Batam Kita

Penanganan Pasien Covid-19 di RSUD-EF Dipertanyakan Anggota DPRD Batam

Ilustrasi covid-19. (Posmetro.co/ist)

BATAM, POSMETRO.CO: Penanganan pasien virus Corona menjadi sorotan DPRD Kota Batam. Hal ini terkait beredarnya curhatan almarhum JR, pasien positif Covid-19 saat dirawat intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, waktu lalu.

“Sebenarnya seperti apa SOP penanganan pasien Covid-19 yang dirawat RS Embung Fatimah,” tanya anggota Fraksi PKS, Siti Nurlailah kepada pihak RSUD-EF saat rapat di ruangan utama DPRD Kota Batam, Kamis (2/4).

Kata Siti, dari laporan yang didapat bahwa pasien Covid-19 nomor 03 yang meninggal pada 30 Maret lalu sempat curhat selama dalam masa perawatan dirinya tidak dipedulikan.

“Hal ini yang kami minta penjelasan Direktur rumah sakit. Seharusnya ada CCTv yang dibuat di ruangan itu. Jangan sampai nanti ada yang terpapar, pasien menolak untuk dirawat. Karena tidak diurusi,” ucap Siti.

Saat ini DPRD Batam terus berupaya membantu Pemerintah Kota (Pemko) Batam dalam menanggulangi penyakit menular ini. Karena Covif-19 ini menjadi momok menakutkan di masyarakat seluruh dunia terutama Batam. Yang mana kasusnya kian meningkat dari waktu ke waktu.

“Kalau tidak didukung dengan pelayanan dan fasilitas yang maksimal. Yang kita khawatirkan pasien pun nantinya jadi takut untuk dirawat. Jadi kita ada langkah dan solusi yang tepat dalam menanganin hal ini,” harap Siti.

Sementara Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Embung Fatimah, Sri Rupiati mengakui bahwa selama dirawat tim medis menggunakan seluler untuk berkomunikasi dengan pasien Covid-19 yakni JR. Alasannya, ruangan isolasi tersebut masih baru dan belum ada komunikasi seperti bel untuk memanggil petugas RS.

“Tim medis menggunakan handphone untuk berkomunikasi. Karena di ruangan isolasi belum disediakan alat komunikasi. Seperti bel dan lain sebagainya untuk memanggil tim medis,” jelas Sri.

Ia juga menjelaskan, pelayanan yang dikatakan kurang tidak juga diinginkan tim medis. Karena di waktu tersebut perlu 20 menit untuk mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) jika sudah mahir. Namun, jika masih sulit perlu setengah jam. APD salahsatu protokol kesehatan yang harus diterapkan dari WHO.

“Bahkan menggunakan APD tidak bisa terburu-buru. Karena memang harus betul-betul tertutup dan perlu bantuan orang lainnya juga. Untuk pemasangan APD bagian kaki, sebelum pakai sepatu boat perlu tiga lapis,” bebernya.

Risiko yang dihindari lainnya yakni tidak boleh berlama-lama menggunakan APD ini. Karena ruangan isolasi Kirana RSUD EF itu belum ada alat pedingin atau AC. Karena pasien 03 sebelumnya dirawat di RS Awal Bros. Di mana fasilitasnya lebih lengkap bahkan bisa menggunakan ruangan yang bersuhu negatif.

“Karena pasien dirujuk RSUD EF, dan maaf memang belum dilengkapi fasilitas seperti Awal Bros,” ulas Sri.

Selain itu kata Sri, tim medis juga mengatur waktu berdinas. Dalam 1 shift ada 12 orang dengan pola 4,3,3 dan khusus 2 perawat intensif. Untuk sebulan disiapkan 36 dan 10 perawat yang siap.

Ia membantah bahwa pasien 03 tidak dirawat dengan benar. Padahal kondisi pasien saat itu sudah digolongkan berat. Karena sebelum dirujuk ke RSUD EF, pasien ini sudah berobat ke RS swasta di Batam beberapa kali.

“Kami tidak terima jika pasien kami rawat tidak dipedulikan. Kami sudah berjuang maksimal. Kabar ini kalau bisa kami akan klarifikasi. Saya tahu semua prosedurnya yang terjadi di Kirana itu. Jadi saya harap masyarakat mengerti posisi dan kinerja kami,” imbau Sri lagi.(hbb)