Lingga

Keberhasilan Pertanian di Desa Panggak Darat Dimulai 4 Tahun Lalu, Ini Perjuangannya…

Didampingi Bupati, Ketua HKTI Lingga dan pengurus, Kades Panggak Darat memberikan keterangan terkait pertanian di desanya pada awak media. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Kepala Desa Panggak Darat, Zulmafriza mengatakan, panen padi kali ini bukan yang pertama, tapi yang keempat kalinya. Bahkan dua minggu lalu ada 6 hingga 7 petani juga sudah memanen padi di sawah tersebut. Dan untuk panen berikutnya kurang lebih 30 hektare.

“Kalau 2 hari yang lalu panen sekitar 4,2 ton, pada hari ini ada kenaikan signifikan produktifitas dengan angka 6,2 ton/hektare,” kata Zulmafriza.

Sebutnya, Desa Panggak Darat terdiri dari 620 KK, kalau panen 4,2 ton mereka punya stok 9 bulan, dengan 1 hari 1 KK memakan beras 2 s/d 3 kilo setiap hari. Sedangkan kalau masing-masing 6,2 ton, bisa-bisa 1 tahun.

Sebenarnya panjang tentang perjuangan ini, tapi jujur sambung dia, ini semua itikad baik pak bupati, Presiden RI khususnya, sudah membawa program pertanian ini ke Kabupaten Lingga, melalui Menteri Pertanian serta ide cemerlang pak bupati disambutnya dengan baik.

“Memang 4 tahun lalu saya menemui pak bupati terkait dengan pertanian ini, sekarang inilah hasilnya. Saya mewakili petani berterima kasih sekali pada pak Bupati dan Wakil Bupati sehingga apa yang diinginkan tercapai pada hari ini,” ungkapnya.

Ceritanya, sawah dicetak tahun 2017, tahun 2018 pada Musrenbang desa, pada RPJMDes dilakukannya perubahan semuanya, sebab melalui perkebunan ini ada kehidupan ekonomi baru yang difokuskannya pada pertanian.

“Alhamdulillah di tahun ketiga, dana desa 90 persen terserap ke pertanian ini, dan dapat diterima masyarakat sebab akan terfokus pada peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Zulmafriza.

Tahun 2017 kata dia, dilakukan penambahan jalan supaya dapat masuk ke lokasi sepanjang 4 kilometer, juga dibangun jembatan, rumah singgah serta tempat jemuran padi sebanyak 4 unit.

Tahun 2018, desa kembali menggelontorkan anggaran dengan membeli 520 batang pipa air untuk mengaliri air dari desa ke area persawahan. Sedangkan tahun 2019 desa kembali menganggarkan pembelian pipa sebanyak 600 batang, hingga setiap petak sawah teraliri air untuk irigasi.

“Sampai hari ini belum pernah kita pungut biaya ke masyarakat sebagai petani. Masing-masing petani siap buka kran air saja di setiap petak sawah yang sudah ada,” ucapnya.

Memaksimalkan area persawahan, tahun 2020 ini, desa menganggarkan lagi sebesar Rp 200 juta, untuk jalan 4 kilometer peralatannya dari Dinas Pertanian tanpa disewa, tapi pihak desa membayar jasa operator dan minyak pengoperasian alat.

“Jadi akan saya bangun irigasi sekunder di jalan utama 3 kilometer, dengan membuka sawah wisata di atas lahan seluas 5 hektar, bahkan dan mendapat dukungan pak Wakil Bupati yang juga akan menitip anggaran dengan desain yang sudah ada dan DED sudah dikerjakan,” bebernya.(mrs)