Metro Kepri

Pengalaman Bekas Pasien Corona saat Dirawat dan Keinginan Berdakwah Lagi

Aktivitas Bekas Pasien Covid-19 di Fase New Normal (Bagian-2/Habis)

Tuan Nz berbincang-bincang dengan rekan-rekannya. (Posmetro.co/aiq)

KEMBALI soal rencana Tuan Nz ke depan, katanya, ia akan mengajak Soerya Respationo untuk ikut serta berdakwah keliling Kepri.

“Setelah Idul Adha saya ingin mengajak Romo (panggilan akrab Soerya Respationo) untuk keliling pulau. Insya Allah Romo bersedia,” ungkap Tuan Nz penuh bangga.

Kata Romo, mau ikut, tapi tidurnya bukan di hotel. Romo ingin ikut i’tikaf di masjid.

“Saya ajak keliling pulau. Bahkan, beliau niat ikut i’tikaf di masjid. Ingin merasakan bagaimana rasanya i’tikaf di masjid. Semoga terlaksana,” imbuhnya.

Tuan Nz ingin menegaskan, aktifitas dakwah yang ia lakukan, bukan semata-mata bertujuan untuk mendekati tokoh tertentu. Tapi, murni dakwah. Mengajak pada kebaikan.

“Setelah dirawat cukup lama. Saya ingin kembali berdakwah seperti sediakala,” ungkapnya penuh antusias.

Kata Tuan Nz lagi, masih segar dalam ingatannya, kala dirawat, ia merindukan masa-masa aktifitas dakwahnya itu.

“Di Lantai 6 Ruang Mawar RSUP Raja Ahmad Tabib, Provinsi Kepri. Saya selalu berharap bisa cepat keluar dari ruangan itu. Sungguh saya jenuh saat dirawat. Bayangkan, 53 hari hanya seorang diri tanpa boleh dijenguk keluarga. Bertemu keluarga hanya boleh lewat video call. Di ruangan itu, setiap hari hanya tasbih dan Alquran yang jadi teman setia. Setiap malam saya mengadu ke Allah, agar dimudahkan dalam menjalani masa-masa sulit itu,” kenang Tuan Nz.

Hingga akhirnya ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pemimpin Kota Tanjungpinang-H.Syahrul berpulang.

“Innalillahi wainnaillaihi rojiun, 28 April silam. Semoga beliau mendapat tempat terindah di sisi-Nya,” ungkap Tua Nz sedih.

Dengan semangat yang ada, Tuan Nz menyambut pagi dengan gembira. Berharap kesembuhannya segera datang.

Kala itu, setiap pagi, ada dua perawat rutin datang ke ruangannya. Sesekali ada tiga orang. Satu orangnya adalah dokter.

Kata Tuan Nz, meski mereka saban hari datang ke ruangannya, ia nyaris tak mengenalinya. Karena, mereka yang datang ke ruangannya memakai baju APD (alat pelindung diri) lengkap. Ia hanya bisa melihat bola matanya.

“Saya nyaris tak tahu apakah mereka dokter atau perawat. Bahkan, petugas cleaning service juga memakai APD lengkap,” cerita Tuan Nz serius.

Tiap jam 06.00 WIB, mereka (perawat/ dokter) mengecek tensi, jantung, rontgen. Proses rontgen itu yang membuatnya kerap membuatnya justru susah bernafas.

30 hari pertama, jarum infus itu menancap di pergelangan tangannya. Ada cairan biru yang dimasukkan ke tubuhnya lewat jarum infus itu. Kata dokter, itu cairan pembunuh virus covid-19.

“Mandi susah. Buang air besar juga terpaksa dibawa ke kamar mandi, tanpa bantuan siapa-siapa,” ungkapnya.

Tiap pagi juga diingatkan untuk berjemur. “Karena ruang isolasi itu memang disetting agar sinarnya tembus ke ruangan,” sebutnya.

Satu ruangan ada dua pasien. Tapi ruangannya dipisah dengan pembatas kaca. Untuk toiletnya dipakai bergantian.

Masih menurut Tuan Nz, pernah ia bertanya kepada dokter, dan juga perawat dengan nada setengah protes.

“Dokter, kenapa saya harus lama-lama dirawat di rumah sakit, ini?”

Dokter pun menjawab, “Karena, virusnya suka sama pak Udin. Makanya saat swab, hasil pemeriksaannya sebentar positif, sebentar negatif. virusya cinta sama pak Udin”.

Mendengar jawaban itu, Tuan Nz tak jadi emosi. Justru ia malah tersenyum. “Ya sudahlah,” jawab Tuan Nz.

Selama 53 hari, ia di-swab sampai 10 kali. Hasilnya berbeda. Swab ke 9 dan ke-10, negatif hingga ia diperbolehkan pulang.

“Semangat ya Pak,” imbuh dokter yang menanganinya waktu itu. Tuan Nz pun menjawab bahwa ia selalu semangat dan bahkan siap diajak duel. Mendengar jawaban Tuan Nz, dokter pun tertawa lepas.

Di ruang mawar itu, kata Tuan Nz ia sempat dinobatkam jadi lurah. Sebab, Tuan Nz adalah pasien terlama di sana.

“Pak Udin, kami jadikan bapak disini sebagai lurah ya. Karena sejumlah pasien sudah banyak yang pulang,” kata dokter waktu itu.

Antara sedih dan ingin tertawa, menanggapinya. Tapi, ia berusaha sabar, dan mengikuti proses pengobatan sampai tuntas.

Terakhir, saat ditanya soal kabar anak lelakinya yang pernah diusir pengurus masjid, saat sholat maghrib, Tuan Nz kembali menunjukkan raut wajah sedih.

Putranya yang bernama Maulana (12) itu masih trauma. Tidak ingin menginjakkan kakinya di surau dekat rumahnya itu lagi.

“Anak saya sedih karena dia tahu kalau saya dikucilkan setelah mendapat ujian terkena virus covid ini,” ungkapnya.

Tak hanya dikucilkan tetangga. Ketika yang warga tak mampu lainnya mendapat bantuan, Tuan Nz mengaku justru diabaikan. Padahal, ia termasuk warga tak mampu.

Tempat tinggalnya juga numpang dengan rumah mertuanya.

“Makanya saya menaruh hormat buat Romo yang begitu perhatian saat saya masih dirawat di RS. Keluarga saya diperhatikan. Diberi bantuan sembako. Betapa berartinya bantuan itu bagi keluarga saya. Romo calon pemimpin harapan masyarakat kecil seperti saya,” pungkasnya.(aiq)