Batam Kita

Papan Nama Dipasang, Museum Raja Ali Haji Bulan Ini Rampung

Museum Raja Ali Haji di Dataran Engku Putri. (Posmetro.co/hbb)

BATAM, POSMETRO.CO: Branding nama Museum Raja Ali Haji kini sudah terpasang. Deretan huruf berukuran besar menggantikan tulisan MTQ Nasional XXV Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau yang sudah dicabut beberapa waktu lalu.

“Iya sudah kita pasang minggu lalu. Saat ini tulisannya masih berwarna putih. Nanti, secara bertahap kita buat pakai lampu warna warni seperti Dataran Engku Hamidah,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, Selasa (14/1).

Pemasangan papan nama museum ini masuk dalam paket revitalisasi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dengan anggaran sekitar Rp 500 juta sudah berlangsung sejak November 2019 lalu.

“Saat ini ada beberapa kegiatan direvitalisasi museum ini. Seperti perbaikan plafon gypsum lantai 1. Kemudian perbaikan lantai parkir, pintu, dinding, serta pemasangan AC,” terang Ardi.

Ia mengatakan revitalisasi gedung bekas Astaka MTQ ini memang diperlukan karena jarang digunakan. Padahal lokasi ini selalu menjadi incaran wisatawan jika melewati Alun-Alun Engku Putri Batam Centre. Pihaknya menargetkan bulan ini pengerjaan revetalisasi museum rampung.

“Kami perkirakan akhir bulan ini revitalisasi selesai. Biar kita langsung mempromosikan ke wisatawan baik domestik atau mancanegara,” ucap mantan Kabag Humas Sekdako Batam itu.

Selain itu papar Ardi, Museum Raja Ali Haji Batam mengusung konsep linimasa. Di mana perjalanan sejarah Batam sejak masa Kerajaan Riau Lingga hingga saat ini tergambar dalam museum.

Bahkan, cerita sejarah Batam ini dituangkan dalam bentuk dua dimensi. Foto-foto tiap masa ditempel di dinding museum secara berurutan. Dari Kerajaan Riau Lingga, Belanda, Temenggung Abdul Jamal, Jepang, masa Kemerdekaan Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kepri, Otorita Batam (OB), BJ Habibie, lalu Kota Administratif, masuk Sejarah Astaka, dan Khasanah Melayu.

“Termasuk masa pembangunan infrastruktur atau Batam sekarang semua bisa dilihat di sini (Museum). LAM juga akan memberikan benda-benda pusaka sejarah Melayu,” jelas Ardi.

Museum ini juga akan diisi berbagai benda yang terkait dengan kebudayaan masyarakat Melayu di Batam. Seperti peralatan tradisional, upacara adat, pakaian adat, peninggalan sejarah, hingga keramik-keramik kuno.

“Ada banyak benda bersejarah yang bisa diketahui ketika mereka berkunjung ke Museum Batam,” bebernya.

Ardi mengatakan kehadiran museum ini diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Sekaligus untuk memenuhi kebutuhan warga Batam dalam mendapatkan informasi seputar sejarah peradaban di Batam.

“Selain menjadi destinasi wisata. Museum ini juga sebagai edukasi bagi pelajar di Batam,” harap pria kelahiran Selat Panjang itu.

Sebelumnya, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Fitra Arda sudah meninjau museum yang berlokasi di Dataran Engku Putri.

Menurutnya, museum milik Pemerintah Kota (Pemko) Batam ini tergolong baru. Namun demikian ia yakin akan berkembang ke depannya. Karena posisi Batam yang strategis, dan lokasi bangunan museum yang juga sangat mudah dijangkau.

“Memang semuanya itu harus dimulai dulu. Ke depan saya yakin akan lebih baik. Karena tempatnya juga di pusat kota,” ucapnya.(hbb)