Batam Kita

Penumpang Sepi, Citilink Tutup Penerbangan Reguler di Batam

Penumpang menjalani pemeriksaan kesehatan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. (Posmetro.co

BATAM, POSMETRO.CO: Maskapai Citilink Indonesia kembali beroperasi di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, pada Jumat 8 Mei 2020 lalu. Itu adalah hari pertama sejak diberlakukannya karantina wilayah pasca pandemi Covid-19.

Sayangnya, maskapai berplat merah ini hanya mengangkut 4 penumpang saja. Baik itu penerbangan dari Jakarta menuju Batam, ataupun sebaliknya. Lantas apa yang menjadi penyebab sepinya penumpang pasca pemerintah pusat memberikan kelonggaran untuk transportasi udara boleh beroperasi di tengah pandemi ini?

POSMETRO.CO mencoba menelusuri beberapa konter tempat penjualan tiket maskapai yang ada di bandara. Yaitu konter Citilink, Lion Air, Garuda dan Sriwijaya. Tapi hanya hitungan jari saja yang nampak. Beberapa calon penumpang yang akan berangkat mendominasi terbang dengan Garuda, daripada maskapai lain.

“Ada beberapa saja (calon penumpang) dibanding maskapai lainnya. Tapi jadwal berangkat nggak tiap hari,” ujar sumber POSMETRO.CO di bandara, Rabu (13/5).

Menurut sumber, lesunya aktivitas penerbangan ini karena ribetnya prosedur sebelum terbang.

“Banyak penumpang yang mengeluh. Sementara yang berangkat ada dalam kondisi mendesak atau urgen, misalnya,” katanya.

Seperti penumpang harus mengurus surat bebas Covid 19 dan syarat lain sesuai surat edaran kementerian perhubungan.

“Penumpang ada yang tidak tahu kalau perlu surat tersebut. Jadi mereka diminta oleh pihak maskapai untuk lakukan rapid test dulu sebelum terbang,” katanya lagi.

Terkait rapid test di bandara, Direktur BUBU Hang Nadim Batam, Suwarso membenarkannya, sebelumnya memang ada kegiatan pemeriksaan rapid test oleh klinik Medilab di bandara.

“Tapi dua hari saja. Rabu kemarin ditutup karena sepi. Bukan karena mahal. Kalau harga rapid test itu kesepakatan Medilab dengan penumpang. Iya Rp 400 ribu,” terangnya.

Terkait surat keterangan bebas Covid 19, hanya berlaku selama satu minggu. “Kalau kadaluarsa itu yang nentukan pihak karantina. Bukan bandara,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Suwarso, ada penumpang yang ketinggalan pesawat karena masa berlaku surat keterangan bebas Covid 19 sudah kadaluarsa.

“Di bandara nggak ada, dia (penumpang) cari klinik di luar. Datang ke bandara, tau-tau telat dan ditinggal pesawat,” tambah Suwarso. Ia memastikan, sepi penumpang bukan karena naiknya harga tiket.

“Harga tiket nggak naik. Tapi disesuaikan dengan HET. Sama harganya sewaktu musim lebaran,” katanya.

Karena sepi, lanjut Suwarso, maskapai Citilink Indonesia mulai Jumat 15 hingga 31 Mei 2020, hentikan penerbangan reguler di Batam. Lesunya penerbangan ini tak hanya terjadi di maskapai Citilink, maskapai Lion Air Group pun demikian. Selain itu, penumpang diwajibkan membeli tiket Pulang Pergi (PP) sesuai surat edaran Kemenhub.(cnk)