Kriminal

Tas Pesanan Online Ketahuan Berisi Sabu

Tas berisi sabu yang diamankan pihak BC Batam. (Posmetro.co/cnk)

BATAM, POSMETRO.CO: Sabu-sabu seberat 205,1 gram gagal “berangkat” ke Jakarta. Barang haram dalam tas wanita yang seolah dipesan secara online itu ketahuan oleh petugas Bea dan Cukai Batam saat lewat x-ray pada Rabu (12/2).

“Sabu dalam tas wanita berwarna biru itu terungkap dari hasil citra x-ray dari satu karung barang kiriman dengan tujuan Jakarta Selatan dengan nomor resi JNE 150220002758320,” ujar Kepala Bidang BKLI Bea Cukai Batam Sumarna kepada POSMETRO.CO, Selasa (18/2).

Pengirimnya atas nama Shinta dengan penerima atas nama Diana disinyalir identitas fiktif.

“Paket dikirim melalui jasa titipan dan ditemukan di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) Pukadara Pranaperkasaa yang posisinya tidak jauh dari bandara. Nomor telepon pengirim dan penerima tidak bisa dihubungi,” kata Sumarna.

Informasi yang dihimpun POSMETRO.CO di lapangan, penyeludupan sabu melalui jasa pengiriman barang ini sebenarnya bukan modus baru di Batam. Modus ini disebut-sebut sudah lama digunakan para bandar narkoba karena minim risiko dan hemat biaya.

Menurut salah seorang sumber, yang juga mantan bandar narkoba yang dulu kerap menggunakan modus ini mengatakan, lalu lintas pesanan via online seperti tas yang begitu padat menjadi celah yang bagus bagi pengiriman narkoba.

“Yang pesan tas, sepatu dan lainnya banyak. Barang yang dikirim melalui jasa titipan atau ekspedisi. Karena sangat padat, sehingga tidak terlalu dicurigai,” ucap sumber yang tak ingin namanya disebut ini, Selasa (18/2).

Alasan para pemain narkoba memanfaatkan kriman via ekspedisi, katanya lebih minim risiko dan lebih hemat karena tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk kurir.

Banyaknya jumlah pengiriman melalui ekspedisi setiap harinya membuat pengawasan terhadap setiap barang kiriman tidak dilakukan per satu item barang. Tapi puluhan barang dimasukkan dalam satu karung. Pengecekan
dilakukan per karung yang isinya berbagai macam barang melalui mesin x-ray.

“Kalau petugas ngecek satu per satu ribuan barang setiap hari pasti waktunya tidak akan cukup, di situlah celahnya,” katanya lagi.

Apalagi, lanjut dia, sejumlah ekspedisi memberi layanan One Night Service (ONS). Layanan satu hari sampai. Layanan cepat ini banyak digunakan masyarakat. Semakin banyak yang menggunakan layanan ini maka pengawasan pun akan semakin kendor.

“Kondisi seperti ini lah yang dilirik oleh bandar narkoba sehingga mereka bisa menyisipkan barang kirimannya tanpa dicurigai,” imbuhnya.

Menurut pria ini, biasanya, media yang digunakan dalam mengirim narkoba adalah media yang paling banyak lalu lintasnya dalam pesanan atau belanja online seperti tas wanita. Dalam satu tas wanita berukuran sedang biasanya hanya disisipkan 200-300 gram saja. Agar berat tas tidak terlalu mencolok dengan ukuran tas.

Terkait modus ini, Sumarna mengatakan, pihaknya melakukan pengawasan tetap mendasarkan manajemen risiko. Mengatensi barang-barang yang selama ini cenderung diberitahukan tidak ada isi apa-apanya.

“Karena memang pihak jasa titipan itu kan hanya menginput uraian barang dari pengirim,” terangnya.

Selain itu, mereka juga tidak tahu persis isi paket itu apa. Sumarna memastikan, terkait kecepatan layanan barang kiriman juga sangat tergantung kejujuran si pengirim barang.(cnk)