Batam Kita

Pasien Covid-19 ‘Kangen’ Ruang Isolasi RSBP Batam

Kisah Garda Terdepan Penanganan Covid-19 (Bagian-1)

RSBP Batam. (Posmetro.co/cnk)

DATANGNYA virus corona tentunya tidak mudah diterima oleh semua orang. Bayangkan saja, seluruh tatanan dibuatnya berubah. Hingga menjadi pandemi global. Dunia berteriak. Korban berjatuhan karena virus ini menyerang sistem pernafasan. Ratusan ribu orang di dunia meninggal akibatnya. Tim medis jadi bumper. Berjibaku di rumah sakit, berjuang menangani pasien terkonfirmasi Covid-19 ini. Suka duka dilalui. Tentu ada cerita di balik merawat pasien Covid-19 ini.

“Bawakan saja ke diri kita. Seandainya pasien ini keluarga kita, atau kita sendiri. Jadi pasien kita rawat dengan hati yang tulus dan ikhlas disisi lain itu memang job,” kata Ns. Norma Elina kordinator perawat penanganan pasien Covid-19 di RSBP Batam mengawali ceritanya.

Menurut Norma, secara manusiawi rasa takut dalam menangani pasien Covid-19, pasti ada.

“Tapi karena dalam menangani pasien selalu dilengkapi APD lengkap, seperti kaca mata (goggle), sepatu bot, sarung tangan karet, coverall, face shield/ helm, masker dan bekerja sesuai SOP, rasa takut itu menjadi hilang,” ulasnya.

Setelah melakukan tindakan ke pasien, ia mandi dengan bersih dan sebelum pulang ke rumah kita mandi lagi hingga bersih, lalu pulang ke rumah.

Namun ia bekerja tidak sendirian. Dalam satu shift katanya terdapat beberapa tenaga medis.

“Sebelumnya kami perawat setiap shift 2 orang selama 2 bulan. Selanjutnya bulan ke-3 yang dinas berempat, sejak tanggal 6 April 2020 yang berdinas 7 orang, itu bantuan dari berbagai rumah sakit yang ditugasi oleh Dinkes 10 orang,” ucap wanita yang sudah bekerja di RSBP Batam sejak 1998 itu.

Lalu bagaimana pasien Covid-19 bisa sembuh? Sementara hingga kini vaksin dan obat virus corona itu belum ada. Setiap menangani pasien, Norma bersama timnya selalu berusaha menumbuhkan pikiran positif.

“Hati yang gembira adalah obat dan semangat yang patah akan mengeringkan tulang. Banyak berdoa, berfikiran positif, olahraga teratur, minum air putih dan selalu bersemangat,” terangnya.

Dengan itu pasien dewasa dan anak-anak akan merasa hanya sementara dirawat. Setiap paginya, pasien beraktivitas melakukan olahraga ringan, senam dan juga bernyanyi. Tapi tetap mengenakan masker. Pun komunikasi antara perawat dengan pasien dijaga kebersamaannya. Sehingga pasien dianggap sebagai keluarga sendiri.

“Bahkan kami bikin group WhatsApp. Namanya Keluarga Cemara. Setelah sehat, kita minta bubarin group ini. Tapi mereka menolak dengan alasan ingin jaga silaturahmi,” tambahnya.

“Ada juga yang bilang kangen ke ruang isolasi. Maksudnya ingin jalan-jalan ke RSBP Batam,” kenangnya. Selain itu, pihaknya selalu mempertimbangkan permintaan dari pasien. “Ada yang mendadak ingin Pizza, makan steak, nasi padang, macam-macamlah. Katanya bosan makan makanan rumah sakit”. “Kami hanya bilang, kalau nutrisi itu bisa diserap dengan baik di tubuh. Dan kalian bisa cepat pulang,” imbuhnya.(cnk/bersambung)