Batam

Humas Pemkab Lingga dan PWI Gelar Pelatihan Kehumasan, Angkat Potensi Desa Melalui Jejaring

Jajaran Humas Pemkab Lingga dan PWI Kabupaten Lingga menggelat pelatihan kehumasan desa, Rabu (15/7). (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Jajaran Humas Pemkab Lingga dan PWI Kabupaten Lingga melaksanakan pelatihan kehumasan desa. Masing-masing desa mengirim 2 orang perwakilan untuk mengikuti pelatihan di ruang rapat Kantor Bupati Lingga, Rabu (15/7).

Sekretaris PWI Lingga, Imam Afriandi, selaku pembawa acara memperkenalkan narasumber kegiatan, di antaranya Kabag Humas Jumadi, Ketua PWI Lingga Jhony Prasatya dan Abdul Rahman Mawazi Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, untuk memberi pemahaman fungsi kehumasan dalam memberi informasi tentang kondisi, potensi dan perkembangan desa untuk dipublikasikan melalui media.

Kabag Humas Pemkab Lingga, Jumadi mengatakan, pelatihan ini merupakan inisiatif PWI Lingga yang sangat didukungnya dan diselaraskan dengan tupoksi kehumasan.

“Wilayah kita luas dengan bentangan pulau-pulau, melalui kegiatan ini nanti setiap desa paham dan mengerti mengangkat potensi desa baik pembangunan, ekonomi dan budaya sehingga dapat diakses di luar sana melalui media,” ungkap Jumadi membuka sesi pelatihan.

Pada prinsipnya, pihaknya sebatas membuka konsep awal, nanti masing-masing desa memiliki humas mempublis pontensi dan kondisi desa yang sifatnya layak, dalam kesempatan ini PWI membuat jejaring untuk memunculkan potensi dan kondisi suatu desa.

“Jangan takut dengan wartawan. Definisinya berita yang layak sesuai konsep, ingat media sosial (Facebook) media pemberitaan itu berbeda. Kalau media pemberitaan ada produk jurnalisnya dan dilindungi undang-undang dan ada etika harus dilalui seorang wartawan atau jurnalis. Media sosial tidak ada perlindungan hukum, bisa-bisa tersandung pencemaran nama baik dan sebagainya,” kata Jumadi memberi pemahaman kepada peserta.

Dia berharap melalui pelatihan ini, masing-masing desa/kelurahan dapat mengangkat potensi di daerah masing-masing. Sedangkan Humas Pemkab Lingga skop kewenangan cukup kecil, sebab yang dirangkul hanya pemberitaan bupati, wakil dan sekda.

“Kami tidak punya hak mengintervensi seorang wartawan, ketika ada kegiatan Pemkab boleh kami munculkan. Kami harap adik-adik yang jadi peserta dapat memunculkan informasi tentang desa yang sifatnya positif. Tidak hanya itu, besar harapan saya ke depan melalui pelatihan ini untuk memunculkan jurnalis yang profesional,” imbuhnya.

Ketua PWI Lingga, Jhony Prasatya mengatakan, pelatihan yang sama sebelumnya sudah dilaksanakan di beberapa kecamatan tentang kehumasan bersama Humas Pemkab Lingga.

“Kami ingin mengedukasi dan informasi tentang dunia wartawan. Kami bekerja sesuai dengan undang-undang untuk menggali dan memberi informasi dengan membuat produk berita yang teratur dan dapat dipertanggung jawabkan. Wartawan banyak tahu segala bidang tapi sedikit-sedikit sangat membutuhkan pendalaman informasi untuk dipublikasikan,” tuturnya.

Jhony menyampaikan, kalau wartawan itu ada yang mengatur di Dewan Pers dan undang-undang. Bicara wadah PWI, awak media menghimpun untuk saling berbagi dan menambah informasi kalau perusahaan itu masing-masing.

“Di sini kami ingin membangun jaringan. Manfaatkan kami untuk publikasi tentang desa tanpa dipungut biaya. Namanya wartawan menyampaikan informasi secara benar dan dapat dipertanggung jawabkan, tanpa hoaks. Pesan saya berhati-hati dan harus bijaklah menggunakan media sosial (FB),” paparnya.

Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Abdul Rahman Mawazi juga menyampaikan, desa harus memiliki humas sebab dianggap penting dalam mempublikasikan tentang suatu desa terutama hal yang positif mengangkat potensi suatu desa.

“Organisasi pemerintah desa perlu memiliki humas untuk keperluan publikasi dalam membangun citra suatu desa, maka perlu membangun jejaring,” kata Abdul Rahman.

Menurutnya, desa harus memperdalam kepercayaan publik dalam membangun, nama baik atau citra desa harus dijaga, jika ada problem dikomunikasikan, semua itu ada caranya.

“Tiga paradigma humas membangun citra positif dalam pelayanan. Perlu seni atau etika antar sesama, dengan cara 3S (senyum, salam dan sapa),” sebut Abdul Rahman.

Membuka jejaring, akan mengikat dalam hubungan terutama hal positif. Bagikan informasi dan pengalaman, sebab paradigma media tetap membangun.

“Jadikan media itu mitra, kalau ada segala sesuatu wartawan yang akan mendalami sehingga menjadi produk lebih baik. Dekati, tak perlu takut jadikan wartawan mitra atau kawan,” tukasnya.(mrs)