Batam

Inflasi Batam 0,51 Persen, Jauh dari Target Nasional

Rapat Tim Pengedalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam di Dataran Engku Putri Batamcentre, Selasa (23/6). (Posmetro.co/ist)

BATAM, POSMETRO.CO: Inflasi di Kota Batam sampai akhir Juni 2020 ini berkisar di angka 0,51 persen. Hal ini disebutkan Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Kepulauan Riau (Kepri), Musni Hardi Kasuma Atmaja.

“Angka ini masih jauh dari target inflasi nasional di tahun ini sebesar 3+1 persen,” katanya usai menggelar rapat Tim Pengedalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam di Dataran Engku Putri Batamcentre, Selasa (23/6).

Namun, ia memperkirakan angka inflasi Kota Batam bisa berada di kisaran 2 persen. Karena pada prosesnya, Musni menekankan, pentingnya menjaga arus distribusi bahan pangan di Batam yang memang banyak disuplai dari luar daerah. Terlebih kondisi cuaca di bulan Juni ini mulai terjadi hujan yang tentu akan berpengaruh pada kelancaran distribusi bahan pangan.

“Apalagi cuaca saat ini hujan tentunya berpengaruh pada kelancaran distribusi bahan pangan yang masuk ke Batam,” ujar Musni.

Ia mengatakan, melihat kondisi penanganan Covid-19 dan gerak masyarakat yang mulai menyesuaikan dengan tatanan kehidupan baru, Musni memperkirakan ekonomi Batam dan Kepri akan membaik pada quartal 3 dan 4 tahun 2020 mendatang. Namun, ia mengingatkan kalau kondisi Covid-19 sudah bisa tertangani lebih baik, maka akan berimplikasi pada peningkatan risiko inflasi menuju batas tertinggi di kisaran 4 persen.

“Tahun depan kalau misalnya penyebaran covid bisa dikendalikan, pertumbuhan ekonomi kota akan lebih tinggi, income meningkat, pendapatan meningkat, kebutuhan bahan pangan meningkat, ini ada kemungkinan kebutuhan bahan pangan meningkat,” kata Musni lagi

Untuk itu, KPwBI Kepri menawarkan tiga formula yang bisa menjadi solusi. Di antaranya mendorong peningkatkan produksi, transaksi digital transaksi penjualan barang online dengan transaksi non tunai, dan terakhir bekerja sama dengan daerah lain.

“Formula-formula ini di antaranya tidak bisa diterapkan dalam waktu dekat. Karena luas lahan yang terbatas, kebutuhan pangan di Batam belum bisa terpenuhi,” tuturnya.

Sementara untuk penggunaan transaksi non tunai dan sistem online, selain mencegah Covid-19 ini juga memudahkan pedagang. Dan bisa menekan penularan dari orang lainnya.

“Pilihan terakhir, kita perlu menjalin kerja sama dengan daerah yang memiliki bahan pangan, ini sesuai dengan instruksi pusat. Batam ini hampir selalu defisit, lahan kita terbatas penduduk kita banyak,” kata Musni lagi.

Sementara Wali Kota Batam, HM Rudi mengatakan, penggunaan non tunai harus terus berjalan. Ia juga meminta Dishub Batam dan pelabuhan yang dikelola BP Batam untuk menerapkan pada parkir menggunakan kartu dalam pembayarannya.

“Transanksi non tunai tetap jalan tidak ada alasan lagi. Tadi BI Kepri sudah sosialiasikan jadi kita butuh beli kartu ini,” tegas Rudi.

Di lokasi yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis mengatakan, hingga akhir Juni nanti stok beras di Batam ada 11 ribu ton. Angka ini bersumber dari cadangan beras Kota Batam yang terdata sampai 20 Juni lalu sebanyak 10 ribu ton dan rencana Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menambah kuota beras sebanyak 1.000 ton lagi pada akhir Juni 2020 mendatang.

“Kondisi ini juga berlaku untuk jenis pangan lainnya. Jadi kita minta masyarakat agar tetap tenang karena ketersediaan pangan di Batam masih stabil,” terangnya.

Sambungnya, pihaknya terus melakukan pembaharuan data setiap bulannya untuk memastikan kondisi pasokan pangan aman. Hal inilah menjadi tantangan untuk menjaga stabilitas harga. Sebab kondisi cuaca yang terjadi saat ini sangat mempengaruhi arus pengiriman komoditas pangan yang sebagian besar berasal dari daerah luar Batam.

“Ada 20 item kami data terus, beras aman, gula cukup, bawang juga cukup, komoditi pangan kita cukup,” pungkasnya.(hbb)