Lingga

Pengangguran di Lingga Tercatat 1.722 Orang

Jajaran BPS Lingga mengekspos Data Strategis Kabupaten Lingga tahun 2019. (Posmetro.co/mrs)

LINGGA, POSMETRO.CO: Tahun 2019 pengangguran di Kabupaten Lingga tercatat 1.722 jiwa oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lingga, ketika menggelar ekspos data strategis Kabupaten Lingga tahun 2019 di ruang rapat Kantor BPS, Rabu (4/12).

Kegiatan ekspos melibatkan para awak media baik dari media cetak, elektronik dan on line tersebut di buka secara resmi oleh Kepala BPS Lingga Sumarmono didampingi pemateri oleh Arief Hidayat, Desneli Irma dan Iman Radiansyah juga sama-sama dari BPS Lingga.

Sumarmono mengaku baru pertama kali melaksanakan Ekspose Data Strategis Kabupaten Lingga bersama awak media, namun mereka akan melakukan kembali pada momen-momen lainnya terkait dengan BPS.

“Kegiatan ini kami mohon partisipasi awak media Kabupaten Lingga dalam mengekspos data strategis yang ada di BPS, sebab tahun 2020 BPS melakukan pendataan besar-besaran, tentang data strategis terbaru secara nasional,” ungkap Sumarno.

Memasuki materi, pemaparan di serahkan Sumarmono ke Arief Hidayat, yang memaparkan potret kemiskinan Kabupaten Lingga salah satunya tentang pengangguran.

Ketika menyampaikan tentang potret pengangguran di Kabupaten Lingga, Arief Hidayat mengatakan, tahun 2019, jumlah penduduk di Kabupaten Lingga berjumlah 89.781 jiwa, dengan jumlah pengangguran 1.722 jiwa.

“Tingkat partisipasi angkatan kerja Provinsi Kepulauan Riau tahu 2019, Kabupaten Lingga 65,34 persen. Struktur lapangan pekerjaan pertanian 43,03 persen, jasa 34,07 persen, dan manufaktur 22,90 persen,” kata Arief Hidayat.

Dari 1.722 jiwa jumlah pengangguran di Kabupaten Lingga, 23 persen adalah perempuan dan laki-laki 77 persen.

Menurut data statistik mereka di lapangan, ketika melakukan pendataan, tingkat partisipasi kerja masyarakat yang pendidikannya rendah tinggi sebab mereka bekerja apa saja tidak memilih.

“Pendidikan rendah mereka bekerja apa saja, tanpa harus memilih-milih pekerjaan tidak seperti masyarakat kita yang pendidikannya di atas SLTA, mereka memilih pekerjaan yang pantas sesuai dengan pendidikan,” jelasnya.

Dari 1.722 jiwa jumlah pengangguran itu, penduduk termasuk angkatan kerja ialah, penduduk usia kerja atau mempunyai pekerjaan namun sementara tidak bekerja dan pegangguran.

Penduduk yang termasuk bukan angkatan kerja sambung Arief, penduduk usia kerja yang masih sekolah, mengurus rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lain selain kegiatan pribadi.

“Bekerja adalah kegiatan untuk memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan minimal selama satu jam berturut-turut tanpa terputus dalam seminggu,” sebutnya.

Jadi katanya lagi, tingkat partisipasi angkatan kerja (TAPK) adalah persentase jumlah angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT), adalah persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja.

Disinggung apakah permasalahan ketersediaan lapangan kerja minim di Kabupaten Lingga membuat angka pengangguran bisa meningkat, Arief tidak berani berbicara jauh, karena menyangkut pemerintahan daerah, cuma mereka melakukan pendataan di lapangan.

“Di hitung pengangguran itu warga di usia kerja yaitu 15 tahun ke atas (angkatan kerja). Sedangkan di bawah 15 tahun (bukan angkatan kerja) tidak di hitung dalam pendataan angkatan kerja BPS. Kalau bicara permasalahan lapangan pekerjaan, itu tanahnya pemerintah daerah,” imbuhnya.

Berdasarkan Indikator Ketenaga Kerjaan Kabupaten Lingga Tahun 2018 lalu. Penduduk usia kerja 64.878 orang. Angkatan kerja 43.061 orang. Bekerja 41.491 orang. Pengangguran 1.570 orang. Bukan angkatan kerja 21.817 orang. TPAK 63,37 persen. TPT 3,65 persen dan pekerja tidak penuh (PTP) 16.380 orang.(mrs)