAT), Dusun Tembok, Desa Mentuda Kecamatan Lingga. Hal yang dikhawatirkan terkait pengaruh sosial masyarakat hingga ke anak-anak usia sekolah.

Densy Diaz mengatakan, baru-baru ini ia sempat ditemui warga Dusun Tembok, yang mengabarkan saat ini moral sebagian masyarakat banyak terkontaminasi dengan minuman keras (Miras), judi dan joget.

“Sebagian warga di Tembok dan saya sendiri sangat khawatir. Sebab masyarakat di sana baru saja mengenal agama Islam, terlebih lagi anak-anak di usia sekolah terkontaminasi dengan perilaku warga,” ungkap Densy Diaz, Kamis (24/7).

Densy Diaz mengisahkan, pada Minggu (19/7) ia pergi ke Dusun Tembok. Dan saat sekarang warga di sana ketiban rezeki dari Yang Maha Kuasa, karena dari hasil laut (kelong ikan teri) membuat ekonomi masyarakat cukup membaik. Ia juga ikut senang atas limpahan rezeki yang didapatkan masyarakat.

“Jujur saya selaku penggiat sosial merasa khawatir, atas pengakuan beberapa masyarakat dan pemuka agama ke saya. Bahwa di Tembok lagi maraknya minuman keras yang dijual bebas dan perjudian kaum ibu-ibu, tidak terbatas lagi,” ucap perempuan energik dan sangat peduli dengan anak Suku KAT ini.

Melihat hal itu, hatinya kian miris dan sedih karena ada murid SD yang terindikasi ikut main judi yang diberi modal oleh orang tuanya sendiri, supaya anaknya juga ikut bermain.

“Sekarang sekolah diliburkan tatap muka lantaran masih situasi Pandemi Covid-19. Hari ini momen Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2020, bagaimana generasi bangsa ingin pintar, cerdas dan berbudi luhur kalau di usia dini mereka sudah pandai bermain judi,” sebutnya.

Masih kata dia, adanya perilaku kurang baik pada anak di usia belajar tersebut, ia amat khawatir, bagaimana dengan masa depan Suku KAT itu nanti, jika tidak ditangani secara bersama-sama. Sementara zaman semakin maju tidak mungkin dia membiarkan rusaknya moral anak seperti itu jika lambat ditanggapi.

“Jujur selaku Ketua Yayasan Kajang saya risau dengan permasalahan ini. Untuk itu saya mengajak seluruh masyarakat dan pemerintah untuk dapat bergandeng tangan dengan harapan permasalahan sosial di Dusun Tembok dapat teratasi dengan segera bersama pihak terkait,” harapnya.

Dia mengaku, persoalan tersebut bukan permasalahan biasa, ia berharap pemangku kebijakan di Kabupaten Lingga dapat mengambil kebijakan, dan solusi, supaya perjudian dan minuman keras bisa diberantas agar Kabupaten Lingga yang dicintai ini aman dan kondusif.

“Saya sudah melaporkan permasalahan ini ke pihak-pihak terkait, namun belum ada tanggapan, kalau lambat penanganannya permasalahan yang tidak baik mudah terjadi,” tuturnya.

Icha masyarakat Dusun Tembok juga sempat mengabarkan permasalahan sosial di kampungnya itu, bahkan adiknya sendiri baru berusia 10 tahun sudah pandai berjoget, hingga larut malam sedangkan statusnya masih pelajar.

“Memang kejadian itu memang ada, apalagi saat sekarang masyarakat di sana lagi marak-maraknya memanen ikan teri (pasang kelong). Jadi joget, judi dan minuman tidak asing lagi di kalangan masyarakat Tembok. Saya juga meminta pemerintah mengambil tindakan tegas supaya permalasahan sosial di kampung kami terbebas dari hal yang merusak moral dan dilarang oleh agama,” pinta perempuan yang baru saja mondok di salah satu pesantren yang ada di Kabupaten Lingga.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga, Junaidi Adjam ketika dikonfirmasi mengatakan, sampai hari ini anak-anak masih melakukan proses belajar di rumah yang dipandu para guru. Sejauh ini ia belum mendapat laporan dari guru yang bertugas di SD Tembok terkait indikasi pelajar berjudi.

“Informasi dari ibu Densy ada, tapi sampai saat ini saya belum mendapat laporan dari guru sekolah yang ada di Tembok, yang katanya ada anak sekolah yang indikasinya ikut bermain berjudi,” ujar Junaidi, Jumat (24/7).

Terkait informasi tersebut, ia mengaku akan turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi pelajar Dusun Tembok Desa Mentuda, Kecamatan Lingga seperti yang disampaikan Ketua Yayasan Kajang.

“Kalau kita tidak melihat secara langsung itu sulit, apalagi laporan dari pihak sekolah (guru) juga belum ada ke kami. Namun kami dari dinas tetap akan ke lapangan nantinya,” tegasnya.

Camat Lingga, Yulius ketika dikonfirmasi belum mengetahui adanya penyakit masyarakat di Dusun Tembok, dan dia juga merasa miris jika memang benar anak usia sekolah terindikasi bermain judi.

“Hari ini akan saya coba koordinasi dengan kepala desa, supaya melihat permasalahan di sana. Dan saya juga akan meminta kepala desa berkoordinasi Bhabinkamtibmas dan Babinsa di sana,” jelasnya, Jumat (24/7).

Sebelumnya ia akan meminta kepala desa melihat dan berkordinasi dengan pihak terkait di desa, kalau memang benar adanya, ia berharap dapat ditangani dengan cepat.

“Kalau memang benar dan tidak dapat diselesaikan, kita akan turun ke Tembok bersama pihak terkait. Jujur Kecamatan Lingga di Tembok juga ada pembinaan agama buat masyarakat kita di sana. Baru-baru ini pak sekcam shalat Jumat di sana. Pembinaan agama yang kami lakukan tidak hanya di Tembok, tapi di beberapa tempat yang di anggap perlu,” pungkasnya.(mrs)