Kriminal

Beli Masker 10 Kotak, Ternyata Isinya Sampah

Ricky menggandeng cewek. (Posmetro.co/cnk)

BATAM, POSMETRO.CO: Pemuda bernama Lenzoe Purba ini apes. Pesan masker malah kena tipu. Masker yang ia pesan lewat online, ternyata sampah. Ia pun merugi sekitar dua jutaan lebih.

“Sial, di tengah pandemi covid-19 ini masih ada juga yang menipu. Teman pulak lagi,” ujar Lenzoe menceritakan kejadian yang menimpanya kepada POSMETRO.CO, Minggu (29/3).

Lenzo mengaku, awalnya ia mendapat tugas dari kantor tempatnya bekerja untuk mencari 1.000 masker.

“Perusahaan tempat aku bekerja, berencana mengadakan program CSR (Coorporate Social Responsibility) berupa pembagian masker gratis, lengkap dengan handsanitizer bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek apartemen,” ulas Marketing Communication di salah satu perusahaan pengembang property di Batam Centre ini.

Lanjut Lenzoe, Jumat (27/3) dirinya membuat status di akun Facebook terkait beli masker. Pun beberapa rekan sosial medianya menanggapi. Namun ada satu pesan masuk melalai inbox, atau Facebook Messenger.

“Namanya Ricky. Teman aku dulu sekitar tahun 2010 hingga 2012 saat masih bekerja di galangan kapal. Aku kenal, tapi belakangan kami kehilangan kontak, namun tetap berteman di Facebbok,” terangnya.

Mengetahui Lenzoe sedang membutuhkan masker, Ricky menawarkan masker dengan harga yang cukup murah.

“Satu kotaknya Rp 225 ribu, aku setuju dan aku memesan 10 kotak,” lanjutnya. Saat itu Lenzoe bercerita bahwa masker ini akan digunakan untuk kegiatan sosial. Pelaku menitipkan 10 kotak masker lagi, untuk digunakan jika urgent saat di lapangan, atau istilahanya sumbangan jika diperlukan.

“Tentu sebagai teman aku sangat senang, dia juga berniat untuk menyumbang, ia mengirimkan 20 kotak masker dalam 1 paket,” akunya.

Nah, sore harinya, Ricky mengirimkan paketnya di lokasi proyek pembangunan apartemen. Sementara Lenzoe memintanya untuk mengantarkan ke kantor pemasaran di ruko Trinusajaya Batam Centre.

“Karena batrai HP nya lowbatt, maka aku berinisiatif untuk ke lokasi proyek menjemput paket masker,” tambah Lenzoe.

Setibanya di lokasi Ricky meminta untuk berpindah tempat, karena lokasi proyek yang ramai dengan para pekerja. “Tak enak katanya menerima uang dilihat banyak orang. Akhirnya kami transaksi di kantor,” katanya.

Selayaknya teman baik, Ricky dipersilahkan masuk ke kantor dan mereka mengobrol banyak hal. Karena sudah 8 tahun tidak bertemu. Sambil membayar paket masker tersebut dengan total Rp 2.260.000 dari harga awal Rp 2.250.000 ditambah ongkos kirim Rp 10 ribu.

“Hingga aku seakan terlupa untuk mengecek kembali paket masker yang aku beli,” kenangnya.

Sepulangnya pelaku, barulah Lenzoe membuka paket yang terbungkus rapi itu. Tanpa curiga sedikitpun, perlahan Lenzoe mulai merobek kotak tersebut.

“Dan yang ketumu adalah tumpukan sampah plastik. Tak habis pikir, aku ditipu teman sendiri,” kenangnya.

Dihubungi, nomornya sudah tak aktif. Pertemanan di Facebok juga sudah diblokir. Ricky hilang bersama dengan uang jutaan rupiah. Lenzoe memposting kejadian itu di sosial media.

“Akhirnya viral, ternyata Ricky seorang penipu yang memang dicari banyak korbannya. Ia telah piawai menipu dan terjerat banyak kasus,” ucapnya.

Sadar menjadi korban penipuan, Lenzoe melapor ke Polsek Batamkota. Karena tidak cukup bukti, laporannya tidak diterima. Tapi Lenzoe puas setelah mendapat pengertian dari kepolisian.

Kanit Reskrim Polsek Batamkota, Iptu Siswanto Eka Putra membenarkan atas adanya pengaduan tersebut. Agar kejadian tak terulang, Putra mengimbau warga jangan sembarangan membeli online dari situs yang tidak resmi.

“Belilah di situs resmi seperti Tokopedia, Lazada, dan lainnya, minimal konsumen lebih aman,” imbau Putra.(cnk)